Patah hati di Ramadan hari pertama (end)

Many places I have been
Many sorrows I have seen
But I don’t regret
Nor will I forget
All who took that road with me

Night is now falling
So ends this day
The road is now calling
And I must away

Malam itu saya sedang rebahan di sofa kesayangan sambil mengamati keriuhan di linimasa Twitter saya, saat saya mendapat notifikasi dari salah satu WhatsApp Group yang saya ikuti. Ternyata dari Simbok Venus.

Simbok: Teh Nit, Ibu Penyu itu Vindhya ya?

Saya: Iya, Mbok

Simbok: Innalillahiii

Saya: APA? KENAPA?

Saya langsung bergegas membuka tab mention akun Vindhya, dan menemukan tautan ini:

 

//platform.twitter.com/widgets.js

Ada apa ini?! Saya kembali ke group dan mendapati kabar bahwa Vindhya Sabnani alias Ibu Penyu, meninggal dunia.

Siapa Vindhya Sabnani? Ipink, biasa dipanggil demikian, adalah salah satu pejalan yang termasuk sering saya ikuti kabar perjalanannya. Saya kenal Ipink dari Twitter, kemudian ke Instagram, kemudian kami bergabung di dalam satu WhatsApp Group yang sama. Saya bukan kawan dekat Ipink, tapi Ipink selalu membuat semua orang merasa dekat dengannya. Her smile, her laugh, her joyful and kind spirit were contageous.

And now, she’s gone. Heaven has called one of their most precious angels home. Leaving us.

Beberapa hari setelah mendapat kabar tersebut, saya menghadiri pemakaman Ipink. Di hari pertama puasa Ramadan. Saya sudah berjanji, tidak mau menangis. Hati saya sudah patah sekali hari itu, saya tidak mau patahkan lagi.

Ternyata saya salah. Hati saya patah lagi. Bukan, bukan lagi karena kepergian Ipink. Tapi karena selama prosesi pemakaman, saya melihat hati-hati lain yang patah. Terutama hati kedua orang tua Ipink.

Melihat ayahanda Ipink membuka peti jenasah perlahan. Berlutut di bagian kepala. Membisikkan doa bagi anak perempuannya yang terlampau cepat pulang. Melihat kerut wajahnya saat menangis.

Melihat ibunda Ipink, duduk di dekat peti jenasah. Tatapannya kosong menerawang. Seolah tanpa emosi. Tapi sebagai sesama ibu, saya mungki bisa dibolehkan berkata, “I think I kinda know how she feels.” Dukacita yang begitu kuat sampai tidak bisa dibahasakan dalam kata-kata dan mimik wajah.

Pagi ini hati saya patah saat bersalaman dengan seorang bapak dan seorang ibu yang kehilangan putri mereka. “Maafkan salah-salahnya ya, titip doakan terus,” isak sang bapak sambil mengenggam erat jemari saya saat kami bersalaman. “Ipink anak baik, Pak. Semua sayang sama dia,” sahut saya. Ayahanda @vindhyaaa semakin terisak dan saya melangkah menjauh, tak cukup bernyali untuk menemani lebih jauh kepedihan seorang bapak yang kehilangan putrinya. . . “Ini pasti teman traveler juga ya,” sambut sang ibunda saat menyambut salam saya. Ibunda yang selama prosesi pemakaman menatap jasad anaknya ditimbun tanah dengan tatapan menerawang. . . Di sekitar saya air mata tumpah ruah dari para pelayat. Sesekali terdengar tawa saat membicarakan polah Ipink semasih hidup. Ah, mengapa kami harus berkumpul dalam sebuah pemakaman begini. . . Selamat istirahat Ibu Penyu. Semoga kita diperkenankan berjumpa lagi dalam keadaan baik di sebelah sana. Sisakan cerita buat kami yang di sini nanti ya. Kami butuh senyum dan tawamu, tapi surga nampaknya ingin juga menikmatinya. Baik-baik di sana ya. Titip doa buat hati-hati patah hari ini ke Tuhan..

A post shared by Nita Sellya – Gusti (@nitasellya) on

//platform.instagram.com/en_US/embeds.js

They say no parent should bury their children. But then again, life happens.

//platform.instagram.com/en_US/embeds.js

Saat mendapat kabar duka soal mereka, pas banget saya lagi denger lagu ini. Sedihnya makin pol-polan.

PS: Berita tentang kematian Ipink dan Sobar, sahabatnya, dan siapa mereka bagi pariwisata terutama di wilayah Flores, bisa dibaca di sini.

Patah hati di Ramadan hari pertama (bagian 1)

Pagi ini hati saya dua kali patah. Puasa hari pertama dan dihiasi air mata. Patah hati pertama adalah saat saya menyadari hari ini adalah peringatan 11 tahun gempa Jogjakarta 2006. What, 11 years ago already? Saya masih ingat detilnya seperti baru setahun lalu terjadi.

27 Mei 2006 jam 05.45 saya terbangun dengan malas di Hotel Sahid Raya Jogjakarta. Saya baru masuk kamar jam 01.30 dan tidur sekitar jam 02.00. Pagi itu harus bangun pagi-pagi karena agenda perjalanan masih banyak dan dimulai segera setelah sarapan. Saya baru saja meraih ponsel saya untuk menghubungi keluarga di rumah saat saya mendengar suara gemuruh.

Hal pertama yang saya pikirkan, “Merapi!” Karena beberapa hari sebelum kedatangan saya ke Yogyakarta, Gunung Merapi sedang batuk lumayan parah. Gemuruh disusul segera dengan guncangan yang tanpa basa-basi. Televisi di meja kamar bergeser dan bruk! jatuh. Saya membeku. Kawan sekamar saya sudah berteriak menyebut nama Tuhan sambil menangis. Tidak lama kemudian saya melihat gatis tipis retakan muncul di tembok di depan saya. Saya menatap langit-langit kamar sambil berpikir, “Jadi hari ini saya mati?”

Suara gemuruh terasa muncul dari mana-mana dan guncangan belum juga mereda. Saya berusaha bangun dengan sempoyongan. Perjalanan dari kasur ke pintu kamar hotel terasa sangat jauh dan sulit. Setengah perjalanan saya menuju pintu, guncangan dan gemuruh mereda. Di lorong hotel terdengar banyak teriakan doa dan panik.

 

//platform.twitter.com/widgets.js
Segera setelah guncangan selesai, saya kembali ke kamar, masuk ke toilet. Lah ngapain? Pakai beha, lah. Tidur mana enak kalau pakai beha yes, jadi semalem saya copot dulu, pakai daster, dan sebelum keluar kamar baru saya pakai lagi.

Aaanyway. Di halaman hotel sudah berkumpul para tamu. Ada yang berpakaian lengkap, ada yang cuma handukan, ada yang menangis, ada yang bengong, ada yang berdoa. Yang saya salut, pihak hotel dengan cepat menyiapkan teh manis hangat dan mengeluarkan bermacam roti untuk dibagikan ke tamu. Mengurangi shock.

Kami baru berkumpul di halaman hotel mungkin selama 30 menit ketika terdengar teriakan-teriakan dari jalan raya, “AIIR! AIIR! TSUNAMII! TSUNAMIII!

 

//platform.twitter.com/widgets.js
Saya langsung terduduk lemas. 26 Desember 2004 terjadi gempa hebat yang disusul oleh tsunami di Banda Aceh, saya menyaksikan kedahsyatannya melalui televisi. Dan hari ini nampaknya saya akan merasakannya langsung.

Kepanikan pecah. Beberapa orang memanjat atap bus dan pohon, sepasang lelaki dan perempuan jongkok berpelukan sambil menangis, seorang bapak langsung menarik anak dan istrinya memasuki mobil mereka dan bersiap pergi.

Saya? Pasrah. Duduk di parkiran sambil menyalakan rokok dengan gemetar. Udah sih gak bisa berenang, tsunami pula. Mau ngelawannya gimana?

Dan di sini saya menyaksikan kesigapan pihak hotel Sahid Raya Jogjakarta dalam menenangkan tamu. “Tidak ada air, tidak ada tsunami, aman semua!” teriakan para staff hotel bergema di antara kepanikan. Butuh waktu cukup lama untuk bisa meyakinkan kami, terutama karena di jalan raya terlihat orang-orang berlarian panik.

Tour leader rombongan saya menanyakan, apakah tour mau dilanjutkan atau pulang? Kami semua memilih pulang. Perjalanan keluar dari Jogjakarta tidak mudah. Jalanan dipenuhi manusia dan kendaraan. Di sana lah saya mulai mendapat “teaser” hasil gempa tadi. Bangunan runtuh, banyak motor lalu lalang membawa korban berdarah-darah. Saya menutup gorden jendela bus. Hati saya sakit. Saya mau pulang.

Sinyal telepon mati sama sekali, tak peduli mau sebagus apa providernya. Kami pulang dalam diam dan doa. Tidak ada suara lain selain isak tangis dan dengungan doa.

Sampai di Cilacap baru kami berhenti untuk istirahat dan makan malam. Menyaksikan berita televisi dan sms bertubi-tubi yang masuk (sinyal baru ada lagi), kami ternganga. Ratusan (saat itu masih dalam angka ratusan) korban jiwa, entah berala yang kehilangan tempat tinggal dan orang-orang yang mereka cintai. Terbersit dalam pikiran saya, “kami nyaris saja jadi sekadar angka.”

Hingga 2 tahun ke depannya, saya masih terlonjak kaget setiap mendengar suara gemuruh sekecil apapun, merasakan guncangan sepelan apapun. Selama 2 tahun ke depannya saya bersikukuh meletakkan sebuah tas bepergian di sebelah kasur saya di rumah, berisi pakaian, obat, air minum, dan makanan.

Pagi ini, hati saya patah mengingat kejadian tersebut. Mengingat isak tangis supir kantor saya yang istri dan ketiga anaknya (termasuk anaknya yang baru berusia sebulan) tewas tertimbun reruntuhan gempa. Mengingat betapa kecilnya saya sebagai manusia saat berhadapan dengan alam. Mengingat lebih dari 3.000 nyawa yang melayang hari itu.

//platform.twitter.com/widgets.js

(bersambung)

Semarang Menggelora di Semarang Night Carnival 2017

Saya suka banget sama festival. Keriaannya, kemegahannya, keramaiannya, kehebohannya. Seru. Apalagi kalau nontonnya sama teman-teman yang seru juga. Makanya langsung semangat saat dapat kabar bahwa awal bulan Mei 2017 kemarin saya dan belasan blogger lainnya diajak oleh Badan Promosi Pariwisata Kota Semarang (BP2KS) menyaksikan Semarang Night Carnival, dalam rangka perayaan ulang tahun kota Semarang yang ke 470. Wew sudah tua juga ya Semarang ini.

Semarang Night Carnival 2017 adalah SNC yang ke 6, yang pertamanya diadakan tahun 2011 dan langsung menyedot banyak pengunjung dari berbagai kota bahkan mancanegara. Sebagian kecil keriaannya bisa dilihat di sini:

Tahun ini Semarang Night Carnival mengusung tema “Paras Semarang 2017”. Dimulai dari titik nol kilometer Kota Semarang, melewati Lawang Sewu, dan berakhir di Balaikota Semarang. Sejak awal kemeriahannya sudah terasa. Dimulai dari berbagai lagu yang diputar sebagai teman menunggu mulainya karnaval (heeey bikin joget!), kemeriahan hiasan panggung utama, dan wajah-wajah antusias para penonton.

Semarang Night Carnival dibuka oleh Canka Lokananta marching band kebanggan Korps Taruna Akademi Militer Magelang. Testosterone galore! Saya yang tadinya mulai ngantuk karena nunggu acara yang rada ngaret mulainya, langsung byur seger dikasih pemandangan dedek-dedek gaagh ganteng main marching band. Apalagi yang pakai baju loreng bersayap dengan penutup kepala berbentuk kepala macan. Sebutannya adalah “Macan Lembah Tidar”. Mereka meliuk-liuk menabuh drum dengan kekuatan penuh nyaris tanpa terlihat lelah. Dan tau gak sih, konon penutup kepala tersebut ada yang berasal dari… kepala macan beneran yang diawetkan. Tapi yang kayak gini biasanya dipakai buat acara super khusus, misalnya tampil di Istana Negara. Selain itu penutup kepala yang dipakai adalah kepala macan artifisial. Tetep aja, macan. Gahar.

