Ada beton di mana-mana

Pada masanya, saya sering takjub lihat betapa cepatnya infrastruktur di jakarta dibangun dan selesai. Ya saya bukan ahli konstruksi, cuma bikin underpass atau jalan layang hanya dalam hitungan bulan itu buat saya ajaib. Saya bingung itu kok cepet amat betonnya kering. Nah beberapa hari yang lalu, terjawab sudah kebingungan saya.

Ternyata ada teknologi yang bisa membuat adonan beton cepat kering, dalam waktu 6-12 jam. Namanya Fastcrete. Fastcrete ini diproduksi oleh PT PionirBeton Industri (Pionirbeton/PBI), salah satu anak perusahaan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. (“Indocement”)

Tahu dari mana, Nit? Nah ini saya dapat informasinya ketika berkunjung ke salah satu batching plant PBI di Jakarta, tepatnya di daerah Kasablanka. Batching plant itu apa? batching plant merupakan tempat mencampur atau memproduksi bahan baku beton cair siap pakai dalam skala besar.

PT Pionirbeton Industri sendiri bermula pada tahun 1996 dengan nama PT Pioneer Beton Industri, sebuah perusahaan patungan gabungan (joint venture) antara PT Superbeton Perkasa Industri anak perusahaan dari PT Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk. dengan Pioneer International Holding Pty Limited dari Australia.

Pada tahun 2002 PT Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk. mengakuisisi 100% perusahaan ini dan menjadikannya sebuah badan usaha perseroan terbatas serta mengganti nama perusahaan menjadi PT Pionirbeton Industri.

Lebih dari 20 tahun berkiprah di Indonesia menjadikan PT Pionirbeton Industri sebagai perusahaan produsen beton terbesar di Indonesia yang memiliki 33 Batching Plant tersebar di seluruh Jawa dan Bali dengan kapasitas menghasilkan 3,500 m3 beton pada setiap hitungan jam.

Di bawah pengawasan Heidelberg Competence Center Readymix (CCR) wilayah Asia Pasifik berdomisili di Singapore, PT Pionirbeton Industri selalu berupaya mempertahankan posisi terdepan pada industri ini dengan senantiasa bergerak secara dinamis melakukan pengembangan berkelanjutan yang mengedepankan kualitas baik dari segi sumber daya manusia maupun pemanfaatan teknologi serta secara konsisten melakukan penerapan manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), manajemen mutu ISO 9001 dan manajemen lingkungan ISO 14001.

Di batching plant, semen jenis OPC (Ordinary Portland Cement) dicampur dengan pasir, batu, dan air dalam takaran tertentu untuk menghasilkan berbagai macam beton. Salah satunya Fastcrete tadi.

Di batching plant ini saya baru tahu bahwa pembuatan beton cair ini wajib memakai air layak minum, jadi gak sembarangan air. Buat apa? Ya supaya mutunya terjaga. Dan juga pakai…. es batu. Untuk mencegah kenaikan suhu beton cair selama pengadukan dan perjalanan dari batching plant ke lokasi tujuan. Kalau suhunya panas, betonnya gampang retak. Bahaya kan.

Nah dari batching plant, kami sempat mampir ke proyek Menara Jakarta di daerah Kemayoran. Rencananya sih mau liat proses pengecoran beton, tapi ternyata sudah selesai jadi kami gak jadi masuk.

Proyek Menara Jakarta ini terletak di Kemayoran, dekat dengan PRJ Kemayoran, tepatnya di Jln. H. Benyamin Sueb dengan developer proyek ini adalah Agung Sedayu Grup.

Proyek yang dibangun adalah gedung Superblock dengan enam tower di area seluas 4 hektar mulai dibangun pada Agustus 2017 dengan rencana selesai 2020. Kebutuhan betonnya sebanyak 240.000 m3 dan sampai dengan Nov 2017, Pionirbeton sudah memasok 25.000m3 beton siap-pakai.

Kemudian kami lanjut ke Bandara Soetta mengunjungi proyek lainnya, yaitu Automated People Mover System (APMS) Skytrain (Kalayang Bandara Soekarno Hatta).

Perkeretaan bandara ini mulai dari Railink Stasiun BNI City, Jakarta sampai Stasiun Soetta, Cengkareng, dilanjut Kalayang ke semua terminal, dan pengerjaan betonnya dilakukan oleh PBI.

Kalayang melayani penumpang ke semua terminal, yaitu terminal 1, 2, dan 3. Kemrin kami menaiki Kalayang dari stasiun Railink menuju Terminal 1 untuk menjajal fasilitas terbaru Bandara Soetta tersebut.

Seneng banget ada kereta ini, perpindahan antar terminal jadi mudah. Oh ya, kalau Railink ada kursi duduk dan dikenakan biaya Rp 70.000/orang sekali berangkat, Kalayang ini gratis dan tidak ada kursinya.

Proyek APMS ini merupakan Kerjasama Operasi (KSO) Wijaya Karya – Indulexco yang dimulai pada 2016 dan berakhir pada Q1 2018. Volume yang dipasok mencapai 43,000 m3. Banyak ya!

Dengan proyek sebesar ini kira-kira bagaimana inisiatif mereka dalam mengurangi limbah di lingkungan sekitar?

Ternyata banyak juga yang dilakukan, antara lain:

  • Setiap truk mixer yang keluar batching plant dicuci untuk menghilangkan sisa material produksi beton siap-pakai agar tidak tercecer di jalan atau tempat lain;
  • Corong truk mixer (tempat keluarnya produk beton siap-pakai) dilengkapi dengan penutup untuk menghindari tercecer sisa produk dijalan atau yang lain;
    Storage bahan baku beton siap-pakai di batching plant dilengkapi dengan atap untuk menurunkan tingkat penyebaran debu dan melindungi bahan baku dari air hujan.
    Belt conveyor di batching plant ditutupi dengan penutup untuk mengurangi polusi debu dalam transportasi bahan baku ke batching plant
    Sisa beton siap-pakai dikumpulkan di batching plant yang kemudian diambil oleh pihak ketiga (tidak dibuang sembarangan).
    Dilakukan aktivitas penghijauan di kawasan batching plant sebagai sekat alamiah untuk polusi debu dari aktivitas operasional
    PBI melakukan treatment khusus untuk air limbah yang dipakai dalam proses produksi sebelum dibuang.
    Setiap karyawan maupun kontraktor wajib untuk mengenakan alat pengaman diri (APD) dalam aktivitas sehari-hari di batching plant.

Apakah beton PBI ini cuma boleh dibeli proyek besar? Nggak dong. kalau kamu mau pesan beton buat bangun/renovasi rumah juga boleh banget.

Tinggal kontak ke Call Center 08001037632, trus tekan 2 buat beton. Atau kamu anak belanja online, maunya beli online aja? Bisaaa banget. Cuss meluncur ke www.tokotigaroda.com ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *