Patah hati di Ramadan hari pertama (end)

Many places I have been
Many sorrows I have seen
But I don’t regret
Nor will I forget
All who took that road with me

Night is now falling
So ends this day
The road is now calling
And I must away

Malam itu saya sedang rebahan di sofa kesayangan sambil mengamati keriuhan di linimasa Twitter saya, saat saya mendapat notifikasi dari salah satu WhatsApp Group yang saya ikuti. Ternyata dari Simbok Venus.

Simbok: Teh Nit, Ibu Penyu itu Vindhya ya?

Saya: Iya, Mbok

Simbok: Innalillahiii

Saya: APA? KENAPA?

Saya langsung bergegas membuka tab mention akun Vindhya, dan menemukan tautan ini:

 

//platform.twitter.com/widgets.js

Ada apa ini?! Saya kembali ke group dan mendapati kabar bahwa Vindhya Sabnani alias Ibu Penyu, meninggal dunia.

Siapa Vindhya Sabnani? Ipink, biasa dipanggil demikian, adalah salah satu pejalan yang termasuk sering saya ikuti kabar perjalanannya. Saya kenal Ipink dari Twitter, kemudian ke Instagram, kemudian kami bergabung di dalam satu WhatsApp Group yang sama. Saya bukan kawan dekat Ipink, tapi Ipink selalu membuat semua orang merasa dekat dengannya. Her smile, her laugh, her joyful and kind spirit were contageous.

And now, she’s gone. Heaven has called one of their most precious angels home. Leaving us.

Beberapa hari setelah mendapat kabar tersebut, saya menghadiri pemakaman Ipink. Di hari pertama puasa Ramadan. Saya sudah berjanji, tidak mau menangis. Hati saya sudah patah sekali hari itu, saya tidak mau patahkan lagi.

Ternyata saya salah. Hati saya patah lagi. Bukan, bukan lagi karena kepergian Ipink. Tapi karena selama prosesi pemakaman, saya melihat hati-hati lain yang patah. Terutama hati kedua orang tua Ipink.

Melihat ayahanda Ipink membuka peti jenasah perlahan. Berlutut di bagian kepala. Membisikkan doa bagi anak perempuannya yang terlampau cepat pulang. Melihat kerut wajahnya saat menangis.

Melihat ibunda Ipink, duduk di dekat peti jenasah. Tatapannya kosong menerawang. Seolah tanpa emosi. Tapi sebagai sesama ibu, saya mungki bisa dibolehkan berkata, “I think I kinda know how she feels.” Dukacita yang begitu kuat sampai tidak bisa dibahasakan dalam kata-kata dan mimik wajah.

Pagi ini hati saya patah saat bersalaman dengan seorang bapak dan seorang ibu yang kehilangan putri mereka. “Maafkan salah-salahnya ya, titip doakan terus,” isak sang bapak sambil mengenggam erat jemari saya saat kami bersalaman. “Ipink anak baik, Pak. Semua sayang sama dia,” sahut saya. Ayahanda @vindhyaaa semakin terisak dan saya melangkah menjauh, tak cukup bernyali untuk menemani lebih jauh kepedihan seorang bapak yang kehilangan putrinya. . . “Ini pasti teman traveler juga ya,” sambut sang ibunda saat menyambut salam saya. Ibunda yang selama prosesi pemakaman menatap jasad anaknya ditimbun tanah dengan tatapan menerawang. . . Di sekitar saya air mata tumpah ruah dari para pelayat. Sesekali terdengar tawa saat membicarakan polah Ipink semasih hidup. Ah, mengapa kami harus berkumpul dalam sebuah pemakaman begini. . . Selamat istirahat Ibu Penyu. Semoga kita diperkenankan berjumpa lagi dalam keadaan baik di sebelah sana. Sisakan cerita buat kami yang di sini nanti ya. Kami butuh senyum dan tawamu, tapi surga nampaknya ingin juga menikmatinya. Baik-baik di sana ya. Titip doa buat hati-hati patah hari ini ke Tuhan..

A post shared by Nita Sellya – Gusti (@nitasellya) on

//platform.instagram.com/en_US/embeds.js

They say no parent should bury their children. But then again, life happens.

//platform.instagram.com/en_US/embeds.js

Saat mendapat kabar duka soal mereka, pas banget saya lagi denger lagu ini. Sedihnya makin pol-polan.

PS: Berita tentang kematian Ipink dan Sobar, sahabatnya, dan siapa mereka bagi pariwisata terutama di wilayah Flores, bisa dibaca di sini.

Patah hati di Ramadan hari pertama (bagian 1)

Pagi ini hati saya dua kali patah. Puasa hari pertama dan dihiasi air mata. Patah hati pertama adalah saat saya menyadari hari ini adalah peringatan 11 tahun gempa Jogjakarta 2006. What, 11 years ago already? Saya masih ingat detilnya seperti baru setahun lalu terjadi.

27 Mei 2006 jam 05.45 saya terbangun dengan malas di Hotel Sahid Raya Jogjakarta. Saya baru masuk kamar jam 01.30 dan tidur sekitar jam 02.00. Pagi itu harus bangun pagi-pagi karena agenda perjalanan masih banyak dan dimulai segera setelah sarapan. Saya baru saja meraih ponsel saya untuk menghubungi keluarga di rumah saat saya mendengar suara gemuruh.

Hal pertama yang saya pikirkan, “Merapi!” Karena beberapa hari sebelum kedatangan saya ke Yogyakarta, Gunung Merapi sedang batuk lumayan parah. Gemuruh disusul segera dengan guncangan yang tanpa basa-basi. Televisi di meja kamar bergeser dan bruk! jatuh. Saya membeku. Kawan sekamar saya sudah berteriak menyebut nama Tuhan sambil menangis. Tidak lama kemudian saya melihat gatis tipis retakan muncul di tembok di depan saya. Saya menatap langit-langit kamar sambil berpikir, “Jadi hari ini saya mati?”

Suara gemuruh terasa muncul dari mana-mana dan guncangan belum juga mereda. Saya berusaha bangun dengan sempoyongan. Perjalanan dari kasur ke pintu kamar hotel terasa sangat jauh dan sulit. Setengah perjalanan saya menuju pintu, guncangan dan gemuruh mereda. Di lorong hotel terdengar banyak teriakan doa dan panik.

 

//platform.twitter.com/widgets.js
Segera setelah guncangan selesai, saya kembali ke kamar, masuk ke toilet. Lah ngapain? Pakai beha, lah. Tidur mana enak kalau pakai beha yes, jadi semalem saya copot dulu, pakai daster, dan sebelum keluar kamar baru saya pakai lagi.

Aaanyway. Di halaman hotel sudah berkumpul para tamu. Ada yang berpakaian lengkap, ada yang cuma handukan, ada yang menangis, ada yang bengong, ada yang berdoa. Yang saya salut, pihak hotel dengan cepat menyiapkan teh manis hangat dan mengeluarkan bermacam roti untuk dibagikan ke tamu. Mengurangi shock.

Kami baru berkumpul di halaman hotel mungkin selama 30 menit ketika terdengar teriakan-teriakan dari jalan raya, “AIIR! AIIR! TSUNAMII! TSUNAMIII!

 

//platform.twitter.com/widgets.js
Saya langsung terduduk lemas. 26 Desember 2004 terjadi gempa hebat yang disusul oleh tsunami di Banda Aceh, saya menyaksikan kedahsyatannya melalui televisi. Dan hari ini nampaknya saya akan merasakannya langsung.

Kepanikan pecah. Beberapa orang memanjat atap bus dan pohon, sepasang lelaki dan perempuan jongkok berpelukan sambil menangis, seorang bapak langsung menarik anak dan istrinya memasuki mobil mereka dan bersiap pergi.

Saya? Pasrah. Duduk di parkiran sambil menyalakan rokok dengan gemetar. Udah sih gak bisa berenang, tsunami pula. Mau ngelawannya gimana?

Dan di sini saya menyaksikan kesigapan pihak hotel Sahid Raya Jogjakarta dalam menenangkan tamu. “Tidak ada air, tidak ada tsunami, aman semua!” teriakan para staff hotel bergema di antara kepanikan. Butuh waktu cukup lama untuk bisa meyakinkan kami, terutama karena di jalan raya terlihat orang-orang berlarian panik.

Tour leader rombongan saya menanyakan, apakah tour mau dilanjutkan atau pulang? Kami semua memilih pulang. Perjalanan keluar dari Jogjakarta tidak mudah. Jalanan dipenuhi manusia dan kendaraan. Di sana lah saya mulai mendapat “teaser” hasil gempa tadi. Bangunan runtuh, banyak motor lalu lalang membawa korban berdarah-darah. Saya menutup gorden jendela bus. Hati saya sakit. Saya mau pulang.

Sinyal telepon mati sama sekali, tak peduli mau sebagus apa providernya. Kami pulang dalam diam dan doa. Tidak ada suara lain selain isak tangis dan dengungan doa.

Sampai di Cilacap baru kami berhenti untuk istirahat dan makan malam. Menyaksikan berita televisi dan sms bertubi-tubi yang masuk (sinyal baru ada lagi), kami ternganga. Ratusan (saat itu masih dalam angka ratusan) korban jiwa, entah berala yang kehilangan tempat tinggal dan orang-orang yang mereka cintai. Terbersit dalam pikiran saya, “kami nyaris saja jadi sekadar angka.”

Hingga 2 tahun ke depannya, saya masih terlonjak kaget setiap mendengar suara gemuruh sekecil apapun, merasakan guncangan sepelan apapun. Selama 2 tahun ke depannya saya bersikukuh meletakkan sebuah tas bepergian di sebelah kasur saya di rumah, berisi pakaian, obat, air minum, dan makanan.

Pagi ini, hati saya patah mengingat kejadian tersebut. Mengingat isak tangis supir kantor saya yang istri dan ketiga anaknya (termasuk anaknya yang baru berusia sebulan) tewas tertimbun reruntuhan gempa. Mengingat betapa kecilnya saya sebagai manusia saat berhadapan dengan alam. Mengingat lebih dari 3.000 nyawa yang melayang hari itu.

//platform.twitter.com/widgets.js

(bersambung)