SEAtrip Day 8: Khao San Road

Pagi ini saya dan host saya berpisah di stasiun Sukhumvit. Saya sendiri turun di stasiun Si Lom, berganti dengan BTS menuju Saphan Taksin. Rute menuju Khao San Road yang terbaik, tercepat, dan termurah, adalah dengan mengulangi rute saya ke Chao Phraya River kemarin. Hanya saja kali ini saya langsung turun di Phra Atit Pier. Harga tiket dengan Tourist Boat seharga THB 25. Keluar dari Phra Athit Pier, saya menyebrangi jalan dan berbelok ke kanan. Menyusuri jalan Phra Athit Road sebentar, kemudian belok kiri pada tikungan pertama. Jalan ini tembusnya nanti ke jalan di belakang Wat Chanasongkram. Mentok jalan, belok kiri lagi. Di sebelah kanan jalan adalah tembok Wat Chanasongkram. Di jalan ini banyak penginapan juga, cuma kelihatannya lebih mahal kebanding di Khao San.

Telusuri jalan, mentok di jalan raya. Di seberang saya adalah Soi Rambuttri. Soi Rambutrri ini bersebelahan dengan Khao San Road. Saya belok ke kanan dan berjalan sejauh mungkin lima puluh meter. Di sebelah kiri saya melihat ada pos polisi. Nah di sebelah pos polisi ini adalah Khao San Road.

Hal pertama yang saya lakukan di Khao San adalah mencari penginapan murah. Lumayan sulit ternyata. Kebanyakan kamar disewa dalam hitungan minggu, bulan, bahkan tahun. Saya mendapatkan kamar seharga THB 180/malam untuk single bed shared bathroom di sebuah guesthouse bernama Dio Guesthouse. Letaknya agak masuk ke dalam sebuah gang kecil.

Setelah membayar kamar dan meletakkan barang, saya mampir ke sebuah toko bertuliskan “Laundry” tepat di depan gang Dio Guesthouse. Laundry di daerah sini berharga sama, sebesar THB 30 per kilo. Kemudian saya menyusuri jalan Khao San mencari money changer. Banyak sekali money changer di sini, mungkin di setiap sepuluh meter ada satu money changer. Yang memiliki rate terbaik ada tidak jauh dari guesthouse saya.

Khao San di siang hari sudah cukup ramai dengan para pedagang dan turis, kata teman saya mulai jam 7 malam nanti keadaannya akan lebih chaotic lagi. Mari kita lihat nanti ^_^

Jam menunjukkan pukul dua siang saat saya selesai online melaporkan perjalanan saya lewat twitter dan mengerjakan beberapa pekerjaan lainnya. Saya memutuskan untuk istirahat sebentar. Tidur.

Saya terbangun sekitar jam 5 sore. Setelah mandi dan membereskan tas, saya keluar. Pertama yang saya cari adalah… makan sore XD Laper! Dan tujuan saya adalah…. Burger King 😀 Yang bermasalah dengan makanan di Thailand adalah, serba gurih. Sementara saya lagi pengen banget sama rasa asin. Akhirnya saya beli sepaket burger lengkap dengan kentang goreng dan menaburkan banyak garam di kentangnya 😀

Sambil makan, saya melihat perubahan Khao San Road yang saya lihat di siang hari dengan sore hari. Pedagang2 dengan gerobak masing2 mulai bermunculan. Rata2 menjual sate sosis, bakso, atau daging. Para penjual pakaian, aksesoris, panti pijat juga mulai menurunkan armadanya ke jalan. Riuh sekali. Saya menyusuri dua sisi Khao San Road, kemudian berbelok ke Soi Rambuttri. Keadaannya juga sama, hanya saja di Soi Rambuttri masih terhitung lebih hening kebanding Khao San. Keadaan Khao San saat itu mengingatkan saya dengan pasar mingguan di Gasibu, Bandung 😛

Di depan sebuah tempat pijat, saya tergiur juga untuk mencoba pijatnya. Kata teman saya, tidak lengkap kalau ke Thailand tanpa mencoba Thai Massage. Saya memilih Thai Massage setengah jam seharga THB 100. Wogh mantap. Kayak diajak akrobat, ditekuk sana tekuk sini. Kayaknya sendi saya kretekan semua jadinya. Apalagi otot bahu yang menggendong ransel seharian.

Jam sebelas saya kembali menyusuri Soi Rambuttri. Ada tukang durian yang saya incer, jualannya. Bukan tukangnya. Beli durian tebal dan lembut seharga THB 60 (kurang lebih Rp. 20.000. Kalau di Indonesia kayaknya harganya bisa di atas Rp. 40.000 saking tebalnya). Kemudian kembali ke penginapan. Abis pijat kayaknya enak kalau tidur 😀

Setelah makan durian, saya tertidur kemudian terbangun lagi jam 3 pagi. Keadaan sudah sedikit lebih sepi, tapi masih terdengar suara hous music di luar. Karena [enasaran, saya memutuskan untuk keluar.

Di luar sudah tidak terlihat jalanan lagi. Meja dan kursi kafe2 yang bertebaran di Khao San sudah memakan tempat hingga ke tengah jalan. Di beberapa sudut ada beberapa wisatawan yang muntah-muntah karena mabuk. Merasa tidak terlalu nyaman dengan suasana tersebut, saya memutuskan kembali ke penginapan. Menurut pemilik penginapan, tiap malam keadaannya seperti itu. Mau sedang peak season atau low season sama saja. Dan biasanya para pemilik kafe dan pedagang2 di sana termasuk juga penginapan, membayar sejumlah uang kepada mafia jalan agar mereka bisa buka tempat mereka non stop sampai pagi hari. Karena semestinya jam malam sudah berlaku mulai jam 2 pagi. Nah para mafia ini akan membayar kepada polisi setempat supaya pelanggan mereka bisa terus beroperasi.

Masuk ke kamar, saya merem lagi. Dan baru terbangun sekitar jam 7 pagi.

SEAtrip Day 7: Bangkok

Pagi ini rencana saya adalah menaiki river boat di sepanjang Chao Phraya River dan mengunjungi beberapa kuil (Wat). Dari tempat host saya, saya naik MRT ke Si Lom, dan berganti BTS ke arah Saphan Thaksin. Di LRT saya (yang dasarnya kepo) menegur seorang bapak-bapak bule yang duduk sendirian. Awalnya dia seolah tidak mendengar saya. Kemudian saya teringat dengan nasib muka lokal saya, jangan2 saya dikirain scammer T___T Kemudian saya menjelaskan bahwa saya datang dari Indonesia dan ini adalah kunjungan pertama saya ke Bangkok. Baru dia mau menoleh dan menyahuti saya. Dia berasal dari Hawai, tinggal di Bangkok sekitar satuh tahun. Kebetulan dia juga pergi ke arah yang sama, dia bilang dia akan menunjukkan kepada saya di mana letak dermaga yang saya cari untuk mengarungi Chao Phraya.

Kami turun di Saphan Thaksin, mengambil pintu keluar di sebelah kanan. Begitu turun langsung disambut kesibukan Central Pier Chao Phraya. Beliau menunjukkan bahwa dermaga yang saya cari ada di sebelah kanan. Setelah berterima kasih, saya menghampiri loket yang bertuliskan Tourist Boat Rive Cruise. Tiket untuk persinggahan tak terbatas dari Central Pier hingga Phra Athit Pier (Pier No. 13) seharga THB 150, sedangkan untuk yang sekali jalan, berharga THB 25 setiap naik. Karena tidak banyak dermaga yang hendak saya kunjungi, saya memilih tiket sekali jalan yang bisa dibayarkan di loket tersebut atau di perahu saat ditagih nanti.

Wat pertama yang saya singgahi bernama Wat Kanlayanamit di mana ada patung Buddha dalam posisi duduk, besar sekali dan dilapisi dengan emas.

dari Wat Kanlayanamit, saya berbelok ke kanan, menyusuri pinggiran sungai sekitar dua ratus meter untuk mengunjungi Santa Cruz Church. Sayangnya saat itu karena belum waktu ibadah sore, gereja masih ditutup.

Dari Wat Kanlayanamit saya meneruskan perjalanan ke Wat Arun. Jangan lupa memberi tahu pada penjaga dermaga bahwa kita mau menaiki Tourist Boat, supaya dia bisa memanggilkan Touris Boat berikutnya yang lewat. Saya dilewati begitu saja oleh dua Tourist Boat karena mereka kayaknya menyangka tidak ada penumpang dari dermaga tersebut.

Di dermaga Tha Tien. saya turun dan langsung mengantri masuk ke sebuah ferry yang akan membawa saya menyebrangi sungai Chao Phraya menuju Wat Arun. Harga tiket ferry THB 3 saja.

Sampai di Wat Arun saya memasuki area kuil. Agak kaget saat melewati petugas, mereka meminta tiket masuk kepada para wisatawan kulit putih, rupanya untuk wisatawan asing ada tiket masuk seharga THB 50. Karena muka saya muka lokal, maka saya bebas masuk tanpa membayar.

Wat Arun memiliki dua pilar yang bisa kita naiki. Saya hanya sampai di pilar pertama. Sudah ngeri duluan lihat tangga menuju pilar kedua yang nyaris vertikal dan masing-masing anak tangga cukup tinggi.

Yang unik dari lokasi Wat Arun adalah para penjual suvenir bisa berbahasa Indonesia dan dagangannya bisa ditawar. Saya membeli es kelapa muda dari seorang penjual yang mengatakan harganya hanya THB 30 alias, “Sepuluh ribu saja.” Quoted verbatim 🙂 Saya menawar sedikit dan harga kelapa muda segar itu berubah menjadi THB 20 alias, “Enam ribu saja.”

Dari Wat Arun saya menyeberang kembali ke Tha Tien Pier. Niatnya berkunjung ke Wat Pho, di mana ada patung Buddha dalam posisi berbaring santai terbesar di Thailand. Sebelumnya saya mempir dulu ke pasar Tha Tien membeli sepiring pad thai untuk mengisi perut seharga THB 50 dan air mineral botolan seharga THB 10.

Saya mengobrol dengan seorang bule perempuan dari Australia, dia bilang kalau mau ke Wat Pho, sebaiknya turun di dermaga Maharaj. Dengan demikian saya bisa memulai kunjungan dari Grand Palace, Wat Phra Kaeo, dan berakhir di Wat Pho. Saya pikir mungkin ada baiknya demikian karena toh kalau nanti saya turun di Maharaj Pier, saya akan tiba di Tha Tien Pier lagi.

Ada kejadian sedikit menyebalkan di sini yang bikin saya marah2 setengah mati. Berbarengan dengan saya menunggu Tourist Boat menuju Maharaj Pier, ada rombongan besar yang menyewa dua Tourist Boat. Saat perahu mereka merapat ke dermaga, perahu yang saya tuju (setelah menunggu setengah jam) juga tiba. Karena rombongan ini lamaaaa bener angkut penumpang mereka yang rata2 pada asik sendiri jalan dengan santai, Tourist Boat yang saya tuju merapat di samping mereka untuk menurunkan penumpang dengan cara menyebrangi perahu mereka. Nah waktu saya mau naik, saya dimarahi oleh tour leader mereka, katanya ini bukan perahu buat saya. GUA JUGA TAU! Saya jelaskan saya mau menyebrang perahu mereka untuk menaiki perahu yang saya tuju, sambil menunjukkan ke arah perahu saya di sebelah perahu mereka. Tapi kelihatannya mereka terlalu sibuk mengurusi grup mereka, mereka tidak mengerti yang saya maksud. Saat saya berhasil menaiki perahu mereka untuk menyebrang…. perahu saya sudah pergi.

“Great! Now they left! Do you know how long I’ve been waiting to get to that boat? Happy now?!” Karena cuaca sangat panas, kepala saya sakit, saya jadi emosi dan ngomel2 ke tour leader mereka yang hanya bengong melihat saya. Sebuah keluarga dari Iran juga mengalami hal serupa dengan saya, dan bapaknya juga ngomel ke tour leader tersebut.

Saat itu sudah menjelang jam 14.30. Sementara Grand Palace ditutup jam 15.30. Ketika Tourist Boat berikutnya datang, jam sudah menunjukkan jam 15.00. Akhirnya saya memutuskan untuk berbalik arah kembali ke Central Pier. Host saya ngajak ketemuan di Central World.

Dari BTS Saphan Taksin, saya menuju stasiun Siam. Dari sana berjalan menuju exit 6 ke Central World. Lumayan jauh juga ternyata. Kalau yang di Jakarta suka mengeluhkan jauhnya jarak halte TJ Dukuh Atas ke halte transit, yang ini paling gak dua kali lebih jauh jaraknya.

Setelah menemui host saya dan kami mampir ke sebuah kafe, dia mengajak saya ke Victory Monument. Victory Monument ini semacam Bundaran HI kalau di jakarta kayaknya sih, tempat Red Shirts berdemonstrasi. Salah satu bagian dari Central World pernah terbakar habis saat mereka demonstrasi besar-besaran.

Di Victory Monument, kami mampir untuk makan malam di Victory Park, membeli semangkuk mie rebus berlimpah potongan daging dan jeroan seharga THB 30 dan air mineral seharga THB 10.

Dari Victory Monument kami langsung pulang, dan besok saya akan meneruskan perjalanan ke salah satu Highlights of Bangkok: Khao San Road

SEAtrip Day 6: Haad Yai-Bangkok

Jam enam pagi saya terbangun, ngeloyor ke toilet dan wastafel untuk cuci muka dan gosok gigi, lalu memesan sarapan pagi. Sarapan pagi terdiri dari dua lembar roti bakar polos, sebungkus selai jeruk, selembar ham, satu telor ceplok, tiga batang kecil sosis dan tiga iris apel. Lumayan buat ganjal perut. Sementara pemandangan di luar masih menunjukkan pepohonan, bukit, dan sawah. Gak terlalu btertarik, soalnya di Jawa juga banyak 😛
Jam 7 pagi sudah terdengar suara dari berth atas. Rupanya Mo Khom dan ibunya sudah bangun. Jam 8 petugas datang menghampiri, menanyakan apakah tempat tidur mau dilipat. Karena saya pikir perjalanan sudah dekat, ya saya setuju saja untuk lipat kursi. Saya dan pasangan ibu anak tersebut kembali duduk berhadapan, dan kembali ditingkahi ocehan nonstop bocah itu X( Benertan non stop. GAK PERNAH berhenti sama sekali. Saat narik napas aja dia masih ngoceh.
Saat melintasi satu stasiun, saya membaca daftar stasiun yang dilewati kereta menuju Bangkok.
Loh… Kok jam segini masih di stasiun A? Saya telusuri lagi timetable dan memperkirakan bahwa di saat kami semestinya sudah tiba di Bangkok, ternyata kami masih….4 jam perjalanan jauhnya dari Bangkok. Yaelaaa parah amat sik telatnya :((
Dan saya makin setres dong denger ocehan bocah di depan saya. Akhirnya saya ke gerbong restorasi, ngopi. DI gerbong ada delapan orang bule terbagi dua meja. Saya duduk membelakangi mereka. Tidak lama saya mendengar keributan di salah satu meja. Tampaknya satu remaja bule itu keberatan dikenai biaya penuh untuk paket makan pagi sementara ada bagian yang tidak dia ambil. Perdebatannya lumayan sengit. Petugas dan pelanggan sama-sama keukeuh. Kalo kata saya sih, salah sendiri gak ngambil full aja, trus yang gak dimakan kasih ke temennya 😛 Gak ngerti pemecahannya gimana, tapi melihat kadar kesel si bule, kayaknya dia tetep harus bayar penuh.
Balik ke gerbong saya melewati mereka. Bule tadi masih ngomeeeel aja XD dia ngomel di lorong sambil beresin tasnya yang nyaris setinggi saya. Saat melewati mereka, gak sengaja saya kesandung tali ranselnya, reflek saya bilang, “Ooops, sorry about that.”
Tapi kayaknya dia gak denger dan nyangkain saya penduduk lokal. Dia bilang, “Yeah yeah just step on my bag and walk away you weird locals.”
Wogh, ngajak berantem.

Saya puter badan, dan saya bilang, “Sorry, I’m not one of the locals unfortunately. I am from Indonesia, and I have apologized for stepping on your backpack, which if you’re not too busy complaining about the locals, you might have heard.”
Merah booook mukanya :)) Entah karena marah atau tengsin, saya gak ambil pusing. Saya langsung pergi. Males ngurusin turis cemen tukang ngambek kayak gitu.
Karena sumpah saya stres denger suara Mo Khom, si bocah yang duduk di depan saya, saya pindah gerbong sekalian XD. Untungnya ada gerbong yang tempat tidurnya masih tersusun. Saya masuk aja ke situ, tutup hordeng. Tidur lagi XD
Saya terbangun menjelang jam 2 sore, saat itu kereta sudah mulai memasuki wilayah pinggiran Bangkok. Kereta memasuki stasiun Hua Lamphong tepat jam setengah 3 sore.
Dari situ saya langsung pesan tiket untuk pergi ke Nong Khai tanggal 11 dan tiket balik ke Haad Yai tanggal 28.
Ternyata Eriko, host saya dari CouchSurfing.org baru bisa ketemu sekitar jam 6 sore. ya sudah saya jalan ke Chatuchak Weekend Market aja dulu. Rame! Banget! Gede! Banget! Kalap sekalap-kalapnya liat babi panggang di mana-mana :))
Saya gak lama di Chatuchak. Panas dan bising. Ditambah bahu saya udah mulai pegal bawa ransel. Jam 5 saya kembali menaiki MRT menuju Lumpinee Park. Taman terbesar di Bangkok. Lalee yang menyarankan saya berkunjung ke sana. LUmpinee Park ini kalau pagi dan sore dipakai untuk tempat jogging, latihan tai chi, meditasi, atau piknik. Terutama di Sabtu dan Minggu.
Jam 6 kurang saya menaiki MRT menuju stasiun Lat Phrao untuk menemui host saya.
Malam ditutup dengan makan mie goreng, dan ….. ES KRIM MAGNUM! Yaelah di Bandung gak dapet-dapet, sekalinya dapet malah di Bangkok :)) Harganya beda 2 ribu lebih mahal di sini lah kira-kira.

SEAtrip Day 5: Menuju Haad Yai (lagi)

Karena sudah pernah menjalani, saya tidur aja sepanjang jalan. Bangun sekitar jam 8 ketika hampir tiba di Padang Besar Border. Saya berkenalan dengan Yarkha dan Felix, dua pasang kekasih dari Jerman. Yarkha sangat ramah dan gemar ngobrol, sementara Felix walaupun sama ramahnya lebih banyak diam. kami saling bertukar pengalaman perjalanan. Mereka akan menetap di Phuket selama tiga minggu. Ini adalah perjalanan mereka yang ke tiga ke Thailand. Orang bule kayaknya seneng banget ya sama Thailand 🙂
Yarkha juga bercerita tentang OktoberFest. Festival bir tahunan Jerman yang beken itu. Dia bilang, kalau mau ke Jerman dan datang ke OktoberFest, jangan dateng bulan Oktober justru. Datengnya pertengahan September. Karena OktoberFest justru diadakan mulai pertengahan September hingga awal Oktober. Bukan sepanjang Oktober.
Kami berpisah sejenak saat proses imigrasi. Saya sempat mengobrol dengan salah satu petugas imigrasi yang mengenali saya, “Hey, weren’t you here the other day?” Saya nyengir aja. Kami kemudian mengobrol tentang ketidakberuntungan saya yang salah beli tiket waktu itu, hingga perjalanan dia ke Indonesia. Ke mana? Bandung dong XD
Karena kereta baru akan kembali sekitar satu jam lagi (tukar lokomotif katanya sih) saya naik ke atas, ke kafetaria kecil untuk sarapan. Karena terletak di perbatasan, bisa bayar pakai RM atau THB. saat sarapan saya ngobrol dengan dua orang warga Malaysia. Kedua bapak ini membawa rombongan ibu-ibu untuk berwisata ke Haad Yai. Saat tahu saya dari Indonesia, mereka juga bercerita tentang kunjungan mereka beberapa kali ke Indonesia. Ke Bali, jakarta, dan…. BANDUNG! XD
Sekitar sejam kemudian lokomotif datang. Saya langsung naik ke gerbong. Perjalanan dilanjutkan tanpa hambatan ke Haad Yai setengah jam kemudian.

SEA trip Day 4: Kuala Lumpur. Again.

Baru jam setengah tujuh pagi waktu KL, dan udah ada aja yang mau scamming. Mendadak cowok lusuh berwajah semi india duduk di sebelah dan tau-tau nanya yang intinya apakah saya bisa berbahasa Melayu. Saya bilang mungkin. Tau-tau dia nyerocos soal baru keluar dari penjara dan butuh uang, cukup RM1 saja. Saya mendadak berasa di Jakarta lagi di mana sering di angkot tau-tau naik orang berbaju lusuh dan punya cerita yang sama. Saya tolak dengan halus dengan mengatakan bahwa saya sendiri baru kehilangan tiket (ya…in a way kan emang gitu ceritanya…). Untungnya orang tadi tidak maksa. Kalau maksa ya paling saya teriak-teriak aja sih 😛

Mendadak inget kalau di KL Sentral ini katanya ada shower room alias bilik mandi. Saya pikir kali aja bisa menghapus kekesalan karena kesalahan bodoh yang saya lakukan kemarin dengan mandi. Sebelumnya saya mampir dulu ke loket KTM Antarabandar untuk membeli tiket ke Hat Yai (lagi) Hiks….. Melayang RM48.

Kemudian saya turun ke level 1, berbelok ke kanan, belok kanan lagi, kemudian belok kiri dan mengikuti petunjuk arah yang tertera di dinding. Eh ternyata bener ada bilik mandinya.

kamar mandinya ada di gang masuk di sebelah ujung tumpukan kardus.

Ada beberapa harga berbeda bila kita butuh peralatan mandi layaknya handuk dan sabun. Tapi karena saya sudah bawa semuanya, saya hanya perlu fasilitas mandi seharga RM5. Saya diberi kunci untuk ruang gantinya. Sempat mengalami kesulitan saat hendak mengunci pintu, hingga kemudian salah satu petugas menghampiri saya untuk membantu.

Dia mengatakan supaya saya membuka semua pakaian dan langsung libetan handuk menuju tempat mandi, supaya pakaian saya tidak basah. Dia juga menawarkan untuk menguncikan pintu saat saya mandi. Saya yang dasarnya curigaan, kekeh tetep mandi dengan pakaian lengkap dan baru akan melepasnya di ruang shower, juga kekeh nungguin dia ngunciin pintu ruang ganti dan membawa kuncinya ke ruang shower sekalian setelah dia selesai menguncikan. Mungkin petugas tersebut sebenarnya memang bermaksud baik, tapi berada di negeri orang dan sendirian, saya tidak berani ambil resiko.

Updated:

Yak, jam delapan pagi dan saya masih punya 12 jam. Tadinya sih mau mampir2 ke mana dulu, tapi kesel akibat salah beli tiket itu masih rada membekas di hati, jadinya saya males ke mana-mana. Nongkrong bolak-balik minta listrik dan wifi di dekat loket penitipan barang. Menjelang tengah hari, salah satu petugas yang saya temui di shower room melewati saya. Rupanya dia masih mengingat saya.

“Hey Nita, what are you still doing here?” sapanya ramah

“I am waiting for my train to Haad Yai.”

“Tonight you come down to shower room lah, you can have shower again, don’t worry.”

Saya sih cengar cengir aja. Kok rasa agak gak enak denger orang nyuruh saya mandi 😀 Suudzon aja sih, tapi namanya di negara orang ya mesti hati-hati juga.

Yah akhirnya seharian saya jadi mirip Tom Hanks di The Terminal, mondar mandir gak keruan.

Menjelang jam 5 sore, sehabis dari toilet saya melangkah ke tempat saya biasa ngamprah. Udah siap nih, colok kabel laptop, buka laptop, duduk di lantai. Baru lima menit duduk, ada petugas yang nyamper.

“Cik, can not use this,'” katanya. Saya bengong. Heh? Kemaren2 gak papa. Tapi saya nurut aja sih. Beberes sambil bilang makasih, pindah ke KFC, nyolok di sana. Kayaknya saya keseringan nongkrong di titik tadi, mereka jadi gerah liatnya XD

Jam 6 sore, ada yang manggil saya. Awalnya saya sih cuek aja, lah perasaan gak ada kenalan juga di sini. eh ternyata bapak petugas yang tadi nyuruh saya mampir buat mandi nyamperin saya.

“Hey, I looked everywhere for you. Come come, you can take shower now.”

Waduh… nolaknya gimana? Akhirnya saya ikut turun aja ke tempat mandi sambil mikir ini enaknya gimana ya..

Di tempat shower saya diberi tempat ganti yang sama, kemudian beliau menunggu di luar. Akhirnya saya belagak mandi aja. Buka keran shower sedikit, trus lama-lamain sambil basahin rambut dikit. Abisnya gak enak gitu perasaan.

Selesai “belagak” mandi, saya keluar. Si bapak masih menunggu dengan setia di kursinya. Rada merasa bersalah juga sih karena udah curigaan. Akhirnya kami jadi ngobrol-ngobrol. Ternyata beliau pernah ke Bandung. Lembang dia bilang. Ih banyak bener orang Malaysia yang main ke Bandung XD Sekitar jam 7an saya pamit untuk naik ke peron. Beliau meninggalkan nama dan nomor teleponnya. Katanya kalau balik ke Kuala Lumpur lagi, bisa hubungi dia nanti dia ajak muter-muter. Baiklah 🙂

Saya balik ke KFC, modal beli kentang RM4 nungguin kereta ke Haad Yai.

Keretanya dateng jam 21.15 tepat. Berangkat deh.

SEA trip Day 3: Kuala Lumpur – Hat Yai

Perjalanan ke Hat Yai dimulai jam 21.15 dari KL Sentral. Berhubung perjalanan malam dan siangnya saya sudah capek, maka nyaris seluruh perjalanan saya habiskan dengan tidur pulas. Sekitar jam 8 pagi kami tiba di stasiun Padang Besar yang merupakan perbatasan antara wilayah Malaysia dan Thailand. Cap paspor sebentar, kemudian saya pergi ke ruang tunggu di luar untuk menunggu kereta yang sama yang akan membawa saya ke Hat Yai. Keretanya menurut masinis tadi akan dibersihkan dulu sebelum lanjut ke Hat Yai. Setelah menunggu sekitar setengah jam, kereta tersebut kembali dan saya kembali naik ke gerbong dan kursi yang sama. Dan kembali tidur. Entah kenapa saya ngantuk banget rasanya.

2nd class seater Ekspress Senandung Langkawi KL-HYJ

Tidak terasa saya tertidur sekitar satu jam. Pas bangun ternyata kereta masih juga berada di stasiun Padang Besar entah kenapa. Akhirnya kami berangkat setelah sekitar dua jam transit di Padang Besar. Jadwal ketibaan yang semestinya jam 9an pagi tiba di Hat Yai, molor hingga jam 12an.

 Stasiun Padang Besar

Di Hat Yai saya langsung ke loket untuk membeli tiket ke HUA LAMPHONG, BANGKOK. Saya diberi selembar kertas kuning yang ditulis dengan tangan yang ternyata adalah tiket kereta. Tanpa memeriksa ulang saya membayar dengan THB 450 dan diinformasikan bahwa kereta berangkat jam 4 sore.

Tiketnya T___T

Berhubung masih ada waktu beberapa jam, saya celingukan cari toilet. Ternyata toilet di sini ada showernya. Yay! ^_^

Segar rasanya mandi setelah seharian kemarin bersimbah peluh berjalan kaki keliling kota dan semalaman nempel di kursi kereta. Biaya ‘sewa’ shower adalah THB 10.

Saya memutuskan untuk menitipkan ransel cilik saya ke tempat penitipan tas, sehargga THB 20, dan melangkah keluar stasiun.

Hat Yai ternyata kota yang lumayan ramai. Di mana-mana terdapat tempat makan dan toko emas. Bagi teman-teman yang muslim, jangan takut. Tepat di depan stasiun Hat Yai ada restoran makanan halal, dan juga di beberapa tempat di Hat Yai lainnya.

 Makan siang: Nasi Babi Panggang ^_^
Tempat makan halah di depan Stasiun

Setelah puas berjalan-jalan, saya kembali ke Hat Yai Junction untuk menunggu kereta. Tulisan cakar ayam di tiket kereta membuat saya garuk-garuk kepala dan bertanya ke beberapa petugas mengenai jam keberangkatan dan lokasi platform kereta.

Sekitar jam 15.45 saya menaiki kereta. Saya lihat keretanya sama dengan yang saya naiki dari Kuala Lumpur tadi. Saya pikir oh mungkin ini memang kereta terusan.

Sekitar jam 16.00 kereta berangkat. Dan saya dong lagi-lagi ketiduran.

Saya terbangun ketika masinis mengatakan “Padang Besar, Padang Besar. Please get off from the train for your immigration procedure.”

HLOH? KENAPA SAYA KEBAWA KEMBALI KE PADANG BESAR?

Perasaan mulai gak enak nih…

Saya masuk bersama penumpang lainnya ke imigrasi Thailand. Dan mendapat cap EXIT FROM THAILAND.

What the….

Dari bilik imigrasi Thailand, kami masuk ke bilik imigrasi Malaysia. Di sana saya ditanyakan mau tinggal di Malaysia berapa lama?

WHAT? I JUST LEFT FROM THERE THIS MORNING!

Saat berusaha menjelaskan situasi kepada petugas imigrasi yang juga kebingungan lihat saya semi panik. Saya menoleh kembali ke tiket yang saya pegang.

Dan di sana tertulis tujuan: KUALA LUMPUR

YAIKS!

Rupanya petugas penjual tiket di Hat Yai salah dengar ucapan saya. HUA LAMPHONG disangka KUALA LUMPUR.

Hadeuh gimana dong dong dong..

Ya akhirnya saya pasrah aja. Kereta menuju Hat Yai baru ada lusa pagi. Kereta yang saya tumpangi ini. Dan paspor saya sudah kadung dicap EXIT FROM THAILAND juga.

Akhirnya dengan separuh marah, kesal, dan malu pada diri sendiri, saya memutuskan untuk… kembali ke KL Sentral *sigh*

HIlanglah RM 96 dengan sia-sia (saya beli tiket KL Sentral-Hat Yai seharga RM48. Dua kali balik ya seharga RM96), dan juga THB 450 (karena tadi saya salah beli tiketnya)

Dan sekarang saya sedang menuju kembali ke KL Sentral T________________T

Pelajaran berharga: BACA BAIK-BAIK TIKET DI TANGAN

Ya ya ini bodoh sekali. Sekitar Rp. 500rb terbuang sia-sia, padahal saya berangkat dengan bajet super tipis yang nyaris tidak mengijinkan terjadi kesalahan seperti ini. Tsk.

Anyway, mari kita lihat saja bagaimana perjalanan saya ke depannya.

 Dini hari di KL Sentral *sigh*

SEA trip Day 2: Kuala Lumpur

Hari ini dimulai dengan…bangun siang 😀

Saya merem mulai jam 12an malam, dan melek lagi sekitar jam setengah sembilan. Eh masih pagi itu mah ya?

Anyway. Hari ini dimulai dengan sarapan di sekitar Setiawangsa jam sebelasan. Karena sudah menjelang jam makan siang di Kuala Lumpur, kayaknya perut saya ikut menyesuaikan. Makan (telat) pagi dengan sepiring nasi lemak dengan lauk rendang ayam, telur ceplok, dan gulai kambing, serta segelas air kosong (di sini segelas air putih disebut air kosong) cukup dengan mengeluarkan uang sebesar RM 5.80.

Karena Maria punya janji temu dengan teman lain, maka saya dan Lalee memutuskan untuk pergi berjalan-jalan seputar KL saja sampai sore. Maria menurunkan kami di stasiun Rapid KL Cempaka, dan di situlah petualangan saya dan Lalee dimulai. Oh saya dan Maria berpisah di sini karena saya akan langsung ke KL Sentral sorenya untuk naik kereta Ekspress Senandung Langkawi ke Hat Yai, Thailand jam 21.15.

Kami memutuskan untuk turun di stasiun Mesjid Jamek. Saya dengan pedenya memutuskan untuk langsung saja jalan-jalan tanpa menitipkan ransel kecil saya (kecil sih, gak sampai 7kg gitu) di loker di KL Sentral. Keluar dari stasiun Mesjid Jamek, kami turun dan melangkah ke Merdeka Square (Independence Square) yang terletak beberapa blok dari sana. Konon bendera Malaysia yang berkibar tinggi di lapangan ini tidak pernah diturunkan sejak kemerdekaan Malaysia di tahun…….. Terus terang saya dan Lalee gak percaya sih, bersih gitu loh 😀

Di bagian ujung Independence Square ini ada sebuah lapangan luas yang kalo perkiraan saya dipakai untuk upacara bendera besar *search on this). Di ujung satunya Independence Square ada sebuah  taman kecil, lengkap dengan tiga kolam berair mancur. Tidak besar, namun memberi kesan sejuk. Ditambah lagi tempatnya diberi atap dan ada tempat duduk dari batu mengelilingi kolam-kolamnya. Kami memutuskan untuk istirahat sebentar sambil saya mengistirahatkan bahu yang ternyata pegal 😀

Lalee berasal dari Belanda. Saya berjumpa dengannya di rumah Maria, host saya. Kunjungan kali ini adalah yang ketiga kalinya ke Asia Tenggara. Dia sendiri sudah berkeliling hingga ke Timur Jauh dan Afrika. Pengetahuan Lalee tentang Kuala Lumpur bahkan diakui oleh Maria sangat besar. Lalee bisa dibilang hapal semua jalan dan tikungan di kota itu. Kami berkeliling hingga sore hari tanpa memakai peta sama sekali dan hanya dua kali salah belok. Hanya satu kekurangannya, Lalee takut nyebrang jalan 😀 Sementara saya yang sudah lumayan biasa menyebrangi jalan di Jakarta dan Bandung yang ‘brutal’ sih santai aja. Berasa nyebrang jalan di rumah sendiri.

Kelar istirahat di Independence Square, saya dan Lalee memutuskan melanjutkan perjalanan kembali ke Mesjid Jamek. Mesjid tertua di Kuala Lumpur ini yang letaknya hanya beberapa meter dari stasiun. Ternyata kunjungan untuk umum hanya dibuka setelah jam setengah dua siang. Kami memutuskan untuk melanjutkan langkah menuju Chinatown dan Little India. Baru beberapa langkah saja ternyata punggung dan bahu saya sudah menyerah kalah 😛 Saya akhirnya mengatakan pada Lalee bahwa saya akan mampir sebentar ke KL Sentral dan menitipkan tas, Lalee mengatakan dia akan menunggu saya di sekitar Mesjid Jamek. Buru-buru saya menaiki LRT menuju KL Sentral, menitipkan ransel, dan berlari kembali mengejar LRT arah balik ke Mesjid Jamek.

Di seberang Mesjid Jamek saya berjumpa lagi dengan Lalee, kemudian melanjutkan perjalanan ke Little India. Sebelumnya saya menyempatkan diri membeli manisan mangga seharga RM1 dan setusuk sate otak-otak dan sate sosis seharga masing-masing RM1. Dengan bekal sebotol air mineral yang saya isi ulang di rumah Maria, kami melanjutkan perjalanan. Lumayan buat mengganjal perut saya yang mulai gelisah.

Area Little India di Kuala Lumpur jauh lebih kecil bila dibandingkan yang di Singapura. Jalan kaki sepuluh menit saja sudah selesai kami menyusuri Little India. Lalee membawa saya menyebrangi jalan menuju Chinatown. Chinatown di sini juga tidak seramai dan sebesar yang ada di Singapura. Yang paling bekennya ya Petaling Street. Pusat belanja semacam Pasar Baru kalau di Jakarta.

Menurut teman saya kurang afdol kalau ke Kuala Lumpur tanpa berkunjung ke Central Market, maka kami pun berbelok ke Central Market.

 Lalee
Saya

Dari Chinatown, kami kembali berjalan menuju Mesjid Jamek. Lalee sangat penasaran karena sudah dua kali dia datang ke sini dan gagal berkunjung. Untuk memasuki Mesjid Jamek wajib untuk perempuan memakai kerudung dan pakaian tertutup.

 Lalee dan kerudung serta jubahnya
 Saya

 Sudut peminjaman jubah dan kerudung, gratis

Dari Mesjid Jamek kami berbelok ke arah Jalan Pudu Raya. Jalan Pudu Raya ini dulu terdapat sebuah terminal besar bis antar kota. Di sekitarnya bisa kita lihat banyak penginapan-penginapan yang menawarkan harga hingga RM25 per malamnya. Menurut Lalee, dulu jalan ini sangat penuh, sesak dan selalu macet oleh bis-bis besar dan taksi. Kini setelah Terminal Pudu ditutup dan sedang dalam proses dipindahkan ke Bukit Jalil, jalan rayanya menjadi lengang. Saya kepikiran penginapan-penginapan murah yang sulu mendapatkan tamu dari pengunjung yang turun di Terminal Pudu dan sekarang sepi dengan tamu. Gimana ya cara mereka bertahan nanti?

sepinya Jalan Pudu

Di ujung Pudu Raya, tenggorokan saya mulai gelisah. Haus. Cuaca saat itu memang terasa sangat panas. Kami memasuki sebuah restoran India. Lalee memesan seporsi roti canai polos yang datang beserta kuah kari, sementara saya hanya memesan segelas es teh tarik. Segarnya menikmati segelas besar teh tarik dingin. Lalee sendiri ternyata lapar dan memesan porsi roti canai yang kedua XD

es teh tarik

Dari Pudu kami meneruskan berjalan ke wilayah Bukit Bintang. Tadinya mau berkunjung ke Pavillion, tapi karena Lalee lupa di mana lokasi tepatnya, kami memutuskan untuk berjalan ke Suria KLCC Park saja.

Tiba di Suria KLCC Park kami mengistirahatkan kaki kami sejenak, rasanya pegal sekali setelah dibawa berjalan kaki nyaris selama enam jam nonstop. Saya dan Lalee berpisah di Suria KLCC Park. Lalee kembali ke tempat Maria, dan saya meneruskan ke KL Sentral di mana saya akan melanjutkan perjalanan ke Hat Yai Thailand.

Dan di mana kebodohan pertama saya terjadi. Baru mau ke negara ke dua padahal T___T

SEA Trip Day One: Bandung – Kuala Lumpur

Saya sebenernya pualing susah bangun pagi. Tapi karena pesawat yang jamnya lebih siang lebih mahal, pilihannya hanya yang paling pagi atau paling malam. Saya pilih yang paling pagi dengan pertimbangan sepanjang siangnya kan saya bisa ngapa-ngapain dulu.

Tiba di Bandara Husein Sastranegara jam setengah enam pagi dengan keberangkatan pesawat jam 06.55 pagi. Kabar baik, petugas check in memberitahu saya bahwa sekarang fiskal sudah tidak dikenakan lagi, baik untuk pemegang NPWP (kalau ini sudah sejak tiga tahun lalu) maupun yang tidak memegang NPWP.

Penerbangan Bandung-Kuala Lumpur sejatinya memakan waktu kurang lebih 2 jam 5 menit, tapi mungkin karena cuaca sangat cerah, kami tiba di KL 20 menit lebih cepat dari jadwal. Yang menarik adalah nyaris separuh penumpang adalah pemegang paspor merah, alias paspor Malaysia. Kelihatannya mereka habis liburan dari Bandung. Kalau kita masih banyak yang pakai Air Asia untuk bepergian, teman-teman di Malaysia juga masih banyak yang jalan-jalan ke Bandung buat liburan. Jadi ngapain sih berantem? #abaikan #terdistraksi

Keluar dari pesawat, awalnya saya mau foto pesawatnya, namun diberi kode oleh salah petugas bahwa di sana tidak boleh popotoan. Ya sudah gak jadi.

Turun dari pesawat langsung menuju imigrasi bagian Foreign Passport. Mungkin karena sudah bukan masa liburan lagi, atau masih kepagian, saat itu bagian imigrasinya nyaris kosong dari antrian. Ditanya sebentar tujuan ke Malaysia, berapa lama, dan tinggal di mana, dapet cap deh.

Keluar dari LCCT (Low Cost Carrier Terminal) saya langsung naik ke Sky Bus (tiketnya sudah langsung beli satu paket dengan tiketnya) siap menuju Kuala Lumpur Sentral (stasiun kereta pusat), perjalanan sepanjang sekitar satu jam setengah saya tempuh dengan…tidur XD Ngantuk bok, bangun jam 4 pagi.
 

pemandangan keluar dari LCCT

Di KL Sentral saya langsung naik ke lobi menuju tempat penyimpanan tas. Lumayan RM3 bisa nitip tas sampai jam 10 malam, dari pada bawa-bawa ransel. Setelah titip ransel, saya langsung ke loket Intercity yang letaknya pas di depan penitipan barang. Beli tiket kereta untuk berangkat ke Hat Yai, Thailand tanggal 4 jam 21.15 malam. Perkiraan tiba di Hat Yai sekitar jam 9an pagi esok harinya.
Saya pilih kelas yang duduk, bukan yang sleeper. Pertimbangannya: lebih murah 😀

Dari KL Sentral, saya menuruti saran teman saya untuk jalan-jalan di Petaling Street. Turun ke bawah, isi kartu Touch and Go yang dipinjami Yustin teman saya di Bandung sebesar RM10. Kemudian langsung menuju pintu masuk jalur Kelana Jaya. Sempet nyaris salah masuk gate, karena saya kira ke Petaling Street itu turunnya di stasiun Petaling. Ternyata bukan, turunnya di stasiun Pasar Seni, hanya satu menit perjalanan dengan LRT dari KL Sentral.

Berhubung saat itu sudah jam makan siang (saya tiba di KL Sentral sekitar jam 11.30 siang), sebenernya udah mau nangis liat makanan di KL Sentral. Tapi ya itu, mehel 😛 Mendingan beli di warung-warung pinggir jalan deh.

Naik LRT tujuan Pasar Seni, begitu turun saya langsung gak nahan lihat menu Pork Noodle di semacam food court chinese food tak jauh dari stasiun Pasar Seni. Duduk, pesan. Tidak lama datanglah seporsi mi babi beserta air mineral. Untung saya pesannya porsi kecil, karena ternyata yang kecil aja udah bikin kenyang. Sebelum pesanan diantar, ditanya mi babinya mau yang kuah atau goreng dan minya mau mi kuning atau mi putih. Saya pilih yang berkuah dan mi kuning. Pesanan datang, bayar. Hanya RM 5.50.

Rasa mienya sendiri menurut saya agak mengecewakan sih, kurang MSG :)) Tapi ya lumayan lah buat ngembaliin tenaga yang udah tinggal satu bar.

Dari food court itu ke Petaling Street tidak jauh, hanya jalan melewati dua lampu merah. Lampu merah ke dua, lihat ke kiri and there it is, ditulis besar-besar PETALING STREET.

Petaling Street ini kalau di Jakarta mungkin Pasar Baru ya. Banyak yang jual souvenir, baju, tas, sepatu dan lain-lain. Muter-muter sambil ngunyah chestnut. Chestnutnya sendiri seharga RM20 per kilo, tapi males amat makan kacang sekilo. Akhirnya saya beli RM5 saja, itupun masih belum abis sampai sekarang 😛

Dari Petaling Street, saya balik ke stasiun Pasar Seni menuju Suria KLCC Park. Suria KLCC ini pusat perbelanjaan elit di KLCC, berdempetan dengan Petronas Twin Tower, dan bagian depannya ada taman terbuka nan luas dan sejuk. Saya cuma mampir sebentar ke tamannya, muter-muter. Sempet ngobrol sama dua pelancong dari Belanda yang sedang transit dalam perjalanan mereka menuju Laos dan Taiwan.

Membosan di Suria Park, saya balik ke stasiun KLCC untuk kembali ke KL Sentral.

Berhubung janjian ketemuan dengan hostnya masih jam 5 sore, sedangkan saat itu baru jam setengah 3, saya memutuskan untuk menunggu saja di KL Sentral.

Satu hal yang saya suka dengan KL Sentral, traveler friendly sekali. Dalam arti wifi dengan kecepatan lima kali lipat dari koneksi kabel di kosan saya (hai Speedy), dan colokan di mana-mana 😀 Yang gak saya suka itu toiletnya. Toilet yang terletak di dekat gerai KFC itu becek dan bau. Toilet yang saya masuki sebelumnya digunakan oleh seorang perempuan (yaeyalah) berwajah India dan ternyata…..dia belum siram setelah doing number two. Ewwwhhh.

Selesai ke toilet, saya ambil ransel saya dari tempat penitipan barang, kemudian ngegelosor di lantai. Buka laptop, konek ke wifi. Anteng loh sampai jam setengah limaan. Lumayan daripada bengong gak tau mau ngapain. Saya mah asal ada koneksi internet dan colokan, anteng kok. Coba aja #eh

Jam setengah lima saya memutuskan untuk turun ke jalur LRT menuju stasiun Setiawangsa, tempat janjian dengan host saya, Maria. Perjalanan sekitar 20 menit saja.

 view from Jelantek station

Dan sekarang saya lagi leyeh-leyeh di sofanya Maria 🙂

Dinner with Maria

Day one complete.

Let’s see what day two brings tomorrow, shall we?