Pesona Toraja: Goyang lidah bersama makanan dan minuman Toraja

Suatu tempat seringkali tidak hanya unik dalam budayanya, kuliner juga merupakan keunikan tersendiri dari tempat tersebut. Mengunjungi suatu tempat, terasa ada yang kurang bila tidak sedikitnya sekali mencicipi makanan dan minuman khas yang ada di sana. Setuju? Dan walaupun mungkin makanan suatu daerah tersedia juga di tempat lain, tetap saja penasaran ingin mencicipi rasa aslinya ketika berkunjung ke tempat makanan itu berasal. Berikut ini beberapa kuliner Toraja yang sempat saya temui selama kunjungan ke Tana Toraja.

  • Pa’piong

2017-04-26_06-35-01

Terbuat dari campuran daging, daun miana (bisa diganti dengan burak, pohon pisang yang masih muda), bawang merah, bawang putih, sereh, cabai, garam dan jahe, pa’piong dimasak dengan cara yang khas. Setelah semua bumbu (selain daging) dihaluskan, mereka dibungkus menggunakan daun pisang, lalu dimasukkan ke bambu muda berukuran besar, diameter antara 10-15 cm dengan panjang sekitar 1 meter. Bambu seukuran ini bisa menampung hingga 10 bungkus pa’piong.

2017-04-26_06-37-39

Kemudian bambu dibakar dengan sudut kemiringan 30-45 derajat. Sambil dimasak, bambu diputar-putar agar panas dan kematangannya merata. Pa’piong yang sudah matang ditandai dengan uap air yang menguar dari batang bambu dan seluruh permukaan bambu gosong menghitam. Memasak pa’piong ini tidak bisa dalam waktu singkat. Setidaknya memakan waktu 1-2 jam.

2017-04-26_06-36-24

Pa’piong memiliki berbagai macam nama sesuai dengan isiannya: Pa’piong bai (daging babi), pa’piong bale (berisi ikan, biasanya ikan mas), dan pa’piong manuk (berisi ayam).

Ada sebuah bacaan mengenai sejarah pa’piong ini yang saya dapat dari blog seorang pejalan bernama Iqbal Kautsar:

Konon dahulu, ketika leluhur suku Toraja, Pong Gaunti Kembong, sedang terbang, dia melihat seorang wanita yang sangat menawan di daratan. Dia ingin menangkapnya. Sayangnya tatkala akan ditangkap, sang perempuan itu masuk ke dalam batu.
Sang perempuan itu minta syarat Paโ€™Piong Sanglampa (satu ruas bambu dipiong). Pong Gaunti Kembong memenuhi syarat itu dengan membuat Pa’ Piong Sanglampa.

Akhirnya sang perempuan di batu tadi keluar dan dikawini Pong Gaunti Kembong. Dari perkawinan ini, kemudian lahir Puang Mattua. Puang Mattua ini menjadi leluhur yang disakralkan masyarakat Toraja. Dia bersemayam di sebelah utara Toraja (itulah kenapa Tongkonan selalu menghadap ke Utara).

sumber dari sini.

Pada masanya, pa’piong disajikan hanya di upacara-upacara besar, namun kini bisa ditemukan secara bebas di Toraja. Rasa pa’piong ini gurih berkat lemak daging dan bumbunya yang meresap hingga ke tulang. Pa’piong yang saya makan adalah pa’pong ayam. Waktu pa’piong tersebut dikeluarkan dari bambu, uap yang menguar membawa harumnya memenuhi ruangan. Daging ayamnya sangat lembut dan mudah lumat. Tidak ada amis daging terasa atau tercium berkat campuran jahe dan sereh.

  • Sambal lada katokkon

Saya baru mau mulai menyendok pa’piong yang hangat dengan harum menggoda, ketika Laras salah satu teman seperjalanan saya menjerit dan batuk-batuk.

“Pedes amat padahal cuma ngambil sesendok kecil,” ujarnya sambil menunjuk ke semangkuk sup daging di depannya, kemudian buru-buru menenggak segelas air. Saya menatap sup daging yang memerah terkena sambal, kemudian menatap sambal yang jadi tertuduh. Nampak sama seperti sambal mentah yang sering saya bikin di rumah. Terbuat dari cabai merah dan garam, dengan sedikit kucuran jeruk nipis. Lalu saya mencuil selembar kecil cabai yang tidak tergerus halus dan mencobanya. ASTAGA INI APAAAAA! Pedasnya luar biasa, padahal hanya secuil. Apa kabar Laras yang memasukkan sesendok ke supnya.

2017-04-26_06-32-13

“Itu pakai paprika Toraja, ” jelas Pak Najamuddin, tour guide kami sambil tertawa. Saya protes. Mana ada paprika pedas. Paprika sih malah manis dan kadang sedikit pahit.

