Pesona Toraja: Tongkonan sebagai identitas masyarakat Toraja

Rumah adat adalah salah satu jenis keanekaragaman kebudayaan yang ada di Indonesia dengan fungsi utama yang sama seperti rumah penduduk pada umumnya, biasanya yang membedakan adalah bentuknya. Rumah adat sangat penting bagi suatu suku bangsa, karena menjadi tempat mereka berlindung, menyelesaikan berbagai permasalahan, dan merupakan identitas dari suku bangsa tersebut. Salah satu yang beruntung bisa saya lihat dengan mata kepala sendiri adalah Tongkonan di Tana Toraja di Sulawesi Selatan ini.

Nama Tongkonan berasal dari kata tongkon yang memiliki arti “duduk” . Ini terkait dengan fungsi rumah Tongkonan yang sebelumnya digunakan oleh para ketua adat untuk duduk bersama berdiskusi tentang berbagai hal dalam kehidupan keseharian mereka maupun dalam pembahasan-pembahasan yang berhubungan dengan adat istiadat.

2017-04-24_09-36-48

Pintu masuk Tongkonan, terletak di bagian utara (sebagai perlambang kedatangan nenek moyang yang berasal dari Utara) atau timur (sebagai perlambang kebahagiaan atau keceriaan, yang berasal dari terbitnya matahari).

Rumah adat Tongkonan adalah rumah adat suku Toraja yang berbentuk lancip pada kedua sisi atapnya, dan sudah menjadi ikon dari Provinsi Sulawesi Selatan. Karenanya banyak orang yang mengidentifikasikan rumah adat Toraja ini sebagai rumah adat orang Sulawesi.

2017-04-24_09-21-05

Banyak wisatawan domestik maupun internasional yang berminat menikmati keindahan Tongkonan Toraja ini. Mereka (kami, salah satunya) rela datang dari jauh untuk melihat kehidupan suku Toraja. Dan seringkali keluarga pemilik suatu Tongkonan dengan senang hati menerima mereka untuk tinggal bersama dan mempelajari adat istiadat Toraja, terutama saat ada upacara adat. Seperti misalnya di Kampung Sa’dan, sentra tenun Toraja, yang bulan Juli 2017 akan mengadakan upacara Rambu Solo (upacara kematian). Kami mendapat ajakan untuk tinggal di sana selama persiapan dan upacara adat. Semoga rejeki dan jodoh, aamiin.

Bentuk unik Tongkonan ini konon menyerupai perahu Cina pada jaman dahulu kala. Mengapa perahu Cina? Indonesia memiliki Selat Malaka yang menjadi pusat perdagangan dunia di mana para pedagang Cina banyak mendominasi dan mereka masuk ke Indonesia menggunakan perahu. Konon orang Toraja berasal dari Yunan, Teluk Tongkin, Cina. Mereka kemudian berakulturasi dengan penduduk asli Sulawesi Selatan. Tongkonan dibuat menyerupai perahu sebagai pengingat bahwa leluhur mereka tiba di Sulawesi dengan menggunakan perahu.

Ciri khas dari Tongkonan beberapa di antaranya adalah:

  1. Bentuk rumah

Tongkonan berbentuk seperti perahu yang harus menghadap ke utara – selatan. Bagian depan menghadap ke utara dan memiliki arti awal kehidupan manusia. Bagian belakang menghadap ke selatan yang berarti akhir kehidupan manusia. Tongkonan ini memiliki lapisan yang berbentuk segi empat, di mana setiap sudutnya memiliki makna sendiri-sendiri, yakni makna kelahiran, makna kehidupan, makna pemujaan, dan makna kematian

  1. Struktur/bagian rumah

Rumah adat Tongkonan ini memiliki 3 bagian utama, yaitu :

Bagian atas (rattiang banua). Biasa kita kenal sebagai loteng. Bagian ini menjadi bagian khusus penyimpanan benda-benda pusaka keluarga yang suci dan berharga.

Bagian Tengah atau kale banua. Di bagian tengah ini, ada 3 bagian, yaitu :

  • Tangdo yang berfungsi sebagai ruang tidur nenek, kakek, dan anak laki-laki.
  • Sali yang berfungsi sebagai ruang keluarga, dapur, ruang makan, toilet buang air kecil (untuk buang air besar dilakukan di luar rumah) dan sebagai kamar untuk orang sakit (jenasah) atau to makula’. Jika to makula’ telah disimpan di bagian sali berarti sudah mau di upacarakan. Makanya bila berkunjung ke Toraja dan dikatakan bahwa ada orang sakit di salah satu Tongkonan, besar kemungkinan itu artinya ada jenasah.

2017-04-24_09-35-07

Lihat ada batu di sebelah tungku? Batu tersebut diberi lubang kecil dan digunakan sebagai tempat buang air kecil “darurat” bagi para perempuan Tongkonan dan anak-anak di malam hari.

2017-04-24_10-12-08

  • Sumbung yang berfungsi sebagai ruang khusus untuk kepala keluarga, anak-anak yang masih menyusui, dan anak perempuan yang masih perawan. Sumbu terletak di bagian belakang rumah Tongkonan.

Bagian bawah (sulluk banua). Tongkonan dibuat berbentuk rumah panggung karena memiliki bagian ini untuk digunakan sebagai gudang, penyimpanan peralatan pertanian. Pada masanya, dan beberapa masih difungsikan demikian saat ini, bagian ini juga digunakan sebagai kandang kerbau.

Sementara itu bila dilihat dari dekorasinya, Tongkonan Toraja memiliki memiliki ukiran dinding dan dekorasi yang khas, yakni :

  1. Menggunakan 4 warna dasar (kasemba) yang memiliki arti sendiri-sendiri bagi masyarakat Toraja, yaitu: Putih (lambang kesucian dan kemandirian), kuning (lambang kekuasaan dan keagungan), hitam (lambang berani berbuat baik), dan merah (lambang keberanian).
  2. Tanduk kerbau. Tanduk kerbau berasal dari kerbau yang disembelih di rambu solo’ (upacara kematian) dan rambu tuka’ (upacara syukuran). Makna dari tanduk kerbau ini adalah tentang kemewahan serta kelas sosial. Kita bisa melihat status sosial masyarakat Toraja dari jumlah tanduk kerbau yang ada di rumahnya.
  3. Rahang kerbau. Selain tanduknya, rahang kerbau juga digunakan sebagai salah satu dekorasi Tongkonan. Rahang kerbau berfungsi sebagai pelindung Tongkonan dari kekuatan jahat yang mungkin menghampiri.
  4. Kepala kerbau. Bila mengunjungi suatu tongkonan dan melihat ada kepala kerbau (asli atau buatan) di depannya, itu berarti pemilik tongkonan adalah tetua adat atau bangsawan kelas atas.
  5. Berbagai ukiran khas yang memiliki arti harapan dan doa baik bagi Tongkonan dan penghuninya.

2017-04-24_09-23-50

2017-04-24_09-22-37

Tongkonan juga diibaratkan sebagai sosok ibu dan peletakannya selalu dihadapkan pada lumbung padi atau alang sura. Jadi di mana pun Tongkonan berdiri, maka di depannya akan ada lumbung padi yang dianggap sebagai bapak. Tongkonan sebagai ibu yang melindungi anak-anaknya yaitu orang Toraja, dan alang sura adalah ayah yang menjadi tulang punggung keluarga.

2017-04-24_10-15-17

Lumbung

Sebelum bisa digunakan, Tongkonan harus melalui upacara adat yang bernama mangrara banua. Puncak mangrara banua adalah acara penyembelihan hewan sebagai pelengkap peresmian Tongkonan. Hewan yang disembelih dan dibakar biasanya berupa babi atau kerbau. Upacara diakhiri dengan makan bersama masyarakat sekitar seraya berdoa demi keselamatan Tongkonan serta penghuninya. Setelah upacara mangrara banua ini diadakan, barulah boleh dipasang salah satu tiang penyangga utama Tongkonan, a’riri posi. Di antara tiang kolong, yaitu di tengah agak ke belakang ada yang disebut a’riri (tonggak) posi (pusat), yang dihias dan diukir berbeda dengan lainnya.  A’riri posi yang artinya adalah tonggak pusat, dalam adat Toraja lambang dari menyatunya manusia dengan bumi. Biasanya berukuran 22×22 Cm, di bagian atas sedikit mengecil sekitar 20×20 Cm.

2017-04-24_10-18-59

Di bawah ini adalah video yang saya dapat dari YouTube, kanal milik Nia Paembonan, yang bisa memberi sedikit gambaran tentang mangrara banua. (yang gak kuat lihat darah mungkin sebaiknya tidak usah lihat ^_^)

Sungguhlah bicara soal Tongkonan ini tak ada habisnya. Setiap sudut setiap warna setiap kelok memiliki arti sendiri. Semoga suatu hari saya bisa kembali ke Toraja dan tinggal sejenak dua jenak di Tongkonan (yang tanpa to makula’ karena saya penakut XD).

Perjalanan ini adalah undangan dari Kementerian Pariwisata Indonesia. Sila mampir ke Twitter dan Instagram dengan hashtag #PesonaToraja #PesonaIndonesia untuk melihat oleh-oleh dari para blogger yang diundang, atau di blog kawan-kawan seperjalanan saya: Reh Atemalem dan Terry Endropoetro.

PS: Bila ada teman-teman pembaca yang hendak menambahkan maupun mengoreksi tulisan saya, moggo loh. Terima kasih sebelumnya ^_^

0 Replies to “Pesona Toraja: Tongkonan sebagai identitas masyarakat Toraja”

  1. ulasannya keren
    btw, ratttiang banua ditulis terpisah

    Toraja mengenal dua macam upacara adat, rambu solo’ berhubungan dengan kedukaan (kematian) dan rambu tuka’ yg berkaitan dengan syukuran seperti syukuran rumah adat atau mangrara banua dan pernikahan.

    saleum

  2. Teh, menurut saya penggunaan ini mirip dengan rumah adat Batak. Baik bentuknya maupun ukir-ukiran di luarnya. Ukiran itu sendiri mirip juga di rumah gadang nya Minangkabau. Mungkin Batak Toraja dan Minangkabau satu nenek moyang kali ya 🙂

    1. Kalau dengan Batak, konon memang ada kemungkinan satu nenek moyang, Mbak. Gak cuma rumah adatnya yang mirip, bahasa, pakaian, dan budayanya juga banyak kemiripan. Kalau dengan Minangkabau, nah ini masih belum ditelusuri lagi.

  3. Dulu dalam bayanganku Toraja iyu tempat yang agak spooky, mengingat terkenal dengan mayat di dalam rumah. Ya biasa lah ya, kadang beda tradisi membuat hal itu menakutkan. Dan biasanya dibumbui cerita-cerita lainnya. Tapi liat postian tenit, rere, dan kak Teri malah penasaran. Soalnya kok bagus ya ternyata. Oiya satu yang bikin penasaran: kalian nginep di mana? 😀

    1. Bagus loh ternyata! Spooky mah tetep :)) Nginepnya di hotel Toraja Heritage, penginnya kali lain nginep di tongkonan. Kalau berani 😀

  4. Cakep yaaah. Paling suka deh kalau bahas kearifan lokal nusantara. Mau itu arsitektur, metode bercocok tanam, sampai resep masakan, selalu ada filosofi hidup di baliknya yang bikin mikir: kok orang dulu begitu mindful dalam segala sendi kehidupan ya?

    1. Bener banget. Kok kepikiran begini ya kok kepikiran begitu ya mereka. Aku ngebayangin beberapa puluh tahun atau beberapa abad lagi pertanyaan yang sama juga muncul tentang kita :))

  5. luar biasa ya filosofinya dibalik sebuah rumah… aku selalu WOW gitu kalo denger filosofi macam-macam tradisi nusantara. buatku ini menunjukkan nenek moyang kita itu thoughtful banget, semua mengutamakan kelestarian manusia dengan alam, dg lingkungan, dg manusia lain dan dg Tuhannya. Makanya aku suka miris kalau liat orang2 berlomba-lomba membangun rumah tembok megah di desa sebagai simbol sukses, tanpa mempelajari apakah model rumah tembok modern ini yg sesuai dg kondisi alam dan lingkungan. Ini karena kurangnya kesadaran utk mewariskan filosofi dan kearifan dari nenek moyang, mungkin?
    loh kok gue panjang bener komennya, cem bikin blog sendiri 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *