Sampah tidak selamanya tak berguna

Pernah mengamati seberapa banyak sampah yang kita hasilkan per hari? Sampah pribadi maupun sampah rumah tangga, dan apa saja di dalam sampah tersebut? Saya, jarang. Nyaris gak peduli. Sampah ya buat saya di buang, sudah tidak bermanfaat. Ngotor-ngotorin aja.

Sampai kemudian saya berkunjung ke DESA CILENGKRANG RW 17 KAMPUNG JATI BARU di Kabupaten Bandung, salah satu binaan CSR dari Indocement. Apa istimewanya Rukun Warga yang satu ini? Program Unggulan di Desa Cilengkrang yaitu pengelolaan sampah mandiri, gerakan wanita tani, serta urban farming. Selain itu juga terdapat sekolah sampah, sebuah sekolah yang
menginspirasi masyarakat umum dalam menangani sampah rumah tangga secara kreatif. Iya ada sekolah sampah di tempat ini loh, yang pertama pula di Indonesia.

Kampung ini menjadi istimewa sejak tahun 2010 di bawah binaan ketua RW Bapak Wawan dan menjadi salah satu angkatan pertama Program Kampung Ramah Lingkungan Indocement. Awalnya karena Pak Wawan sering melihat banjir melanda Kampung Jati Baru, yang disinyalir adalah akibat warga sering membuang sampah sembarangan. Kesal, akhirnya Pak Wawan mengambil tindakan. Sebagai ketua RW, jika ada masyarakat yang meminta tanda tangan untuk pengurusan dokumen, Pak Wawan meminta mereka untuk ikut serta dalam program pelestarian lingkungan. Jika menolak berpatisipasi pengurusan dokumennya akan ditolak. Nah loh, mau gak mau warga nurut kan ya XD

Pak Wawan ketua RW 17 yang kemudian menjadi local hero Indocement berkat jasanya membawa kampung Jati Baru mengelola kebersihan lingkungan hidup

Ternyata efek “kegalakan” Pak Wawan ini berjangka panjang dan cukup drastis. Sampah mulai dikumpulkan di satu tempat khusus, kemudian dipilah dan dipilih sesuai jenisnya. Sampah dapur, sampah plastik, sampah kertas, sampah elektronik, sampah kain, dll. Lalu bingung mau diapain ini semua sampah? Akhirnya tercetus ide, diolah kembali menjadi barang siap pakai sekaligus melestarikan lingkungan. Akibatnya, RW 17 Kampung Jati Baru Desa Cilengkrang jadi tampak sangat-sangat bersih. Nyaris tidak terlihat sampah selain sampah daun-daun kering.

Bersih banget kan

Tidak ada sampah yang siasia di sini. Bekas bungkus minyak goring jadi pot, sampah organic jadi pupuk, sampah Styrofoam yang paling bandel aja bisa jadi dekorasi rumah.

Selain mengelola sampah, warga juga didorong untuk bercocoktanam sendiri, dan mengolahnya menjadi makanan yang bisa dikonsumsi pribadi maupun dijual sebagai camilan. Menurut Bu Lilis salah satu kader lingkungan mereka mengadakan pasar mingguan setiap Rabu pagi, supaya warga bisa menjual hasil kebun/taninya ke warga lain. Swasembada pangan dalam skala menengah. Keren!

Camilan ini dibuat dari hasil kebun warga yang kemudian dijual sebagai oleh-oleh buat para pengunjung

Bu Lilis di Posyandu RW 17 Kampung Jati Baru, menceritakan pengalamannya mendatangi rumah warga untuk “jemput bola” memberikan dan mengajak warga untuk hidup sehat dan berkontribusi terhadap lingkungan sekitar

Wait, apa sih local hero? Local Heroes merupakan masyarakat mitra Indocement yang telah berhasil mengembangkan usahanya menuju kemandirian, yang pada gilirannya mereka juga berperan dalam
mengembangkan masyarakat lain di sekitarnya. Indocement membentuk Local Hero sebagai strategi khusus dalam bermitra dengan masyarakat. Hingga akhir 2017 terdapat 149 local hero yang tersebar di berbagai wilayah, khususnya di sekitar lingkungan operasional perseoran (desa mitra sekitar pabrik, terminal semen). Lumayan ya jumlahnya. Nah Pak Wawan dan Bu Nining ini diangkat sebagai salah satu local heroes di area Kabupaten Bandung.

Mengapa DESA CILENGKRANG RW 17 KAMPUNG JATI BARU menjadi salah satu binaan desa mitra CSR Indocement? Karena ada gudang semen Indocement di Kabupaten Bandung. Indocement memiliki komitmen untuk bekerja sama menjaga lingkungan sekitar di manapun mereka ada pabrik maupun gudang. Keunikan CSR di Bandung, terdapat program CSR yang lokasinya berjarak kurang lebih 30 kilometer dari operasional Indocement, tepatnya di Desa Cilengkrang. Hal ini diutarakan oleh Bapak Kuky Permana selaku Direktur Independen Indocement dan Bapak Sahat Panggabean selaku Manajer CSR Indocement.

Ngobrol santai bersama Pak Kuky Permana dan Pak Sahat Panggabean mengenai program #GreenIndocement

Menurut Pak Kuky, dalam berbisnis apapun ya pasti ada aja masalah yang dihadapi, namun bukan berarti Indocement melupakan komitmen mereka di bidang CSR (Corporate Social Responsibility). Semua program CSR disesuaikan dengan kebutuhan, jadi gak semua berupa dana. Pak Kuky memberi contoh longsor yang pernah terjadi di sebuah desa. Desa tersebut sudah memiliki dana sendiri, namun tidak tahu bagaimana cara menangani bencana. Indocement memberi bantuan berupa alat dan pengetahuan teknis penanganan bencana.

Untuk Desa Cilengkrang sendiri mereka memberi bantuan fasilitas umum seperti Posyandu, Perpustakaan, pendidikan pengolahan sampah tingkat lanjut.

Posyandu Desa Cilengkrang RW 17 Kampung Jati Baru

Perpustakaan ini baru dibikin, jadi bukunya belum banyak. Sebagian besar buku adalah sumbangan dari Indocement. Boleh loh kalau kita mau nyumbang buku bacaan apalagi bacaan anak. Bisa kontak Ibu Nining, istri Pak Wawan, di 081221933930 untuk janjian pengaturan pengirimannya.

Selain di Kabupaten Bandung (3 desa mitra), Indocement juga memiliki proyek CSR di tempat-tempat lain. Dari data yang saya dapat: Citeureup 12 desa mitra, Palimanan 6 desa mitra, Tarjun 10 desa mitra, Lombok 5 desa mitra, dan Cigading 3 desa mitra.

Berbagai kegiatan warga menghijaukan lingkungannya

Kunjungan saya ke Desa Cilengkrang RW 17 Kampung Jati Baru kemarin membawa pencerahan baru ke saya, bahwa sampah tidak selamanya buruk. Kalau kreatif, malah bisa membantu menghijaukan dan mempercantik tempat tinggal. Jadi, mau kamu apakan sampahmu?

Ada beton di mana-mana

Pada masanya, saya sering takjub lihat betapa cepatnya infrastruktur di jakarta dibangun dan selesai. Ya saya bukan ahli konstruksi, cuma bikin underpass atau jalan layang hanya dalam hitungan bulan itu buat saya ajaib. Saya bingung itu kok cepet amat betonnya kering. Nah beberapa hari yang lalu, terjawab sudah kebingungan saya.

Ternyata ada teknologi yang bisa membuat adonan beton cepat kering, dalam waktu 6-12 jam. Namanya Fastcrete. Fastcrete ini diproduksi oleh PT PionirBeton Industri (Pionirbeton/PBI), salah satu anak perusahaan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. (“Indocement”)

Tahu dari mana, Nit? Nah ini saya dapat informasinya ketika berkunjung ke salah satu batching plant PBI di Jakarta, tepatnya di daerah Kasablanka. Batching plant itu apa? batching plant merupakan tempat mencampur atau memproduksi bahan baku beton cair siap pakai dalam skala besar.

PT Pionirbeton Industri sendiri bermula pada tahun 1996 dengan nama PT Pioneer Beton Industri, sebuah perusahaan patungan gabungan (joint venture) antara PT Superbeton Perkasa Industri anak perusahaan dari PT Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk. dengan Pioneer International Holding Pty Limited dari Australia.

Pada tahun 2002 PT Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk. mengakuisisi 100% perusahaan ini dan menjadikannya sebuah badan usaha perseroan terbatas serta mengganti nama perusahaan menjadi PT Pionirbeton Industri.

Lebih dari 20 tahun berkiprah di Indonesia menjadikan PT Pionirbeton Industri sebagai perusahaan produsen beton terbesar di Indonesia yang memiliki 33 Batching Plant tersebar di seluruh Jawa dan Bali dengan kapasitas menghasilkan 3,500 m3 beton pada setiap hitungan jam.

Di bawah pengawasan Heidelberg Competence Center Readymix (CCR) wilayah Asia Pasifik berdomisili di Singapore, PT Pionirbeton Industri selalu berupaya mempertahankan posisi terdepan pada industri ini dengan senantiasa bergerak secara dinamis melakukan pengembangan berkelanjutan yang mengedepankan kualitas baik dari segi sumber daya manusia maupun pemanfaatan teknologi serta secara konsisten melakukan penerapan manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), manajemen mutu ISO 9001 dan manajemen lingkungan ISO 14001.

Di batching plant, semen jenis OPC (Ordinary Portland Cement) dicampur dengan pasir, batu, dan air dalam takaran tertentu untuk menghasilkan berbagai macam beton. Salah satunya Fastcrete tadi.

Di batching plant ini saya baru tahu bahwa pembuatan beton cair ini wajib memakai air layak minum, jadi gak sembarangan air. Buat apa? Ya supaya mutunya terjaga. Dan juga pakai…. es batu. Untuk mencegah kenaikan suhu beton cair selama pengadukan dan perjalanan dari batching plant ke lokasi tujuan. Kalau suhunya panas, betonnya gampang retak. Bahaya kan.

Nah dari batching plant, kami sempat mampir ke proyek Menara Jakarta di daerah Kemayoran. Rencananya sih mau liat proses pengecoran beton, tapi ternyata sudah selesai jadi kami gak jadi masuk.

Proyek Menara Jakarta ini terletak di Kemayoran, dekat dengan PRJ Kemayoran, tepatnya di Jln. H. Benyamin Sueb dengan developer proyek ini adalah Agung Sedayu Grup.

Proyek yang dibangun adalah gedung Superblock dengan enam tower di area seluas 4 hektar mulai dibangun pada Agustus 2017 dengan rencana selesai 2020. Kebutuhan betonnya sebanyak 240.000 m3 dan sampai dengan Nov 2017, Pionirbeton sudah memasok 25.000m3 beton siap-pakai.

Kemudian kami lanjut ke Bandara Soetta mengunjungi proyek lainnya, yaitu Automated People Mover System (APMS) Skytrain (Kalayang Bandara Soekarno Hatta).

Perkeretaan bandara ini mulai dari Railink Stasiun BNI City, Jakarta sampai Stasiun Soetta, Cengkareng, dilanjut Kalayang ke semua terminal, dan pengerjaan betonnya dilakukan oleh PBI.

Kalayang melayani penumpang ke semua terminal, yaitu terminal 1, 2, dan 3. Kemrin kami menaiki Kalayang dari stasiun Railink menuju Terminal 1 untuk menjajal fasilitas terbaru Bandara Soetta tersebut.

Seneng banget ada kereta ini, perpindahan antar terminal jadi mudah. Oh ya, kalau Railink ada kursi duduk dan dikenakan biaya Rp 70.000/orang sekali berangkat, Kalayang ini gratis dan tidak ada kursinya.

Proyek APMS ini merupakan Kerjasama Operasi (KSO) Wijaya Karya – Indulexco yang dimulai pada 2016 dan berakhir pada Q1 2018. Volume yang dipasok mencapai 43,000 m3. Banyak ya!

Dengan proyek sebesar ini kira-kira bagaimana inisiatif mereka dalam mengurangi limbah di lingkungan sekitar?

Ternyata banyak juga yang dilakukan, antara lain:

  • Setiap truk mixer yang keluar batching plant dicuci untuk menghilangkan sisa material produksi beton siap-pakai agar tidak tercecer di jalan atau tempat lain;
  • Corong truk mixer (tempat keluarnya produk beton siap-pakai) dilengkapi dengan penutup untuk menghindari tercecer sisa produk dijalan atau yang lain;
    Storage bahan baku beton siap-pakai di batching plant dilengkapi dengan atap untuk menurunkan tingkat penyebaran debu dan melindungi bahan baku dari air hujan.
    Belt conveyor di batching plant ditutupi dengan penutup untuk mengurangi polusi debu dalam transportasi bahan baku ke batching plant
    Sisa beton siap-pakai dikumpulkan di batching plant yang kemudian diambil oleh pihak ketiga (tidak dibuang sembarangan).
    Dilakukan aktivitas penghijauan di kawasan batching plant sebagai sekat alamiah untuk polusi debu dari aktivitas operasional
    PBI melakukan treatment khusus untuk air limbah yang dipakai dalam proses produksi sebelum dibuang.
    Setiap karyawan maupun kontraktor wajib untuk mengenakan alat pengaman diri (APD) dalam aktivitas sehari-hari di batching plant.

Apakah beton PBI ini cuma boleh dibeli proyek besar? Nggak dong. kalau kamu mau pesan beton buat bangun/renovasi rumah juga boleh banget.

Tinggal kontak ke Call Center 08001037632, trus tekan 2 buat beton. Atau kamu anak belanja online, maunya beli online aja? Bisaaa banget. Cuss meluncur ke www.tokotigaroda.com ya.

Kunjungan ke Sekolah Magang Indocement

PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, adalah salah satu produsen semen terbesar kedua di Indonesia. Selain memproduksi semen, Indocement juga memproduksi beton siap-pakai, serta mengelola tambang agregat dan trass. Indocement berdiri sejak 16 Januari 1985 yang merupakan hasil penggabungan enam perusahaan semen yang memiliki delapan pabrik, Pabrik pertama Indocement sudah beroperasi pada 4 Agustus 1975 (iya, lebih tua dari saya).

Per 31 Desember 2016, Indocement memiliki kapasitas produksi terpasang sebesar 24,9 juta ton semen per tahun. Indocement memiliki 13 buah pabrik, sepuluh diantaranya berada di Citeureup, Jawa Barat. Nah minggu lalu saya berkesempatan mampir ke lokasi di Citeureup bersama beberapa rekan blogger untuk mengunjungi beberapa proyek CSR mereka yang sudah berjalan.

SEKOLAH MAGANG INDOCEMENT

                             

Ibu Dani Handajani, Corporate HR Division Manager Indocement menyambut dan mengajak para blogger berkunjung ke Sekolah Magang Indocement di Citeureup. Sekolah magang ini memberikan beberapa pelatihan seperti pelatihan mengemudi, menjahit, las, tukang bangunan. Pelatihan tiap bidang keahlian waktunya berbeda-beda tergantung kebutuhan. Ada yang cukup 9 hari, ada pula yang butuh waktu hingga dua minggu sebelum peserta pelatihan dianggap lulus.

Sekolah ini terbuka untuk warga di sekitar pabrik dari 12 desa mitra. Indocement bekerja sama dengan kepala desa untuk pemilihan peserta sekolah magang. Prioritas untuk yang muda, usia produktif, dan belum bekerja. Sama sekali tidak dipungut biaya loh.

Sekolah magang yang kami kunjungi hari itu adalah untuk keahlian tukang bangunan. Peserta didik mendapatkan keahlian dasar soal bangunan dengan pelatih yang mumpuni di bidangnya. Salah satu peserta didik, Abdul Adjis, berkata “Kalau dulu saya jadi tukang bangunan gak pakai hitung-hitung angka-angka. Pakai akal sehat aja dikira-kira. Di SMI saya diajarkan buat ngitung-ngitung.” Pak Abdul Adjis bilang sejak lulus dari SMI ini, dia tidak lagi hanya bisa bekerja secara serabutan kalau dipanggil tetangga atau konstruksi kecil. Sekarang beliau sudah bisa bekerja di proyek-proyek besar berkat sertifikat SMI.

Bapak Lukman, salah satu alumni Sekolah Magang Indocement (SMI) bidang keahlian tukang bangunan. Setelah lulus dari SMI, menurut Pak Lukman, pekerjaan datang dengan cepat. “Saya tidak pernah lagi kekurangan pekerjaan,” katanya. Yang lain ada Bapak Budi Hermawan yang adalah salah satu peserta sekolah magang di bidang keahlian las. Setelah lulus ia juga segera mendapatkan pekerjaan sesuai bidangnya.

Bapak Anton Suharyanto, peserta sekolah magang di bidang keahlian tukang las mengungkapkan rasa syukurnya karena sertifikat dari Indocement membuatnya mudah mendapatkan pekerjaan hingga saat ini sudah menjadi pegawai tetap.

Selain melihat ruang kelas dan bertemu para peserta didik, kami juga mengunjungi para siswa sekolah magang yang sedang praktik. Selain teori yang diberikan dalam waktu 1 minggu, peserta juga melalui sesi praktek selama 1 minggu. Peserta sekolah magang mendapatkan pelatihan dasar seperti mencampur semen dan cor beton.

 

GERAKAN MASYARAKAT MANDIRI (GEMARI)

GEMARI mulai aktif di tahun 2009 dan berdiri di atas lahan seluas 1.200 meter persegi. Luaaas. Awalnya GEMARI hanya bergerak di bidang perbaikan motor roda dua (bengkel motor), sekaligus menjadi tempat masyarakat desa mitra berlatih ketrampilan perbaikan motor.

Pada tahun 2012 GEMARI menambah kerajinan tangan “Sang Alam” dari desa Bantarjati sebagai bagian dari mereka. Mereka berlatih mengolah limbah (terutama limbah kayu palet) dari Indocement menjadi berbagai miniatur dan hiasan. Ternyata pelanggan mereka justru lebih banyak dari luar negeri, terutama untuk miniatur pesawat terbang. Beberapa maskapai Timur Tengah menjadi pelanggan mereka.

Tahun 2014, GEMARI menambahkan UMKM ikan hias “Bukit Kapur” dari desa Lulut.

Secara total, GEMARI bergerak di bidang:

  • pelatihan bengkel sepeda motor
  • inkubator plasma bengkel sepeda motor
  • pelatihan dan usaha kerajinan tangan
  • pelatihan dan pengembangan serta usaha ikan hias

Omset rata-rata gemari di keempat bidang tersebut perbulannya kurang lebih Rp 16jt/bln.

Untuk setiap Gemari, Indocement memiliki peran melatih, mempromosikan keahlian alumni, membantu promosi, menggunakan produksi Gemari untuk keperluan Indocement (souvenir), dll.

I-SHELTER

Usai dari Gemari, blogger melanjutkan perjalanan ke I-SHELTER. Di sini, pegawai dan kontraktor Indocement mendapatkan pelatihan soal safety, health, & environment. Nah setelah mendapatkan pelatihan di I-Shelter, karyawan dan kontraktor diharapkan bisa bekerja sesuai standar kerja terkait safety, health, & environment yang ditetapkan oleh Indocement.

“Jadi, `I-SHELTER` bukan sekadar membangun infrastruktur atau monumen fisik, namun lebih dari itu, yaitu membangun budaya, karakter dan menjadi monumen sosial di bidang keselamatan, kesehatan dan lingkungan yang sejalan dengan moto Indocement `Better Shelter for a Better Life`,” kata Direktur Utama Indocement Christian Kartawijaya di Citeurerup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat seperti yang dikutip di sini.
Ketika meresmikan Indocement-Safety Health Environment Learning Center (I- SHELTER), beliau berharap pusat pendidikan dan latihan (Pusdiklat) dengan label dan predikat yang sangat memikat dapat menjadi tempat bernaung dalam membangun budaya keselamatan, kesehatan dan lingkungan.

Di I-SHELTER saya mendapati berbagai peralatan yang menunjang keselamatan kerja dan wajib dikenakan atau dikuasai siapapun yang memasuki wilayah Indocement. Ada alat simulator kendaraan besar juga. Mau nyobain sih penasaran gimana rasanya “mengemudikan” truk, tapi lagi gak dinyalain alatnya XD

Kunjungan singkat kami berakhir menjelang sore. Terima kasih Indocement sudah mengajak kami mampir berkeliling. Semoga ada kesempatan lain untuk melihat lebih banyak ya 🙂

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Rayakan Semangat Sehat Bersama Anlene

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan menghadiri Festival Komunitas 2017 yang diadakan oleh Anlene di Lapangan Gedung Kementerian Pemuda dan Olahraga RI. Kegiatan ini merupakan inisiatif antara PDSKO dan Anlene dalam rangka merayakan Hari Olah Raga Nasional 2017 yang diperingati pada 9 September 2017.

Acara dipenuhi dengan para komunitas olahraga dan kesehatan seperti misalnya Bike2Work, komunitas sepeda onthel, komunitas dansa, komunitas jantung sehat, dan lain-lain. Didukung oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga RI, Festival Komunitas 2017 diselenggarakan untuk mengajak masyarakat Indonesia supaya aktif berolahraga dan menjalani gaya hidup sehat melalui berbagai komunitas olahraga, untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang lebih kuat dan lebih sehat.

Festival Komunitas 2017 ini diresmikan oleh Kepala Bidang Pembinaan Olahraga Massal dan Kesehatan Olahraga Kementerian Pemuda dan Olahraga dr. I Nyoman Winata, Sp.KO ini sejalan dengan misi global World Health Organization (WHO) serta mendukung Gerakan Ayo Olahraga dari Kementerian Pemuda dan Olah Raga dan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) dari Kementerian Kesehatan. Diikuti oleh 1.200 masyarakat dari berbagai komunitas olahraga, penggemar gaya hidup sehat, hadir juga atlet taekwondo Tya Ariestya dan brand ambassador Anlene Titi Rajo Bintang dan Indy Barends yang hadir untuk merayakan semangat hidup sehat dan aktif melalui berbagai kegiatan fisik dan olahraga bersama. Kagum banget lihat mereka lincah bergerak seru-seruan bareng yang hadir di acara. Cantik dan bugar. Pengin deh kayak mereka 🙂

Kepala Bidang Pembinaan Olahraga Massal dan Kesehatan Olahraga Kementerian Pemuda dan Olahraga dr. I Nyoman Winata, Sp.KO mengatakan, “Festival Komunitas 2017 sejalan dengan tema Hari Olahraga Nasional 2017 yaitu ‘Olahraga Menyatukan Kita’, dan hari ini kami mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk menjadikan olahraga sebagai bagian dari gaya hidup. Gaya hidup aktif berolahraga dan sehat dapat dimulai dari lingkup keluarga sampai komunitas yang lebih besar.”

Menurut Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga (PDSKO) dr. Leny Pintowari, SpKO, kesadaran akan gaya hidup sehat dan aktif harus didorong. “Membaiknya kesejahteraan dan teknologi membuat masyarakat kota kurang bergerak. Padahal kurang aktivitas fisik bukan hanya memicu berbagai penyakit, tetapi juga menurunkan produktivitas kerja. Aktifitas  fisik dan olahraga saat ini bukan hanya berguna sebagai pencegahan tetapi juga sebagai pengobatan.”

Sementara itu, Fonterra Brands Indonesia Marketing Technical Advisor Rohini Behl mengatakan,”Anlene percaya bahwa bangsa yang kuat dimulai dengan masyarakat yang kuat. Festival Komunitas 2017 merupakan awal kemitraan Anlene bersama PDSKO yang bertujuan untuk mengajak masyarakat untuk mulai aktif bergerak dan berolahraga melalui komunitas olahraga yang melakukan berbagai kegiatan fisik dan olahraga, tidak hanya selama acara berlangsung tetapi juga secara rutin setiap harinya.”

Festival Komunitas 2017 merupakan bagian dari gerakan Anlene #tetapbisa yang mendorong masyarakat Indonesia untuk memprioritaskan kesehatan dan kesejahteraan mereka dengan menjalani gaya hidup sehat dan aktif, serta mengonsumsi makanan bergizi seimbang, termasuk mengonsumsi susu yang diformulasikan untuk mendukung kesehatan tulang, sendi dan otot secara teratur demi Indonesia yang lebih kuat dan lebih sehat.

Dalam acara Festival Komunitas 2017, peserta dapat mengikuti sesi edukasi kesehatan, move check dan eksperimen age suit dari Anlene, serta melakukan berbagai pemeriksaan dan konsultasi kesehatan yang diberikan secara gratis. Kemarinan di acara ini juga ada penampilan dari komunitas Capoeira Indonesia. Keren banget! Lengkap dengan alat musik dan gerakan bela diri khas capoeira yang mirip tarian. Tahukah kamu, kenapa capoeira ini mirip dangan tarian? Pada abad 16 di masa perbudakan, para budak menyamarkan ilmu beladiri menjadi tarian agar mereka bisa bebas berlatih tanpa ketahuan pemilik mereka.

Patah hati di Ramadan hari pertama (end)

Many places I have been
Many sorrows I have seen
But I don’t regret
Nor will I forget
All who took that road with me

Night is now falling
So ends this day
The road is now calling
And I must away

Malam itu saya sedang rebahan di sofa kesayangan sambil mengamati keriuhan di linimasa Twitter saya, saat saya mendapat notifikasi dari salah satu WhatsApp Group yang saya ikuti. Ternyata dari Simbok Venus.

Simbok: Teh Nit, Ibu Penyu itu Vindhya ya?

Saya: Iya, Mbok

Simbok: Innalillahiii

Saya: APA? KENAPA?

Saya langsung bergegas membuka tab mention akun Vindhya, dan menemukan tautan ini:

 

//platform.twitter.com/widgets.js

Ada apa ini?! Saya kembali ke group dan mendapati kabar bahwa Vindhya Sabnani alias Ibu Penyu, meninggal dunia.

Siapa Vindhya Sabnani? Ipink, biasa dipanggil demikian, adalah salah satu pejalan yang termasuk sering saya ikuti kabar perjalanannya. Saya kenal Ipink dari Twitter, kemudian ke Instagram, kemudian kami bergabung di dalam satu WhatsApp Group yang sama. Saya bukan kawan dekat Ipink, tapi Ipink selalu membuat semua orang merasa dekat dengannya. Her smile, her laugh, her joyful and kind spirit were contageous.

And now, she’s gone. Heaven has called one of their most precious angels home. Leaving us.

Beberapa hari setelah mendapat kabar tersebut, saya menghadiri pemakaman Ipink. Di hari pertama puasa Ramadan. Saya sudah berjanji, tidak mau menangis. Hati saya sudah patah sekali hari itu, saya tidak mau patahkan lagi.

Ternyata saya salah. Hati saya patah lagi. Bukan, bukan lagi karena kepergian Ipink. Tapi karena selama prosesi pemakaman, saya melihat hati-hati lain yang patah. Terutama hati kedua orang tua Ipink.

Melihat ayahanda Ipink membuka peti jenasah perlahan. Berlutut di bagian kepala. Membisikkan doa bagi anak perempuannya yang terlampau cepat pulang. Melihat kerut wajahnya saat menangis.

Melihat ibunda Ipink, duduk di dekat peti jenasah. Tatapannya kosong menerawang. Seolah tanpa emosi. Tapi sebagai sesama ibu, saya mungki bisa dibolehkan berkata, “I think I kinda know how she feels.” Dukacita yang begitu kuat sampai tidak bisa dibahasakan dalam kata-kata dan mimik wajah.

Pagi ini hati saya patah saat bersalaman dengan seorang bapak dan seorang ibu yang kehilangan putri mereka. “Maafkan salah-salahnya ya, titip doakan terus,” isak sang bapak sambil mengenggam erat jemari saya saat kami bersalaman. “Ipink anak baik, Pak. Semua sayang sama dia,” sahut saya. Ayahanda @vindhyaaa semakin terisak dan saya melangkah menjauh, tak cukup bernyali untuk menemani lebih jauh kepedihan seorang bapak yang kehilangan putrinya. . . “Ini pasti teman traveler juga ya,” sambut sang ibunda saat menyambut salam saya. Ibunda yang selama prosesi pemakaman menatap jasad anaknya ditimbun tanah dengan tatapan menerawang. . . Di sekitar saya air mata tumpah ruah dari para pelayat. Sesekali terdengar tawa saat membicarakan polah Ipink semasih hidup. Ah, mengapa kami harus berkumpul dalam sebuah pemakaman begini. . . Selamat istirahat Ibu Penyu. Semoga kita diperkenankan berjumpa lagi dalam keadaan baik di sebelah sana. Sisakan cerita buat kami yang di sini nanti ya. Kami butuh senyum dan tawamu, tapi surga nampaknya ingin juga menikmatinya. Baik-baik di sana ya. Titip doa buat hati-hati patah hari ini ke Tuhan..

A post shared by Nita Sellya – Gusti (@nitasellya) on

//platform.instagram.com/en_US/embeds.js

They say no parent should bury their children. But then again, life happens.

//platform.instagram.com/en_US/embeds.js

Saat mendapat kabar duka soal mereka, pas banget saya lagi denger lagu ini. Sedihnya makin pol-polan.

PS: Berita tentang kematian Ipink dan Sobar, sahabatnya, dan siapa mereka bagi pariwisata terutama di wilayah Flores, bisa dibaca di sini.

Patah hati di Ramadan hari pertama (bagian 1)

Pagi ini hati saya dua kali patah. Puasa hari pertama dan dihiasi air mata. Patah hati pertama adalah saat saya menyadari hari ini adalah peringatan 11 tahun gempa Jogjakarta 2006. What, 11 years ago already? Saya masih ingat detilnya seperti baru setahun lalu terjadi.

27 Mei 2006 jam 05.45 saya terbangun dengan malas di Hotel Sahid Raya Jogjakarta. Saya baru masuk kamar jam 01.30 dan tidur sekitar jam 02.00. Pagi itu harus bangun pagi-pagi karena agenda perjalanan masih banyak dan dimulai segera setelah sarapan. Saya baru saja meraih ponsel saya untuk menghubungi keluarga di rumah saat saya mendengar suara gemuruh.

Hal pertama yang saya pikirkan, “Merapi!” Karena beberapa hari sebelum kedatangan saya ke Yogyakarta, Gunung Merapi sedang batuk lumayan parah. Gemuruh disusul segera dengan guncangan yang tanpa basa-basi. Televisi di meja kamar bergeser dan bruk! jatuh. Saya membeku. Kawan sekamar saya sudah berteriak menyebut nama Tuhan sambil menangis. Tidak lama kemudian saya melihat gatis tipis retakan muncul di tembok di depan saya. Saya menatap langit-langit kamar sambil berpikir, “Jadi hari ini saya mati?”

Suara gemuruh terasa muncul dari mana-mana dan guncangan belum juga mereda. Saya berusaha bangun dengan sempoyongan. Perjalanan dari kasur ke pintu kamar hotel terasa sangat jauh dan sulit. Setengah perjalanan saya menuju pintu, guncangan dan gemuruh mereda. Di lorong hotel terdengar banyak teriakan doa dan panik.

 

//platform.twitter.com/widgets.js
Segera setelah guncangan selesai, saya kembali ke kamar, masuk ke toilet. Lah ngapain? Pakai beha, lah. Tidur mana enak kalau pakai beha yes, jadi semalem saya copot dulu, pakai daster, dan sebelum keluar kamar baru saya pakai lagi.

Aaanyway. Di halaman hotel sudah berkumpul para tamu. Ada yang berpakaian lengkap, ada yang cuma handukan, ada yang menangis, ada yang bengong, ada yang berdoa. Yang saya salut, pihak hotel dengan cepat menyiapkan teh manis hangat dan mengeluarkan bermacam roti untuk dibagikan ke tamu. Mengurangi shock.

Kami baru berkumpul di halaman hotel mungkin selama 30 menit ketika terdengar teriakan-teriakan dari jalan raya, “AIIR! AIIR! TSUNAMII! TSUNAMIII!

 

//platform.twitter.com/widgets.js
Saya langsung terduduk lemas. 26 Desember 2004 terjadi gempa hebat yang disusul oleh tsunami di Banda Aceh, saya menyaksikan kedahsyatannya melalui televisi. Dan hari ini nampaknya saya akan merasakannya langsung.

Kepanikan pecah. Beberapa orang memanjat atap bus dan pohon, sepasang lelaki dan perempuan jongkok berpelukan sambil menangis, seorang bapak langsung menarik anak dan istrinya memasuki mobil mereka dan bersiap pergi.

Saya? Pasrah. Duduk di parkiran sambil menyalakan rokok dengan gemetar. Udah sih gak bisa berenang, tsunami pula. Mau ngelawannya gimana?

Dan di sini saya menyaksikan kesigapan pihak hotel Sahid Raya Jogjakarta dalam menenangkan tamu. “Tidak ada air, tidak ada tsunami, aman semua!” teriakan para staff hotel bergema di antara kepanikan. Butuh waktu cukup lama untuk bisa meyakinkan kami, terutama karena di jalan raya terlihat orang-orang berlarian panik.

Tour leader rombongan saya menanyakan, apakah tour mau dilanjutkan atau pulang? Kami semua memilih pulang. Perjalanan keluar dari Jogjakarta tidak mudah. Jalanan dipenuhi manusia dan kendaraan. Di sana lah saya mulai mendapat “teaser” hasil gempa tadi. Bangunan runtuh, banyak motor lalu lalang membawa korban berdarah-darah. Saya menutup gorden jendela bus. Hati saya sakit. Saya mau pulang.

Sinyal telepon mati sama sekali, tak peduli mau sebagus apa providernya. Kami pulang dalam diam dan doa. Tidak ada suara lain selain isak tangis dan dengungan doa.

Sampai di Cilacap baru kami berhenti untuk istirahat dan makan malam. Menyaksikan berita televisi dan sms bertubi-tubi yang masuk (sinyal baru ada lagi), kami ternganga. Ratusan (saat itu masih dalam angka ratusan) korban jiwa, entah berala yang kehilangan tempat tinggal dan orang-orang yang mereka cintai. Terbersit dalam pikiran saya, “kami nyaris saja jadi sekadar angka.”

Hingga 2 tahun ke depannya, saya masih terlonjak kaget setiap mendengar suara gemuruh sekecil apapun, merasakan guncangan sepelan apapun. Selama 2 tahun ke depannya saya bersikukuh meletakkan sebuah tas bepergian di sebelah kasur saya di rumah, berisi pakaian, obat, air minum, dan makanan.

Pagi ini, hati saya patah mengingat kejadian tersebut. Mengingat isak tangis supir kantor saya yang istri dan ketiga anaknya (termasuk anaknya yang baru berusia sebulan) tewas tertimbun reruntuhan gempa. Mengingat betapa kecilnya saya sebagai manusia saat berhadapan dengan alam. Mengingat lebih dari 3.000 nyawa yang melayang hari itu.

//platform.twitter.com/widgets.js

(bersambung)

Bagi saya, perempuan yang #memesonaitu ya mereka ini

Saya terpesona terhadap beberapa perempuan. Karena hidup mereka, pilihan mereka, dan arti mereka bagi saya sungguh luar biasa. Siapa saja mereka?

  • Simbok Venus

Perempuan yang semakin bertambah usianya semakin terlihat muda ini, kerap dipanggil dengan sebutan “Simbok” (ibu). Simbok ini baru tahun lalu bilang ke saya, bahwa dia gak suka olahraga lari. Capek. Bahkan saat saya berhasil meracuninya ikut sebuah lomba lari, saat selesai dan saya tanya, “Seru kan? Mau ikut lagi gak?” simbok masih menjawab dengan “Not my cup of tea. Liat nanti ajalah.”

Itu 2016.

Ini 2017.

//platform.instagram.com/en_US/embeds.js

LAH TERNYATA DOYAN HAHAHAHAHA. Iya simbok sekarang jadi inspirasi saya dalam olahraga terutama lari. Beliau membuktikan bahwa usia tidak menghalangi seseorang untuk aktif kegiatan fisik. Dan mitos bahwa metabolisme tubuh terkikis sejalan dengan bertambahnya usia bikin badan susah melangsing, dipatahkan oleh simbok.

//platform.instagram.com/en_US/embeds.js

Simbok sungguh idolaku :*

  • Buibuksocmed

Sekumpulan ibu-ibu berbagai latar belakang, berbagai latar pedidikan, berbagai pengalaman hidup, yang memiliki sebuah kesamaan: Ibu-ibu pengguna social media. Saya pernah cerita di sini awalnya saya bisa kecebur di grup ini. Sekarang grup ini jadi semacam hiburan dan refleksi saya akan kehidupan. Bahwa semua orang punya perjuangannya masing-masing. Punya kisahnya masing-masing. Punya suka dan dukanya masing-masing. Dan semua yang masing-masing itu, menjadi terasa lebih dan semakin baik saat dibagi bersama.

//platform.instagram.com/en_US/embeds.js

Gak semua pernah saling ketemu, gak semua sudah saling kenal sebelumnya, tapi bersama kami menjalani gundah kami sebagai seorang ibu dan istri, menghadapi air mata bersama, menertawakan kehidupan (sendiri dan orang lain) bersama.

 

//platform.instagram.com/en_US/embeds.js

  • Astrid Arum

Satu dari super sedikit orang yang saya sebut sahabat. Kami pertama kali berjumpa tahun 2009, we hit it off almost instantly. Lidah tajam dan selera humor yang sama (lucuan saya sih) mungkin jadi pengikat kami. Saya jarang melayani menye-menye curhat dia dengan hiburan menye-menye, dan sebaliknya. We tell each other what we NEED to hear, not what we WANT to hear. Dengan hobi makan dan masak yang juga sama (kami sering membicarakan kenapa Nigella Lawson cakep melulu, gimana rasanya dipeluk oleh Gordon Ramsay, bumbu masakan Sisca Suwitomo yang dapur rumahan banget. Atau sekadar bahasan Lambe Turah yang terbaru). Oh pernah bareng-bareng juga liat tuyul lewat depan kamar saya di kosan kami di Bandung. Ehe. Dia juga yang menemani saya sejak H-1 pernikahan saya.

I don’t know what would I do or where would I be without here.

Goldie New Year Makeup dengan entah kenapa wajahnya melas. Happy new year!

A post shared by Astrid Arum (@astridarum) on

//platform.instagram.com/en_US/embeds.js

Dan sekarang dia lagi merambah ke perdandanan sebagai makeup artist. Gaya deuh. Tapi emang makeupnya bagus, saya suka.

//platform.instagram.com/en_US/embeds.js

Itulah para perempuan yang memesona bagi saya. Kalau bagi kamu, wanita yang #MemesonaItu seperti apa?

Yuk ikut blog competition #MemesonaItu. Informasi lengkapnya ada di website ini. Gak punya blog? Otenang, tetap boleh ikutan kok. Lamgsung aja kamu tulis menulis di website tadi ya. Masih ada waktu sampai tanggal 10 April 2017 buat ikutan loh!

Hadiahnya?

Dua kamera mirrorless dan juga hadiah cash jutaan rupiah plus hadiah-hadiah lainnya. Yakin gak mau ikutan?

Good luck!

Nebeng is the new black

Pagi ini sembari menunggu antrian sarapan di tukang ketoprak langganan saya, tiba-tiba muncul pertanyaan (sesungguhnya kalau lagi gak ada kerjaan gitu, adaaa aja yang kepikiran), “Kapan ya terakhir saya naik angkutan umum?” Trus saya mikir lumayan lama, dan jawabannya: Lupa. Iya saya sampai lupa deh kapan terakhir naik angkutan umum.

Saya orangnya manja dan gak sabaran. Maunya udah ada yang standby jemput dan paling kesel kalau harus tertunda tiba di tujuan karena ngetem. Udah sih panas, lama, dan jadi penyebab macet pula. Gak enak loh duduk di bagian ujung kursi angkot dan merasakan tatapan murka dari para pengemudi kendaraan yang terjebak di belakang angkot yang saya tumpangi. Yang salah bukan saya tapi yang ngerasain disalahin ya saya. Kesel.

Naik taksi biasa ya kadang gak lebih baik juga. Mulai dari pengemudi gak tau arah (padahal saya kan maunya naik taksi tinggal duduk manis trus nyampe), argo kuda atau gak mau pakai argo (apalagi kalau jaraknya deket banget), atau ditolak karena tujuan saya gak searah. Gimane.

Makanya begitu ada pilihan baru muncul, dalam bentuk taksi dan ojek online, saya gak ragu-ragu menggunakan jasa mereka. Paling utama ojek online, kalau cuaca lagi cerah atau saya lagi perlu buru-buru. Soalnya motor lebih gampang nyelip-nyelip dibanding mobil kan 😛 Bayar sedikit lebih mahal gpp, selama kenyamanan dan kemudahan saya terpenuhi. Manja ya :))

Lalu beberapa waktu lalu saya dapat kabar bahwa salah satu penyedia layanan ojek online yang sering saya gunakan meluncurkan jenis layanan terbaru. Namanya GrabHitch (Nebeng). Iyaa you read it right, nebeng. Berasa nebeng sama temen kantor/kuliah gak sih :))

GrabHitch (Nebeng) adalah layanan ​ride-sharing yang membuat transportasi harian dengan harga terjangkau. Seperti konsep nebeng pada umumnya, layanan ini mempertemukan pengemudi dengan penumpang yang memiliki tujuan yang sama. (Saya mau ngegaring, “Tujuan arah ya, bukan tujuan hidup,” tapi rasanya nggak banget sudahlah).

Bedanya apa sama yang sudah ada? Selain hanya saling dipasangkan dengan yang searah, pengemudi GrabHitch adalah para pekerja kantoran, profesional dan mahasiswa. Jadi mereka gak pakai jaket dan atribut seperti pengemudi Grab pada umumya. Asli, berasa nebeng mbonceng temen aja. Plus, harganya lebih murah dari ojek biasa.

Konsep nebeng ini diharapkan Grab bisa membantu sedikit mengurangi polusi kendaraan dan polusi yang dihasilkan kendaraan yang sudah ada sekarang. Ingat konsep 3 in 1 yang pernah lama menghiasi Jakarta? Jadi dalam 1 kendaraan gak cuma 1 orang yang naik. Buat pengemudi GrabHitch juga hasilnya kan lumayan yah, berangkat bekerja/kuliah sambil dapat sedikit tambahan halal. Dan buat penumpang, siapa tahu ketemu pengemudi yang seide sevisi dalam usaha/bisnis/pandangan hidup. Dari awalnya jodoh dalan nebeng, siapa tahu bisa jodoh dalam bikin usaha baru, kantor baru, atau dapat jodoh pasangan hidup 😀

Buat penumpang yang keberatan nebeng sama yang jenis kelaminnya beda, di GrabHitch bisa loh milih mau nebeng sama perempuan atau laki-laki. Seru kan.

Kalau kamu sudah tau mau berangkat kapan jam berapa dan kuatir sama kelangkaan pengemudi di jam-jam sibuk, di GrabHitch bisa pesan di muka sampai 7 hari ke depan! Bok, berasa nebeng amat temen/tetangga banget gak sih, jam tertentu udah standby di tempat buat jemput kamu tanpa diminta lagi (pengalaman nebeng tetangga jaman ngantor).

Jadi, cuss unduh aplikasinya sekarang juga, biar hari-hari ngantor/kuliah/meeting kamu satu langkah lebih mudah. Minimal dalam hal transportasi dan kenyamanan. Selamat nebeng!

 

 

 

Glamping di Trizara Resorts – Lembang

Apa yang ada di benakmu ketika mendengar istilah “Camping”? Kalau “Glamourous camping”? Kalau “Trizara Resorts?

Di benak saya, nanti pipisnya di mana? Heuheuheu. Pandangan saya soal berkemah ya gitu. Bobok di tenda di tengah alam, gak mandi, pipis di semak, makan masak di api unggun. Ala pramuka gitu (pramuka banget acuannya).

Ternyata gak semua camping kayak gitu, sodara-sodara. Ada yang namanya glamour camping. Berkemah glamor. Berkemah mewah. Apapula itu, pikir saya. Pertanyaan-pertanyaan saya terjawab setelah memasuki tenda saya di Trizara Resorts.

Perjalanan Jakarta-Lembang selama 6 jam karena pengalihan jalur untuk bus dan kendaraan besar akibat kerusakan jembatan Cisomang sempat bikin saya mikir, awas aja nih kalau campingnya di Trizara Resorts gitu-gitu doang. Gak sepadan ama perjalanannya.

Ternyataa.. begitu memasuki lokasi Trizara Resorts saya sudah mulai terhibur dengan udara dan anginnya yang sejuk. Lembang yang lagi agak mendung ditambah angin sepoi-sepoi berbau hujan, bikin pengen buru-buru rebahan di kasur sambil selimutan dan minum kopi.

 

But not so fast, karena kedatangan saya ke Trizara Resorts yang merupakan undangan dari rekan-rekan di Kanca Digital ini ternyata melibatkan puluhan blogger lainnya. Maka marilah kita berhahahihi kenalan sana sini dulu, sambil menikmati makan siang yang pindah ke sore saking macetnya perjalanan. Untung makanannya enak loh. Dan banyak. Dan sambalnya pedas. Ini penting! Trizara Resorts paham banget apa yang terjadi di perut kami setelah perjalanan panjang. Makanan enak dan hangat, restoran yang luas dan cantik, pemilik yang dengan ramah (dan ganteng ehehe) menyambut langsung kedatangan kami. Komplit.

DSC04529-01

Mr. Kunal salah satu pemilik Trizara Resorts. Ganteng. Ehe.

 

Baru di sana saya tahu ternyata yang datang ke Trizara Resorts gak cuma dari Jakarta dan Bandung saja. Ada yang dari Medan, Semarang, Filipina, dan Australia. Wow ramai! Dan sebagian besar merupakan blogger dan pejalan senior #sembah.

DSC04577-01

Makan siang yang tertunda

DSC04541-02

Kopinya Trizara Resorts enak :9

Selesai makan malam dan ice breaking ngobrol-ngobrol, saya dan rekan sekamar yang baru kenal saat sebelum naik bus dari Jakarta menuju Trizara Resorts (tapi dalam dua hari ke depan ngobrolnya udah dalem banget), Lutfi, mengambil kunci dan bergerak ke tenda kami. Sempet ditakut-takutin sama teman-teman yang sudah datang lebih dulu bahwa tenda kami letaknya jauh di lembah. Dheg. Tapi ya sudah lah, yang penting masuk tenda aja dulu rebahan.

Baru bersiap menuju ke tenda, eh hujan lumayan deras. Waduh gimana ini secara dari lobby ke tenda melalui ruang terbuka. Ternyataaaa… Trizara Resorts menyediakan mobil khusus buat mengantar tamu ke tenda masing-masing. Yak sip, gak perlu jalan ujan-ujanan!

DSC04526-01

Sesampainya di tenda saya langsung takjub dan girang. Takjub karena tendanya nyaman banget dan luaaass. Pemandangan tenda saya di kelas Zana agak kehalangan pohon tapi saya masih tetep bisa lihat kerlip lampu kota. Dan girang karena, kamar mandinya ada di dalam tenda 😀 Gak usah kuatir kudu jalan jauh kalau kebelet pipis tengah malam.

 

 

Tenda dilengkapi dengan alat pemanas air, kopi teh gula krimer, dua botol air mineral, dan sandal. Berasa di hotel. Gak usah bawa-bawa peralatan mandi standar macam handuk, sabun, sikat dan pasta gigi. Udah ada semua di Trizara Resorts. Bersih dan wangi pula.

Di tenda saya ada satu colokan dekat sisi tempat tidur. Sempet agak kecewa kenapa colokannya cuma satu, untung saya bawa colokan tambahan jadi saya dan Lutfi bisa saling nyolok dengan adil. Apa sih.

DSC04546-01

 

Berikut ini kamar-kamar yang saya dan kawan-kawan saya nikmati selama di Trizara Resorts:

 

 

 

 

Liat peti hitam di foto kedua? Ingat kekecewaan saya soal colokan? Nah ternyata kejutannya di situ. Peti tersebut ternyata berfungsi sebagai safety box. Kita bisa nyimpen gadget dan barang berharga lainnya di sana, tinggal digembok aja (dan jangan lupa gembok juga pintu tenda sebelum ke mana-mana ya). Pas buka peti buat nyimpen-nyimpen, saya nemu beberapa lubang “mencurigakan”. Pas saya buka, ternyata kecurigaan saya benar. COLOKAN! Dan banyak! Asik bener bisa ninggalin gadget sambil dicharge sementara saya keliling-keliling liat-liat keseluruhan Trizara Resorts :*

Trizara Resorts ini punya 4 jenis kamar:

  1. Netra (kata Koh Sinyo, kawan saya yang juga ikut menginap bersama, Netra 12 adalah yang pemandangannya terbaik dan banyak dipesan orang loh). Kapasitas 2 orang. Ukurannya 36 meter persegi.
  2. Zana. Kapasitas 2 orang juga. Konon cocok buat yang honeymoon karena letaknya paling bawah dan jarak antar tenda gak terlalu dekat, jadi gak banyak dilewati orang lain. Ukurannya 33,75 meter persegi.
  3. Nasika. Kapasitas 4 orang, cocok buat keluarga kecil atau bareng teman-teman dekat. Desainnya condong ke “classic”. Ukurannya 38,5 meter persegi.
  4. Svada. Kapasitas 4 orang juga, sama dengan Nasika. Bedanya di desain. Svada condong ke “rustic” design. Ukurannya sama dengan Nasika.

Di Trizara Resorts ternyata gak cuma bisa glamping aja. Ada beberapa kegiatan seru (BANGET) yang bisa kita ikuti di sana. Apa aja? Di postingan berikutnya aja ya :*

Yang pasti saya seneng banget bisa staycation di sini. Semua staffnya ramah (para staff Trizara Resorts adalah mereka yang tinggal di sekitar situ. Trizara Resorts juga menerima siswa siswi sekolah pariwisata yang mau praktek di sana), pelayanannya cepat tanggap, tempat tidurnya nyaman, tendanya anti bocor (2 malam kami di sana diterpa hujan lumayan deras, gak ada rembesan air hujan sama sekali di tenda!), pemandangan ciamik. Bener-bener pas buat yang mau romantis berdua pasangan, atau mau ngumpul gosip cantik bersama sahabat.

Kalau kamu mau glamping asik di Trizara Resorts juga, coba kontak ke:

Trizara Resorts

Jl. Pasirwangi Wetan,

Lembang, Indonesia

Nomor Telp:

+62 22 8278 0085

+62858 7169 8923

Atau colek mereka di: Trizara Resorts – Lembang

Mau ngintip sedikit penampakan Trizara Resorts? Coba cek Instagram mereka di sini, atau bisa juga lewat video ini:

Udah siap glamping di Trizara Resorts? 😉

Hidup adalah tentang bagaimana kita ingin dikenang orang lain

Apakah kita ingin dikenang sebagai orang yang tidak pernah menangis. Atau orang yang selalu mencaci. Atau orang yang menghabiskan hidupnya berusaha membahagiakan orang lain.

Buat saya, yang paling buruk adalah dikenang sebagai orang yang tidak meninggalkan kenangan. Tidak ada yang bisa mengenang apa yang pernah saya buat, apa yang pernah saya katakan. Tidak ada yang bisa mengenang saya sebagai manusia.

Sebuah kalimat bijak mengatakan, hiduplah hari ini seolah esok tak akan datang. Saya tidak pandai mengingat jadi sila bila ada yang ingin menambahkan kalimat siapa atau apa itu. Bagi saya, kalimat itu mengatakan, “Buatlah kenangan. Lakukan sesuatu. Katakan sesuatu.” Dan idealnya, buatlah kenangan yang menghangatkan hati.

Beberapa waktu belakangan ini, saya tidak melakukan apapun. Saya tenggelam dalam apa yang disebut zona kenyamanan saya. Yang sesungguhnya tidak terlalu nyaman juga. Saya jadi pemalas, jarang bergerak, jarang beraktivitas, jarang (mungkin sudah bisa dibilang tidak pernah) berkarya apapun.

Awalnya saya menikmati. Masa ini saya anggap masa istirahat di mana yang saya lakukan hanya tidur-tiduran sambil menonton film di komputer atau di ponsel pintar saya. Saya sibuk bermalas-malasan bersama berbagai akun media sosial saya. Jarang ketemu orang lain (kecuali suami), jarang berdiskusi, jarang membaca (kecuali novel-novel Stephen King). Total pemalas.

Kemudian saya menyadari sesuatu. Saya tidak bahagia dengan diri saya sendiri. Mungkin terlihat saya tidak bersyukur karena mungkin saja banyak orang-orang yang ingin melakukan apa yang saya lakukan. Atau mungkin memang saya tidak bersyukur. Apapun itu, saya merasa bodoh. Otak saya terasa jompo. Badan saya terasa membengkak. Dan emosi saya jadi naik turun. Ada masanya ketika saya bisa mengeluarkan kalimat bijak, tapi lebih banyak masanya ketika saya merasa marah pada sekeliling saya. Semua orang salah. Seisi dunia salah. Saya bosan. Saya lelah dengan kemalasan saya.

Dan pagi ini saya berpikir, apakah saya yang seperti ini yang akan diingat orang lain. Saya tidak tidak mempunyai pencapaian apa-apa. Saya yang sekadar jadi manusia medioker, atau malah di bawah medioker.

Dan itu, menakutkan saya. Si egois haus pujian haus pengakuan ini ketakutan. Ketakutan ini disiram bahan bakar berita yang saya baca tentang kematian ibunda dari seorang penyanyi muda ternama. Ibunda diingat sebagai manusia yang memberikan berkat bagi orang lain. Memberikan kebahagiaan ke sekelilingnya. Bukankah pada akhirnya, kenangan tentang kita lah yang abadi. Tidak dilupakan. Dan saya, si egois haus pujian haus pengakuan ini ketakutan. Saya takut dilupakan.

Di film, setelah kesadaran ini timbul akan muncul adegan potongan-potongan perubahan yang saya lakukan. Mungkin tiba-tiba muncul adegan saya sedang olahraga di pusat kebugaran. Adegan saya berlari di bukit. Adegan saya sedang serius mengetik rancangan novel di laptop. Atau adegan saya berkumpul dengan kawan-kawan di sebuah kafe, tertawa terbahak-bahak.

Di kehidupan nyata, saya tidak tahu adegan apa yang akan muncul. Mungkin malah pengulangan kemalasan saya sendiri. Berkali-kali. Atau mungkin semua yang saya sebut di atas.

Entahlah.

HIdup adalah tentang bagaimana kita ingin dikenang orang lain. Yang pasti, saya tidak ingin dilupakan. Saya ingin meninggalkan jejak.

Bagaimana kamu ingin dikenang?