pernah bermimpi, duduk di teras bersamamu. kita memandang matahari terbenam, dengan cangkir kopimu di tanganmu, dan cangkir tehku di bibirku.

dan kemudian, itu hanya menjadi mimpi.

untuk sekali lagi saja
aku ingin kembali memeluk mimpi
di mana kita saling mencinta

untuk kemudian terbangun
dan menyimpan mimpi itu baik-baik
di sudut pecahan hatiku

ketika mencintai bisa begitu melumpuhkan, mengapa melupakan bisa begitu mematikan?

aku rindu matahari.
sudah lama sinarnya memudar.

matahari merindukan langit
begitu jauh di luar jangkau

matahari, tahukah kamu
setiap cercah sinarmu adalah napasku
setiap hangat pancarmu adalah nyawaku

kembalilah bersinar, matahari
walau untuk itu, kau hanya bisa berada di pelukan langit

dan bukan di sini, bersamaku.

selamat pagi, matahari
hari ini, aku ingin menatapmu lagi
dan terbakar hingga menjadi debu

SEAtrip Day 13: Laos-Vietnam

Perjalanan lanjut lagi. Kalau kabar yang saya dengar pengemudi bisnya sering ugal-ugalan, kali ini saya sepertinya mendapat pengemudi yang berhati-hati. Perjalanan tidak terasa membahayakan. Kami berhenti lagi entah di mana sekitar jam 2 pagi. Bis baru jalan lagi jam 5 pagi. Rupanya 4 jam tersebut dimanfaatkan untuk istirahat bagi pengemudi.

Perjalanan makin lama makin menanjak. Rupanya kami memasuki wilayah pegunungan. Udara makin dingin, kabut perlahan semakin tebal. Hinggap pada suatu titik, jarak pandang hanya sekitar beberapa meter ke depan. Di pinggir jalan jurang pun tertutup kabut sehingga tampak seolah tidak ada jurang di sana. Padahal saat kabut sedikit tersibak, saya bisa melihat jurang yang sangat terjal. Jam 7 pagi kamni tiba di Nam Phao, perbatasan Laos.

Saya dan beberapa turis bule tadi disuruh turun sendiri untuk cap paspor. begitu keluar, kami disergap kabut tebal disertai angin dan hujan rintik-rintik. Termometer yang dibawa salah satu turis argentina menyatakan saat itu suhu mencapai 9 derajat celcius.

Tiba di kantor imigrasi, keadaannya kacau sekali. Kernet bis serobot2an untuk bisa menyetorkan paspor penumpangnya. Ternyata untuk warga lokal, penyetoran paspor dilakukan oleh kernet bus. Sementara untuk orang asing dilakukan sendiri. Saat kami kebingungan melihat jubelan orang, tiba-tiba seseorang yang saya kenali sebagai kernet bus kami menghampiri dan meminta paspor kami. Setelah dikumpulkan, dia langsung merangsek maju ke kerumunan tersebut dan meletakkan paspor kami di depan petugas. Oh rupanya caranya gitu XD

Tidak lama kemudian saya menuju loket di sebelah untuk mengambil paspor saya dari petugas perempuan yang lebih bersahabat kebanding petugas pengecapan imigrasi di loket sebelah. Rupanya ada biaya yang disebut Exit Stamp sebesar USD 2. Saya heran juga waktu para bule itu bilang mereka gak tau kalau mereka harus bayar. Lah kan di berbagai situs traveling sudah dituliskan. Makanya saya sengaja siapin USD 1 sebanyak beberapa lembar.

Lepas dari keriuhan dan kekacauan di “gedung” imigrasi, kami berjalan kembali ke bis. Saya bahkan sudah tidak bisa bernapas saking kencang dan dinginnya angin. sampai di bis saya megap-megap cari napas. Saat salah seorang ibu di bis yang ramah (selalu tersenyum bila bertatapan dengan saya) memberi saya tissue dan menunjuk hidung saya, saya baru sadar saat itu saya mimisan. Saking dinginnya.

Tidak lama kemudian bis bergerak kembali. Perjuangan belum usai. Saya masih harus menempuh perbatasan Vietnam.

Bis berjalan kembali dengan perlahan sekitar satu kilometer menyeberangi no man’s land. Kabut benar-benar semakin tebal. Jarak pandang saat itu mungkin hanya satu atau dua meter.

Tidak lama kemudian kami disuruh turun lagi. Perbatasan Vietnam.

Saya dan beberapa turis tadi masuk ke gedung imigrasi dan menyerahkan paspor kami ke Desk for Foreign Passport. Sambil menunggu paspor dicap, saya bertanya pada salah seorang petugas di mana letak toiletnya. Dia menunjuk ke satu arah.

Saat saya masuk ke toilet…

Toiletnya terdiri dari empat kotak tanpa pintu. Semua toilet berbentuk jongkok mempunyai satu saluran air terbuka. Yang artinya kita bisa tau apa yang dikeluarkan oleh penghuni toilet di bagian ujung bila kita di salah satu toilet di sebelahnya 😐 Mana baunya…..

Ya udah lah saya bodo amat lah. Daripada nanti di jalan kebelet dan gak tau kapan ketemu toilet lagi..

Pengecapan paspor tidak berlangsung lama. Dikenakan Entry Fee sebesar USD 1. Entah kenapa petugas bersikap lebih ramah kepada saya kebanding dengan turis2 lain yang perempuan juga sekalipun. Mungkin karena saya juga tidak menunjukkan sikap menentang dan sombong, yang sayangnya saya lihat dilakukan oleh sebagian besar turis-turis barat kepada penduduk lokal. You don’t mess with immigration people.

Selesai cap paspor. Kami kami kembali menuju bis. Namun rupanya ada pemeriksaan barang sebelum bis bisa melewati perbatasan Vietnam. Kami disuruh membawa tas-tas kami dan menunggu bis di tempat terbuka, sementara para penduduk lokal diperbolehkan menunggu di gedung imigrasi.

Cuaca berkabut, hujan gerimis, angin kencang, suhu sekitar 9 derajat dan kami diminta menunggu di tempat terbuka. Saya memang pernah membaca cerita2 se”horor” ini di situs perjalanan. Tapi saya pikir, ah ini pasti bule-bule aja yang pada manja, bawaannya ngeluh melulu.

Tapi setidaknya untuk kasus ini, omongan mereka benar. Diskriminasinya kentara banget.

Sekitar dua jam saya dan turis2 asing ini menunggu. Hidung saya sudah mampet, gigi sudah bergemeretak, saya bahkan sudah tidak bisa merasakan jari jemari saya. Baru kemudian bis selesai diperiksa dan kami boleh naik kembali. Saya langsung menutupi seluruh tubuh saya dengan selimut. Jam sepuluh kami lepas dari perbatasan Vietnam. Dan masih sepuluh jam perjalanan lagi sebelum tiba di Hanoi.

Selama perjalanan saya bahkan sudah malas melihat ke luar. Pemandangannya sama aja kayak di Jawa. Sawah dan gunung. Malah kata saya sawah dan pegunungan di Jawa jauh lebih bagus dari pada di sini. Jam 1 siang kami berhenti di suatu tempat untuk makan siang. Tapi saya tidak napsu makan sama sekali. Akhirnya hanya mengobrol dengan turis2 dari Amerika tadi. Perjalanan dilanjutkan lagi jam setengah dua siang.

Kami memasuki Hanoi jam 8 malam. Terminal bisnya jauh di pinggir kota. Saat kami turun sudah diserbu oleh para pengemudi ojek dan taksi. Saya langsung memilih menyetop taksi Mailinh di luar terminal. Kata petugas hostel lebih baik pakai taksi itu, aman.

saat saya naik, pengemudi taksi tadi kelihatannya mengerti bahasa inggris. Tiba di hostel saya membayar dengan USD. Kalau dicurrencykan sekitar USD 8. saya berikan dia USD 10 kemudian saya minta kembalian dalam VND.

Rupanya pengemudi ini salah satu tipe scammer yang saya baca di internet. Giliran dimintai uang kembalian, belagak gak ngerti bahasa inggris.

Dalam posisi saya capek dan stres setelah perjalanan Vientiane-Hanoi, saya meledak emosi. Saya bilang, “YOU mister, will give me my money in Dong. Or I will scream from the top of my lung to gather everyone here. And we’ll make a wonderful scene. How about that?”

saya ngomong dengan muka lempeng, tapi dari nada saya kayaknya ketauan kalau saya udah siap-siap muntab. Akhirnya sambil misuh2 dalam bahasanya sendiri dia memberikan saya kembalian VND 40.000. Kalau dirupiahkan sekitar Rp 20.000. saya keluar sambil banting pintu.

Masuk ke Backpackers’ Hostel saya diberi kunci untuk loker di tempat tidur dan ditunjukkan lokasi kamar saya. Satu kamar terdiri dari delapan tempat tidur. Isinya malam ini hanya saya dan seorang pelancong muda dari Australia. Malam ini saya hanya ingin tidur dan istirahat. Capek. Banget.

SEAtrip Day 12 – Leaving Laos

Hari ini saya akan menaiki the ride from hell dari Vientiane ke Hanoi. Banyak berita yang saya baca di internet bahwa perjalanan ini tidak nyaman, lama (26 jam) dan mengerikan. Tapi murah.

Bis akan menjemput saya sekitar jam 5 sore. Jadi hari ini saya di penginapan hanya leyeh2 dan istirahat mempersiapkan stamina.

Jam setengah 6 sore jemputan saya datang, berupa mobil jumbo. Bersama saya ada beberapa orang lainnya yang juga pergi ke dengan travel agent yang sama.

Saat melihat bis kami, anggapan pertama saya adalah, lumayan. Mirip seperti bis antarkota di Jawa untuk kursinya. Bedanya adalah layout bis. Terdiri dari dua lantai. Lantai pertama adalah tempat supir, kenek dan bagasi. Sebenarnya ada toiletnya, tapi ketutupan berbagai macam barang jadi ya gak bisa dipakai. Seperti kebiasaan orang Vietnam, kami para turis diberi tempat duduk paling belakang. Saya bersama tiga orang turis amerika dan tiga orang turis argentina. Semuanya laki-laki. Ada dua orang lokal yang duduk di belakang. Satu bersama saya, satu lagi bersama si turis amerika. saya kesian sama mereka yang kakinya panjang2, sementara leg room di bus ini kecil sekali. Buat kaki saya aja nyaris ngepas.

Perjalanan baru mulai sekitar jam 7 malam. Jam sepuluh malam kami berhenti di entah di mana. Ada sebuah warung nasi kecil di sana tempat kami makan malam. Saya memanfaatkan kesempatan tersebut untuk ke toilet, karena gak tau di mana lagi bakal ketemu toilet. Saya membeli makan malam berupa nasi, tahu, dan tumis kembang kol seharga 50.000 kip. Enak masakannya.Yuk lanjut lagi perjalanannya.

Tips:

Di travel agent ada dua pilihan: Seating AC USD 18 dan VIP USD 30. Percayalah itu bisnya sama aja. ambil yang USD 18 aja. Salah satu turis Amerika yang bareng saya bayar USD 30 dan dia kaget saat tau saya hanya bayar USD 18.

Ada juga yang sleeper, USD 35. Sedikit lebih nyaman karena bisa tiduran. Kecuali kalau tinggimu lebih dari 170cm, itu bakal mesti nekuk kaki.

SEAtrip day 11: Around Vientiane

Pagi hari jam tujuh saya turun ke lobi, menyapa para petugas penginapan dan melangkah ke arah sungai Mekong. Kemarin niatnya mau liat sunset, tapi karena demam saya memutuskan untuk tidur saja. Tiba di bantaran sungai Mekong saya kaget. Sungainya jauuuuuh banget dari pinggiran. Yah gak banget sih, adalah dua ratus meter. Lah saya kirain udah bisa main-main air di sungai Mekong 😛

Piggiran sungai Mekong saat ini sedang direnovasi. Ditambahi jogging track, ada tempat bermain untuk anak-anak juga, dan ada tempat berjualan untuk pasar malam.

Saya menusuri bantaran sungai, kemudian kembali ke jalan raya. Di seberang salah satu taman di pinggiran sungai adalah istana kepresidenan. Rada kaget juga karena saya kira istananya bakal ada di tengah kota, ternyata di pinggiran kota. Gedungnya putih bersih. Bisa foto-foto, tapi hanya dari depan pos sekuriti, gak boleh masuk. Yaeyalah.

Kemudian saya berjalan lagi menuju penginapan. Satu gang sebelum penginapan, saya lihat ada papan bertuliskan Tourist Information Center- Free Internet. Wogh mayan nih. Dari pada bayar 100 Kip per menit. Saya mampir ke TIC itu. Tempatnya kecil tapi nyaman. Petugasnya saat itu perempuan semua dan mereka ramah-ramah. Saya diberi peta Vientiane gratis dan ditunjukkan tempat-tempat yang wajib dikunjungi di sini.

Setelah selesai memakai fasilitas internet, saya kembali ke penginapan untuk sarapan. Di lobi saya bertemu dengan James, rekan seperjalanan saya dari Bangkok kemarin. Kami sarapan bersama dengan beberapa orang lainnya sambil ngobrol-ngobrol. Selesai sarapan, saya dan James janjian buat ketemuan lagi di lobi buat keliling Vientiane. Dia kembali ke kamar untuk mandi, saya melangkah ke money changer yang saya lihat dekat Presidential Palace tadi. Memang agak jauh, tapi ratenya jauh lebih bagus kebanding money changer yang lain yang ada di sekitar situ. 1 USD = Kip 8.052

Jam sepuluh saya kembali ke penginapan, James sudah menunggu di lobby. Kami memutuskan untuk berjalan kaki saja. Tujuan pertama adalah That Dam atau the Black Stupa. Letaknya tidak jauh dari kedutaan US dan berada di tengah2 pemukiman. Saya sendiri gak nyangka kalau itu salah satu tempat wajib kunjung di VGientiane kalau gak kemudian liat ke peta yang kami bawa.

Berikutnya adalah Patuxai. Monumen yang bentuknya mengingatkan saya pada Arc de Triomphe. Sebenarnya kita bisa naik ke atas Patuxai dan kata petugas TIC tadi, kita bisa melihat pemandangan Vientiane. Biaya masuk dan naiknya Kip 5.000, cuma saat itu loket masih belum buka.

Dari Patuxai kami berjalan lagi menuju That Luang, Wat Ho Pakeo, dan Buddha Park yang semuanya ada di dalam satu wilayah. Lumayan jauh juga jalannya. Kalau gak salah perlu sekitar satu jam berjalan kaki. Mau naik tuktuk udah tanggung. Lagian James merupakan teman yang asik buat jalan bareng, banyak cerita 🙂

Dari info yang kami dapat, That Luang ini terlihat megah dan besar. Pas sampai sana, reaksi saya adalah: Heh? Udah nih? Cuma segini? XD

Tidak perlu waktu banyak juga buat berkeliling. Masih2 tempat ditarik bayaran Kip 10.000/orang. Sekitar jam 12 kami melangkah kembali ke penginapan. Semestinya matahari sedang terik-teriknya ya kalau jam segitu sih. Ini mah nggak kok. Matahari memang cerah, tapi hangat dan ditambah angin sejuk. Cuacanya mantep banget deh Vientiane.

Dalam perjalanan pulang kami mampir ke Morning Market. Saya membeli boneka gajah kecil dan James membeli kantong kecil untuk tempat iPodnya. Di Morning Market ini banyak dijual tenunan dan kerajinan tangan khas Laos.

Di pinggir Morning Market kami mampir ke sebuah warung kecil untuk makan mie kuah ala Laos. Harganya Kip 10.000 saja per porsi ukuran kecil. Ukuran kecilnya pun termasuk besar buat saya.

Dari Morning Market kami mengambil jalan memutar melewati Presidential Palace, kemudian kembali ke penginapan.

Hari baru menunjukkan jam satu lebih sedikit saat kami tiba di penginapan. Hanya dengan berjalan kaki setengah harian saja, kami sudah mengunjungi nyaris semua yang harus dikunjungi di Vientiane. Sekecil itu kotanya 🙂

Pulang ke penginapan saya langsung mandi. tidur sebentar. sorenya saya turun ke lobby untuk menggunakan fasilitas wifi. Jam 5 sore setelah meletakkan laptop kembali ke kamar, saya melangkah ke pinggiran sungai Mekong untuk melihat matahari terbenam. Sayang sekali saat itu cuacanya berawan. Jam enam sore saya kembali ke kamar. Tidur. Lagi 😀

SEAtrip Day 10: Vientiane

Pukul 05.40 (setengah jam lebih lambat dari jadwal) saya tiba di stasiun Nong Khai. Kalau menurut panduan perjalanan yang saya baca, bisa saja menunggu sampai jam 9 pagi untuk naik kereta menuju Thanaleng border di Laos. Tapi saya, Jenny, dan James gak terlalu pengen nunggu sampai sesiang itu di stasiun. Kami menaiki tuktuk bersama dua orang pelancong lain (satu bule, satu Thai). Kalau di papan petunjuknya, maka ongkos tuktuk ke perbatasan adalah THB 20, tapi pada prakteknya sih jadi THB 30.

Keluar dari stasiun, tuktuk membawa kami ke sebuah gedung bertuliskan Laos Visa. Saya membaca bahwa tempat2 ini membuatkan visa laos dengan harga berlipat ganda, maka kami bertiga dengan tegas menyatakan “Border.” kepada pengemudi tuktuk. Sambil menggigil kedinginan diterjang angin pagi kami berkendara selama kurang lebih sepuluh menit menuju imigrasi Thailand. Sampai di sana kami mengantri di depan loket imigrasi. Belum ada tanda-tanda akan dibuka sih, cuma ya langsung ngantri aja biar pas buka, langsung proses.

Ternyata kebiasaan nyelak antrian gak di mana gak di mana ya. Waktu ngantri dan asik ngobrol dengan Jenny, seorang laki-laki Thai tiba-tiba berdiri di samping saya. Pelan-pelan dia beringsut ke depan saya. Tidak lama seorang laki-laki lain (temennya) ikut berdiri di depan saya. Nyari perkara. Saya colek. Dia diem aja, belagak gila. Saya colek lagi dan saya teriak, beneran teriak, “Excuse me, where you HERE before? HELLOOOO?” Mereka belagak gak denger dan buang muka, tapi mukanya mulai tengsin. Saya gak pake ngomong apa-apa lagi, saya dorong mereka ke belakang. Jenny dan James juga ikut kesel. “Back there, dudes. The line starts back there,” kata Jenny ketus. Kalo gak inget ini negara orang lain, beneran saya dorong sampe jatuh kali mereka. Nyebelin banget liat mukanya X(

Di luar dugaan, ternyata imigrasi Thailand jam 6 pagi buka. Kirain kami masih harus nunggu sampai jam 7 atau 8. Prosesnya cepat sekali. Kasih paspor, cap sana sini, selesai. Dari imigrasi Thailand kami naik bus seharga THB 20 menuju imigrasi Laos, menyebrangi Friendship Bridge. Sebenarnya kayaknya bisa aja nyebrang jembatan itu dengan jalan kaki. Namun dengan suhu dan angin sedingin itu, males saya mah. Naik bus juga cuma 10 menitan.

Tiba di imigrasi Laos, saya ambil formulir Visa on Arrival. Isi dengan lengkap. Sertakan USD 30 untuk biaya Visa dan USD 1 untuk “Overtime Fee”. Saya sarankan pakai USD untuk bayar Visa, karena kalau bayar pakai THB kalau gak salah meroket jadi THB 2.000, yang kurang lebih sama dengan USD 50-60.

Setelah menunggu selama sekitar satu jam setengah, visa selesai. Seorang petugas akan memanggil nama kita sambil melambaikan paspor. Kalau tidak punya uang pas saat membayar Visa gak papa kok, mereka pasti ngasi kembaliannya dalam bentuk USD atau THB (tergantung mata uang apa yang kita pakai saat membayar).

Nah sambil nunggu visa jadi adalah saat yang tepat buat nyari temen berbagi jumbo (semacam taksi, muat untuk sekitar delapan orang plus bagasi) ke Vientiane. Kalau pergi sendiri harganya bisa THB 200-300. Nah kalo berbagi dengan yang lain, kita cuma perlu bayar THB 50.

Saya dan James memilih turun di Rue Norkeokouman untuk menginap di Mixay Guesthouse. Mixay Guesthouse ini banyak direkomendasikan oleh para pelancong. Harganya murah, pelayanannya bagus, petugasnya bisa bahasa inggris. Harga kamar dorm (terdiri dari beberapa tempat tidur dalam satu kamar) adalah USD 6. Harga kamar dengan satu tempat tidur ukuran singel USD 9. Kamar dengan satu tempat tidur ukuran dobel USD 11. Semuanya dengan kamar mandi di luar dan memakai kipas angin serta exhaust fan. Untuk kamar dengan satu tempat tidur ukuran dobel atau dua tempat tidur ukuran singel seharga USD 15, yang ini dengan kamar mandi dalam dan AC. Semua dapat sarapan, handuk diganti tiap hari, kamar dirapihin tiap hari. Top banget.

Btw, percaya deh, kalau datang di bulan Januari ke Vientiane, gak perlu AC. Kipas angin aja saya gak nyalain. DINGIN JEK.

Saya memilih satu kamar singel. Setelah naro barang dan mandi pake air panas, saya memutuskan buat muter2 Vientiane sedikit. Di jalan saya beli makan siang dari sebuah warung seharga 6000 Kip beserta nasi. Saya gak tau terbuat dari apa, yang pasti banyak daging dan urat yang bikin gigi saya ngilu karena nyelip-nyelip.

Oh ya mata uang Laos (LAK atau Kip) hanya bisa didapatkan di Laos. Dan begitu keluar dari Laos, maka mata uang ini tidak bisa digunakan atau ditukarkan sama sekali. Makanya jangan kalap nukerin uang, secukupnya aja. Saat ini nilai tukarnya adalah USD 1 = LAK 8.052 (Rate yang ini adalah yang paling bagus dari semua Money Changer di sepanjang pinggiran sungai Mekong. Namanya STB, letaknya pas sebelahan dengan Presidential Palace)

Nah gara-gara kena AC super dingin di kereta, ditambah cuaca dingin di Vientiane, saya malah kena demam. Flu tambah masuk angin. Jadi deh saya tidur sejak jam dua siang sampai jam 6 sore. Kebangun karena perut saya ngegeruyuk minta makan. Akhirnya saya beli popmi di sebuah mini market. Karena belum familiar sama mata uangnya, saya salah hitung. Saya pikir uang saya cukup untuk beli popmi dan satu snack kecil, ternyata kurang. EH lah si mbak di kasir mungkin kesian liat saya udah pucet dan menggigil ya. Dikasi diskon deh, jadi uang saya cukup XD

Balik ke kamar sambil makan popmi dengan kuah super panas. Lumayan bikin keringetan. Abis makan saya minum Decolgen yang tadi siang saya beli di salah satu minimarket, ketiduran sampai jam setengah delapan. Kemudian saya turun ke lobi untuk menggunakan wifi, soalnya kata petugas wifi hanya bisa di lobi.

Dasar orang baik banyak yang sayang ya, ngeliat saya batuk-batuk dan menggigil, tau-tau salah satu petugas nongol dengan membawa semangkuk besar mie khas Lao. Buat saya. Gratis. Kayaknya mereka kesian ama saya XD

Jam sembilan malam wifi dimatikan, sudah waktunya saya naik ke kamar. Waktunya tidur. Besok adalah waktunya jalan-jalan. Semoga demam saya sudah turun besok…

SEAtrip Day 9: Grand Palace and Leaving Bangkok

Pagi ini saya bangun jam 7 pagi, niatnya mau ke Grand Palace pagi hari supaya masih tidak terlalu ramai. Saya mengatakan pada pemilik penginapan bahwa saya akan check out hari ini jam 11 siang. Sebelumnya saya menyempatkan diri untuk mampir ke warnet, memberi kabar dan mengecek email.

Jam 8 pagi saya memulai perjalanan menuju Grand Palace. Dari Khao San saya berbelok kiri menyusuri jalan, kemudian menyebrang ke arah Sanam Luang. Taman ini sedang ditutup, nampaknya ada renovasi entah apa. Konon di taman ini sering ada kejadian di mana kita didekati oleh ibu-ibu yang membawa sekantung makanan burung, dan memaksa untuk dibeli. Kalau tidak dibeli, kita akan diteriaki dan dimaki-maki.

Di beberapa taman kecil di seberang Sanam Luang, saya melihat memang ada beberapa ibu-ibu membawa makanan burung, mungkin mereka yang dimaksud. Mereka terlihat menghampiri beberapa wisatawat kulit putih. Saya? Muka lokal, je. Selamet 😀

Setelah berjalan selama kurang lebih setengah jam, akhirnya saya tiba di Grand Palace. Gak akan nyasar kok. Dari jauh sudah kelihatan atap dan sebagian bangunannya. Besar dan  megah sekali.

Biaya masuk Grand Palace untuk wisatawan adalah THB 350. Lumayan mahal. Sekitar Rp 100ribuan. Saat saya berbelok ke arah loket tiket hendak membeli tiket, tiba-tiba ada petugas yang mengisyaratkan saya untuk langsung ke arah pintu masuk. Dia mengatakan sesuatu dalam bahasa Thailand yang saya gak ngerti, tapi saya nurut aja sih.

Dan ternyata… masuk ke Grand Place buat orang Thailand tidak dikenakan biaya, alias gratis. Sebagai pemilik muka lokal, tentu saja saya dianggap orang Thailand dan bisa masuk gratis saat itu 🙂

Dan komplek Grand Palace itu ya… besar dan megah banget! Detil-detil ukiran dan hiasannya bener-bener bikin saya bengong. Belum lagi kilau lapisan emasnya. Butuh waktu setidaknya satu jam untuk bisa mengelilinginya secara utuh dan teliti. Saya menghabiskan sekitar dua jam di sana. Sekitar jam sebelas saya melangkah kembali menuju Khao San. Sebelum kembali ke penginapan saya menyempatkan diri untuk mampir ke Wat Chanasongkram.

Kembali ke penginapan di Khao San untuk bersiap check out. Sebelumnya saya mampir ke tempat laundry untuk mengambil cucian saya. Tepat jam dua belas saya sudah berjalan lagi ke arah Phra Athit Pier untuk menumpangi boat biasa seharga THB 14 menuju Central Pier. Dari Central Pier saya naik BTS ke Sala Daeng Station dan berganti dengan MRT ke Hua Lamphong Stastion. Di sana saya menitipkan ransel saya di bagian Left Luggage di pojok belakang stasiun, dekat tangga naik menuju warnet. Biaya penitipan seharga THB 30. Berhubung kereta saya masih sekitar jam 18.45 dan saat itu masih jam 14.00, saya memutuskan untuk kembali menumpang MRT, kali ini menuju Lumphinee Park. Di hari pertama saya ke Bangkok hanya sempat berada di ta,man ini selama setengah jam, kali ini saya mau muas-muasin 😀

Saya turun di Lumphinee Station dan menyebrangi jalan menuju Lumphinee Park. Soal nyebrang jalan, di Bangkok sama aja dengan jakarta dan Bandung, bisa nyebrang jalan nyaris di manapun gak mesti di jembatan penyebrangan atau zebra cross.

Karena bukan weekend, Lumphinee terlihat lumayan sepi. Ini taman luas banget dan lumayan lengkap. Ada peralatan gym dan taman bermain anak-anak. Setelah berkeliling sebentra, saya memutuskan untuk duduk di salah satu kursi besi menghadap danau. Suasana tenang, angin sepoi, dan gemericik air memang paling top buat dipakai santai…. atau tidur 😀 Saya? Tidur dong ah. Lumayan deep sleep 10 menit saja, bangun2 badan berasa lebih segar. Sisa waktu saya habiskan dengan membaca buku Lonely Planet edisi lama yang saya beli di Khao San seharga THB 200.

Jam 5 sore saya kembali menuju Lumphinee Station untuk menaiki MRT kembali ke Hua Lamphong. Ketika memasuki stasiun kereta utama di Bangkok ini, kerasa banget suasana internasionalnya. Bule bertebaran di mana-mana. Sebagian duduk, sebagian berdiri, sebagian tidur-tiduran di lantai berbaur dengan warga lokal. Waiting hallnya luas sekali, dan sebagian orang yang tidak kebagian tempat duduk memilih untuk ngegelosor di lantai. Saya sih paling demen gelosoran begini (di KL Sentral ngegelosor seharian sampai diusir petugas). Hua Lamphong juga dilengkapi dengan shower dan toilet. Toiletnya banyak, jadi gak perlu ngantri lama. Showernya belum saya cobain. Mungkin nanti pada perjalanan pulang saya cobain ah. Agak terobsesi sama shower di stasiun XD

Di kanan dan kiri pintu masuk menuju jalur kereta ada papan elektronik besar yang menunjukkan kereta tujuan kita ada di jalur mana, atau kereta yang kita tunggu akan tiba jam berapa (dan berapa lama telatnya, kalau telat), jadi gak perlu kuatir ketinggalan atau salah kereta.

Petugas dengan sigap akan menghampiri dan membantu kita bila kita terlihat bingung atau tinggal samper aja, mereka dengan penuh senyum akan membantu. Yang unik adalah, setiap jam 8 pagi dan jam 6 sore semua orang akan menghentikan kegiatannya dan berdiri dengan khidmat sambil mendengarkan lagu kebangsaan diputar. Petugas2 berseragam tentara akan memberikan tanda hormat.

Jam 18.30 saya menghampiri peron 11 tempat kereta saya menuju Nong Khai, sambil cari-cari turis buat teman berbagi kendaraan menuju perbatasan. Di peron saya bertemu Jenny. Jenny dalam perjalanan ke Laos menuju kedutaan Thailand untuk memperpanjang visanya. Kami janjian untuk bertemu lagi saat turun di Nong Khai dan berbagi taksi ke Friendship Bridge. Sementara di atas kereta saya bertemu James dari Jerman yang juga menuju Vientiane. Nah udah dapet dua orang buat berbagi taksi 😀

Perjalanan menuju Nong Khai lumayan lancar. AC keretanya maaaaaaaak! DINGIN BANGET!

Ada satu kejadian yang menurut saya gak menyenangkan di kereta. Tiga orang bule muda, cowok, mungkin usia 19-20an tahun dengan hanya memakai kaos dan celana pendek duduk dengan mengangkat kaki ke kursi di depan mereka. Ditambah di sebelah mereka duduk seorang biarawan berusia cukup sepuh. Menurut kebudayaan Thailand (atau mungkin Buddhism pada umumnya), tidak boleh mengangkat kaki di sebelah biarawan. Sementara tiga bule muda itu cuek, bahkan pura-pura tidur pulas (atau demikian perkiraan saya, soalnya tidurnya kok keliatan dibuat-buat gitu. masa iya dipanggil dan dicolek gak bangun). Untungnya (sayangnya?) biarawan tersebut tidak merasa terganggu, sehingga petugas kereta tidak melanjutkan permasalahan. Tapi sejak itu kelihatannya tiga bule tersebut tidak mendapatkan perlakuan baik sama sekali dari petugas kereta api. Mulai dari selimut yang semi dilempar ke pangkuan mereka, hingga petugas yang berlalu begitu saja saat mereka panggil untuk menanyakan sesuatu.

Yang saya sayangkan dari para pelancong barat ini, mereka sepertinya lupa (atau tidak diajarkan) untuk menyesuaikan diri dengan tata krama dan adat istiadat lokal ke mana pun mereka berkunjung. Mereka bertindak bahwa mereka telah membantu banyak kepada negara-negara di Asia karena mereka datang ke sini sebagai turis dan menghabiskan uang mereka di sini. Tentu saja asumsi saya ini tidak berlaku untuk SEMUA pelancong barat, tapi setidaknya sebagian besar yang saya lihat selama perjalanan yang baru beberapa hari ini ya begitu.

Karena perjalanan memakan waktu sekitar 15 jam, saya memutuskan untuk menghabiskan waktu dengan tidur. Ya gak ada yang diliat juga, gelap begitu 😀