Semarang Night Carnival 2017

Salah satu Macan Lembah Tidar memanfaatkan jeda beberapa detik untuk beristirahat sejenak. Sini dek, teteh pijetin *hilang fokus*

para prajurit pun ikut serta memeriahkan acara. #semarangnightcarnival2017 #snc2017

A post shared by Rezky Tirta Aditya (@rezkyimage) on

//platform.instagram.com/en_US/embeds.js

//platform.instagram.com/en_US/embeds.js

Selain penampilan dedek-dedek gagah ini, Semarang Night Carnival 2017 (SNC 2017) juga dimeriahkan oleh penampilan si cantik burung blekok. Bukan, bukan burung beneran. Melainkan penampil memakai kostum yang mencerminkan burung blekok.

//platform.instagram.com/en_US/embeds.js

Semarang Night Carnival 2017

Megahnya kostum burung blekok

Semarang Night Carnival 2017

Kostumnya dikasih lampu jadi pas di tempat yang agak gelap, dia kinclong sekali <3

Semarang Night Carnival 2017

Cantik sekali ya :’)

Selain itu ada beberapa kostum lain yang tak kalah megah dan cantiknya.

Semarang Night Carnival 2017

Kostum kembang sepatu

Semarang Night Carnival 2017

Kostum kuliner. Liat ada potongan gambar ikan di situ. Itu ceritanya bandeng presto yang khas Semarang itu 😀

Semarang Night Carnival 2017

Semarang Night Carnival 2017

Semarang Night Carnival 2017

Semarang Night Carnival 2017

Btw, kostum-kostum ini beratnya bisa mencapai 15 kilogram, dan mereka kenakan seraya berjalan kaki sejauh kurang lebih 1,3 kilometer. Saya bawa beras 10 kilo dari minimarket dekat rumah yang jaraknya sepertiganya aja minta bantuan suami (emang saya pemalas aja sih).

Di Semarang Night Carnival 2017 ini semua penonton tumpah ruah campur aduk bersama-sama tanpa ada pembedaan (kecuali pembedaan tempat duduk VIP, rombongan kami di situ duduknya *penting banget Nit*) sama sekali. Mengingatkan saya akan Indonesia dan keberagamannya 🙂 Apa perlu diadakan festival meriah setiap bulan supaya kita punya kepentingan bersama dan tetap ingat bahwa “Saya Indonesia”, tanpa pembedaan berdasakan faktor apapun ya?

Rombongan blogger #famtripblogger2017 #SNC2017

Buat yang pengin liat lebih jelas kemeriahan Semarang Night Carnival 2017, bisa nonton di video di bawah ini:

Atau di blog rekan-rekan seperjalanan saya kemarin (saya copy paste caption dan linknya dari blognya Zia Ulhaq *salim* 😀

Daeng Ipul Terkadang Lupa Umur, Rere Kuch Hota Hai, Lenny Indonesia Banget, Tari Tak Suka Menari, Titi Parah1ta Yang Entah Mengapa Harus Pakai Angka Satu, Mbak Prima Malu-Malu Tapi Mau Ehm, Richo Tukang Ngancem, Gus Wahid Penikmat Tidur Kesiangan, Timothy Ketumbar Miri Jahe, Oline Yang Suka Kebaca Online, Dewi Yang Datang Sama Suaminya, Dimas Suyatno Yang Kok Dipanggil Yatno Dan Ternyata Suaminya Dewi, Wira Pengagum Si Rambut Panjang, Pungky Yang Bangga Berlabel Blogger Desa, Aryan Dramakingqueen, dan Koh Sinyo Penggelar Konser Ngorok.

Photo credit: dokumentasi pribadi, dan Koh Jhon (yang bagus-bagus).

Ada cinta sampai mati di Tampang Allo, Tana Toraja

Memasuki gua Tampang Allo, saya merasakan keheningan dan kedamaian yang tidak biasa. Tempat ini adalah tempat persemayaman raja-raja dan bangsawan lama, terlihat dari bentuk tau-tau yang masih berbentuk tau-tau lama. Gua ini tidak terlalu luas, namun tinggi menjulang dan terbuka hingga tidak meninggalkan kesan pengap. Di sekelilingnya adalah sawah dan tumbuhan liar. Menuju gua Tampang Allo sebenarnya tidak terlampau jauh dari pintu gerbangnya, namun keheningan sepanjang jalan membuat saya merasa memasuki dunia yang berbeda.

2017-05-04_11-47-36

Menuju gua Tampang Allo

Di Tampang Allo saya melihat banyak tengkorak dan tulang belulang ditumpuk di beberapa tempat. Menurut tour guide kami, asalnya dari erong yang sudah lapuk dan jatuh. Tulang belulang tersebut tidak sembarangan langsung diambil dan ditumpuk begitu saja, melainkan melalui upacara adat yang dilakukan oleh keluarga. Luar biasa ya penghormatan Toraja kepada jasad manusia, bahkan menjadi tulang belulang.

2017-05-04_11-50-52

Tulang belulang manusia di gua Tampang Allo

Dan tak sekadar makam, Tampang Allo ternyata merupakan bukti cinta sepasang manusia pada satu sama lain, dan dua keluarga besar kepada perdamaian.

2017-05-04_11-58-02

Erong dan tau-tau

***

Gua pemakaman Tampang Allo di Tana Toraja ini dimulai dari keinginan seorang suami istri yang ingin dimakamkan bersama, bernama Puang Manturio dan Rangga Bulaan. Sang suami, Puang Manturino, adalah seorang penguasa Sangalla di abad ke 16 lalu.

Mereka memiliki cinta yang besar satu sama lain sehingga bersikeras untuk dimakamkan dalam satu tempat yang sama, yaitu di Gua Tampang Allo. Umur tak dapat ditebak, ternyata yang meninggal terlebih dahulu adalah sang istri, Rangga Bulaan. Jasadnya langsung dimasukkan ke dalam rong (lubang) Tampang Allo.

Kepergian Rangga Bulaan membawa duka mendalam bagi Puang Manturino. Hidup tak sama lagi tanpa separuh nyawanya. Tak lama setelah kepergian Rangga Bulaan, Puang Manturino pun berpulang. Death by broken heart is real.

2017-05-04_11-49-10

Gua Tampang Allo dari depan

Tidak seperti janji sepasang suami istri tersebut, jasad Puang Manturino tidak dimasukkan ke dalam gua Tampang Allo, melainkan dimakamkan di gua Losso, tak jauh dari gua Tampang Allo. Di sini ajaibnya. Saat meninggal dunia, jasad dimasukkan ke dalam erong (peti mati) sebelum diletakkan di gua. Entah bagaimana caranya, suatu hari erong Puang Manturino ditemukan dalam keadaan kosong. Setelah diperiksa, ternyata jasad Puang Manturino sudah berada dalam erong Rangga Bulaan, dalam keadaan berpelukan. Ajaib.

2017-05-04_11-45-47

Langit-langit gua Tampang Allo

Puang Manturino adalah raja Sangalla. Ketika dia tiada, maka harus ada penerusnya. Maka dari itulah muncul Puang Musu sebagai raja Sangalla yang selanjutnya. Tanda kepemimpinannya adalah pusaka kerajaan yang bernama Baka Siroe’. Puang Musu ini pun juga dijadikan sebgaai pimpinan Tongkonan Puang Kalosi.

Di masa pemerintahan Puang Musu, kerajaan Sangalla mendapat serangan dari Kerajaan Bone. Pada saat peperangan berlangsung, sang raja baru, Puang Musu melarikan diri menuju ke Madan dengan melewati sungai Sa’dan. Pada saat itulah Puang Musu bertemu dengan Karasiak.

Ada niat tersembunyi dari Karasiak. Dia menginginkan pusaka kerajaan yang dibawa oleh Puang Musu. Melihat Puang Musu sedang membawa senjata kerajaan, Karasiak berusaha merebut senjata tersebut dengan cara membunuh Puang Musu. Sejak saat itulah keluarga Puang Musu dan Karasiak tidak pernah berdamai.

2017-05-04_11-43-56

Salah satu jalan keluar dari gua Tampang Allo, selain dari mulut gua

Tahun 1934 ada niatan untuk berdamai antara keturunan Karasiak dan Puang Musu dengan menikahkan antar keturunan. Mereka pun menjadi satu keluarga dan bersepakat untuk menjadikan gua Tampang Allo sebagai pemakaman keluarga.

2017-05-04_11-56-56

Gua Tampang Allo dengan salah seorang rekan seperjalanan kami sebagai pembanding ukuran mulut gua

 

Ngopi di warkop Kong Djie Simpang Siburik, Tanjung Pandan, Belitung

Katanya sih, belum ke Belitung (terutama Tanjung Pandan) kalo gak ngopi di warkop Kong Djie Simpang Siburik . Makanya saya keukeuh bela-belain harus ke warkop Kong Djie legendaris ini saat berkunjung ke Belitung. Didirikan oleh Ho Kong Djie dalam keadaan tidak memiliki banyak uang. Dia membeli beberapa kilo kopi dan gula, membuka warung kopi di daerah Buluh Tumbang, sebelum akhirnya membuka kedai baru di sudut Simpang Siburik ini tahun 1943. Tak cuma kopi, Kong Djie juga terkenal dengan coklatnya. Harga kopi dan coklat saat ini berkisar antara 10 ribu-15 ribu rupiah per gelas. Kong Djie sekarang sudah memiliki beberapa cabang di Belitung, Palembang, Jakarta, Jogja, Bandung, dan Batam.

DSC08872

Saat ini pengelolaan warkop Kong Djie dipegang oleh putera Ho Kong Djie, Ishak Holidi. Saat saya menanyakan apakah putra-putrinya berminat meneruskan usaha kopi ini kelak, Pak Ishak (yang memiliki seorang putri) menatap ke jalan yang ramai dengan sedikit guratan kesedihan, lalu menggeleng pelan. Saya jadi ikut sedih 🙁

DSC08874_2

Di hari-hari biasa (bukan hari libur) mereka yang menyeruput kopi sambil bersantai di Kong Djie Simpang Siburik adalah pelanggan-pelanggan lokal yang setia. Warga Belitung memiliki kebiasaan menggunakan kedai kopi untuk bersantai dan berdiskusi berbagai macam hal.

DSC08875

Menariknya, para pelanggan lokal ini memilih untuk tidak datang di hari libur, agar para wisatawan mempunyai kesempatan menikmati segelas kopi, kopi susu, atau coklat di sini. Kapasitas Kong Djie Simpang Siburik yang tidak terlalu besar (mungkin muat 20-30 orang kalau penuh banget), buat saya justru asik. Jadi lebih akrab sesama pengunjung dan tidak terlalu bising.

DSC08873_1

Buat yang berminat membuka cabang warkop Kong Djie di tempatmu, persyaratannya tidak terlalu sulit:
• membayar biaya franchise mulai dari 30 juta untuk seumur hidup,
• mengirim tukang karau (barista) untuk berlatih membuat kopi di Kong Djie Simpang Siburik ini selama minimal 2 minggu,
• membeli stok kopi langsung dari warkop Kong Djie Simpang Siburik,
•lokasi tidak berdekatan dengan cabang Kong Djie lainnya, dan
•pemilik juga ikut serta dalam pelatihan pembuatan kopi di sini.
Kata Pak Ishak, franchise-ing warkop Kong Djie ini belum terlalu beliau jalankan secara serius. Karena baginya konsep  warkop Kong Djie adalah warung kopi biasa, bukan warung kopi ala bule yang mewah dan pakai sistem tertentu.
Dalam sehari warkop Kong Djie Simpang Siburik bisa menghabiskan hampir 10 kilo kopi, dengan perhitungan setiap 600 gram bisa menghasilkan 17-20 gelas kopi. Jadi per hari bisa terjual 200-300 gelas kopi! Cara membuat kopinya unik, pakai teknik saringan kopi yang berasal dari para perantau Cina daratan yang datang ke Belitung tempo dulu. Kopinya sendiri masih “impor” dari Lampung (robusta) dan Jawa (arabica), karena Belitung belum memiliki kopi sendiri. Kedua jenis kopi tersebut kemudian dicampur dengan takaran tertentu yang menghasilkan cita rasa kopi khas Kong Djie.

DSC08867

Jangan lupa mampir ke warkop Kong Djie Simpang Siburik saat ke Belitung ya. Menikmati es kopi susu bersama pisang goreng renyah, sambil bercengkrama bersama pengunjung lain. Menurut Pak Ishak, bangunan warkop Kong Djie Simpang Siburik sudah direncanakan untuk diperluas dengan ditingkat ke atas, bagian atas akan disediakan AC bagi yang kurang nyaman dengan cuaca panas, dan bagian bawah akan dibiarkan seperti bentuk aslinya.

2017-05-03_10-02-59

Pesan dari Pak Ishak Holidi: Kalau mau sukses dalam melakukan sesuatu, walau sekadar bisnis warung kopi, jalanilah dengan serius dan penuh dedikasi. 🙂