“Ini loh, ” Pak Naja beranjak sejenak ke dapur rumah makan dan membawa sebutir cabai yang bentuknya seperti kombinasi tomat cherry dan paprika. Namanya lada (cabai) katokkon. Cabai khas Toraja. Sungguh lah satu butir lada ini bisa menggantikan segenggam cabai rawit merah yang saya kenal di rumah, saking pedasnya. Kalau kamu mengaku penyuka pedas, berarti harus banget icip sambal lada katokkon ini. Di semua rumah makan, sambal ini disediakan terpisah dari hidangan. Mungkin untuk mencegah lidah pengunjung luar Tana Toraja tidak terbakar :))

  • Ballo’

“Berapa harga ballo‘nya, indo’?” tanya saya ke seorang indo’ (ibu) pedagang tuak khas Toraja di Pasar Bolu, Rantepao.

“Gayung yang ini 20 ribu, yang ini 30 ribu.”

Iya, ballo’ dijual dengan takaran gayung di pasar. Luar biasa :))

2017-04-26_06-46-35

Ballo’ terbuat dari fermentasi pohon enau. Kehadirannya di Tana Toraja tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari sebagai penghangat tubuh di kala udara dingin datang, bersantai bersama sejawat, dan terutama di berbagai upacara adat. Penjualnya bisa ditemukan dengan mudah di pasar (dalam kemasan jerigen dan takaran gayung), warung khusus menjual ballo’, atau rumah makan. Penikmatnya pun tidak terbatas jenis kelamin dan usia. Saya rasa satu-satunya pembatas diri dalam mengkonsumsi ballo’ di Tana Toraja adalah diri sendiri dan orang tua (buat yang belum memasuki usia dewasa). Tidak ada niatan untuk mabuk di sini. Di Tana Toraja meminum ballo’ sama seperti kita menikmati teh atau kopi. Sebagai hal yang wajar. Konon ada ungkapan yang menyatakan “Tannia toraya ke tae na mangngiru” atau “Bukan orang Toraja jika tidak minum minuman keras”.

2017-04-26_06-45-05

Bagi sebagian orang ballo’ juga dianggap berkhasiat sebagai menambah tenaga. Sedangkan ballo’ yang disajikan dalam ritual adat biasanya berfungsi mempererat tali persaudaraan, pencair suasana, mengakrabkan diri dengan orang lain juga sebagai ungkapan terima kasih dari tuan rumah kepada para tamu yang telah hadir. Jadi setiap kali sebuah keluarga menggelar upacara adat maka sebagai penghormatan para tamu akan meminum tuak yang disediakan.

  • Pantollo’ Pamarrasan

Pamarrasan adalah makanan yang dibumbu pangi, yang mungkin lebih sering kita kenal sebagai keluak. Buah pangi dibelah dan biji-bijinya dijemur hingga kering dan isinya berwarna hitam. Nah isi biji pangi berwarna hitam ini biasanya dijemur lagi untuk kemudian ditumbuk menjadi bubuk. Bubuk inilah yang kemudian menjadi bumbu utama pantollo’ pamarrasan. Pantollo’ pamarrasan terbagi-bagi menjadi beberapa jenis yaitu: Pantollo’ duku bai (daging babi), pantollo’ bale (ikan, biasanya ikan mas), pantollo’ lendong (belut), dan pantollo’ tedong (daging kerbau).

2017-04-26_06-30-22

Buah pangi yang baru dibelah (atas), biji buah pangi yang masih mentah (belum dijemur) berwarna putih (kiri), biji buah pangi yang sudah dijemur hingga kering dan siap ditumbuk berwarna hitam (kanan)

2017-04-26_06-43-07

Biji pangi (keluwak) yang sudah menjadi bubuk siap diolah menjadi pantollo’ pamarrasan

2017-04-26_06-41-24

Pantollo’ pamarrasan duku’ bai

  • Deppa tori

Terbuat dari tepung beras dan gula merah dengan taburan wijen, deppa tori sangat mudah ditemukan di mana-mana di Tana Toraja. Deppa tori juga dikenal sebagai deppa te’tekan di Enrekang dan cicuru’ di daerah Bugis. Teksturnya renyah di bagian luar dan lembut di bagian dalam dengan sedikit sentuhan tekstur “pasir” dari tepung berasnya. Deppa tori menjadi salah satu penganan di setiap upacara adat, maupun camila sehari-hari. Saya mencoba beberapa buah, sedikit terlalu manis buat saya. Cara membuatnya ternyata sangat mudah, bisa dilihat di video di bawah ini yang saya dapat dari kanal YouTube milik Seri Cara Membuat.

2017-04-26_06-39-39

Deppa tori di pasar, dijual seharga 20 ribu – 30 ribu rupiah per kilo

Jangan lupa mencoba semua makanan dan minuman tersebut saat kamu bertandang ke Tana Toraja, supaya komplit perjalananmu ๐Ÿ˜‰ Sudah pernah mencoba makanan dan minuman yang saya sebutkan di atas, atau ada info makanan/minuman khas Toraja yang lain? Share di komen ya ๐Ÿ™‚

Perjalanan ini adalah undangan dari Kementerian Pariwisata Indonesia. Sila mampir ke Twitter dan Instagram dengan hashtag #PesonaToraja #PesonaIndonesia untuk melihat oleh-oleh dari para blogger yang diundang, atau di blog kawan-kawan seperjalanan saya: Reh Atemalem dan Terry Endropoetro.

 

 

 

0 Replies to “Pesona Toraja: Goyang lidah bersama makanan dan minuman Toraja”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *