Pesona Toraja: Goyang lidah bersama makanan dan minuman Toraja

Suatu tempat seringkali tidak hanya unik dalam budayanya, kuliner juga merupakan keunikan tersendiri dari tempat tersebut. Mengunjungi suatu tempat, terasa ada yang kurang bila tidak sedikitnya sekali mencicipi makanan dan minuman khas yang ada di sana. Setuju? Dan walaupun mungkin makanan suatu daerah tersedia juga di tempat lain, tetap saja penasaran ingin mencicipi rasa aslinya ketika berkunjung ke tempat makanan itu berasal. Berikut ini beberapa kuliner Toraja yang sempat saya temui selama kunjungan ke Tana Toraja.

  • Pa’piong

2017-04-26_06-35-01

Terbuat dari campuran daging, daun miana (bisa diganti dengan burak, pohon pisang yang masih muda), bawang merah, bawang putih, sereh, cabai, garam dan jahe, pa’piong dimasak dengan cara yang khas. Setelah semua bumbu (selain daging) dihaluskan, mereka dibungkus menggunakan daun pisang, lalu dimasukkan ke bambu muda berukuran besar, diameter antara 10-15 cm dengan panjang sekitar 1 meter. Bambu seukuran ini bisa menampung hingga 10 bungkus pa’piong.

2017-04-26_06-37-39

Kemudian bambu dibakar dengan sudut kemiringan 30-45 derajat. Sambil dimasak, bambu diputar-putar agar panas dan kematangannya merata. Pa’piong yang sudah matang ditandai dengan uap air yang menguar dari batang bambu dan seluruh permukaan bambu gosong menghitam. Memasak pa’piong ini tidak bisa dalam waktu singkat. Setidaknya memakan waktu 1-2 jam.

2017-04-26_06-36-24

Pa’piong memiliki berbagai macam nama sesuai dengan isiannya: Pa’piong bai (daging babi), pa’piong bale (berisi ikan, biasanya ikan mas), dan pa’piong manuk (berisi ayam).

Ada sebuah bacaan mengenai sejarah pa’piong ini yang saya dapat dari blog seorang pejalan bernama Iqbal Kautsar:

Konon dahulu, ketika leluhur suku Toraja, Pong Gaunti Kembong, sedang terbang, dia melihat seorang wanita yang sangat menawan di daratan. Dia ingin menangkapnya. Sayangnya tatkala akan ditangkap, sang perempuan itu masuk ke dalam batu.
Sang perempuan itu minta syarat Pa’Piong Sanglampa (satu ruas bambu dipiong). Pong Gaunti Kembong memenuhi syarat itu dengan membuat Pa’ Piong Sanglampa.

Akhirnya sang perempuan di batu tadi keluar dan dikawini Pong Gaunti Kembong. Dari perkawinan ini, kemudian lahir Puang Mattua. Puang Mattua ini menjadi leluhur yang disakralkan masyarakat Toraja. Dia bersemayam di sebelah utara Toraja (itulah kenapa Tongkonan selalu menghadap ke Utara).

sumber dari sini.

Pada masanya, pa’piong disajikan hanya di upacara-upacara besar, namun kini bisa ditemukan secara bebas di Toraja. Rasa pa’piong ini gurih berkat lemak daging dan bumbunya yang meresap hingga ke tulang. Pa’piong yang saya makan adalah pa’pong ayam. Waktu pa’piong tersebut dikeluarkan dari bambu, uap yang menguar membawa harumnya memenuhi ruangan. Daging ayamnya sangat lembut dan mudah lumat. Tidak ada amis daging terasa atau tercium berkat campuran jahe dan sereh.

  • Sambal lada katokkon

Saya baru mau mulai menyendok pa’piong yang hangat dengan harum menggoda, ketika Laras salah satu teman seperjalanan saya menjerit dan batuk-batuk.

“Pedes amat padahal cuma ngambil sesendok kecil,” ujarnya sambil menunjuk ke semangkuk sup daging di depannya, kemudian buru-buru menenggak segelas air. Saya menatap sup daging yang memerah terkena sambal, kemudian menatap sambal yang jadi tertuduh. Nampak sama seperti sambal mentah yang sering saya bikin di rumah. Terbuat dari cabai merah dan garam, dengan sedikit kucuran jeruk nipis. Lalu saya mencuil selembar kecil cabai yang tidak tergerus halus dan mencobanya. ASTAGA INI APAAAAA! Pedasnya luar biasa, padahal hanya secuil. Apa kabar Laras yang memasukkan sesendok ke supnya.

2017-04-26_06-32-13

“Itu pakai paprika Toraja, ” jelas Pak Najamuddin, tour guide kami sambil tertawa. Saya protes. Mana ada paprika pedas. Paprika sih malah manis dan kadang sedikit pahit.

“Ini loh, ” Pak Naja beranjak sejenak ke dapur rumah makan dan membawa sebutir cabai yang bentuknya seperti kombinasi tomat cherry dan paprika. Namanya lada (cabai) katokkon. Cabai khas Toraja. Sungguh lah satu butir lada ini bisa menggantikan segenggam cabai rawit merah yang saya kenal di rumah, saking pedasnya. Kalau kamu mengaku penyuka pedas, berarti harus banget icip sambal lada katokkon ini. Di semua rumah makan, sambal ini disediakan terpisah dari hidangan. Mungkin untuk mencegah lidah pengunjung luar Tana Toraja tidak terbakar :))

  • Ballo’

“Berapa harga ballo‘nya, indo’?” tanya saya ke seorang indo’ (ibu) pedagang tuak khas Toraja di Pasar Bolu, Rantepao.

“Gayung yang ini 20 ribu, yang ini 30 ribu.”

Iya, ballo’ dijual dengan takaran gayung di pasar. Luar biasa :))

2017-04-26_06-46-35

Ballo’ terbuat dari fermentasi pohon enau. Kehadirannya di Tana Toraja tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari sebagai penghangat tubuh di kala udara dingin datang, bersantai bersama sejawat, dan terutama di berbagai upacara adat. Penjualnya bisa ditemukan dengan mudah di pasar (dalam kemasan jerigen dan takaran gayung), warung khusus menjual ballo’, atau rumah makan. Penikmatnya pun tidak terbatas jenis kelamin dan usia. Saya rasa satu-satunya pembatas diri dalam mengkonsumsi ballo’ di Tana Toraja adalah diri sendiri dan orang tua (buat yang belum memasuki usia dewasa). Tidak ada niatan untuk mabuk di sini. Di Tana Toraja meminum ballo’ sama seperti kita menikmati teh atau kopi. Sebagai hal yang wajar. Konon ada ungkapan yang menyatakan “Tannia toraya ke tae na mangngiru” atau “Bukan orang Toraja jika tidak minum minuman keras”.

2017-04-26_06-45-05

Bagi sebagian orang ballo’ juga dianggap berkhasiat sebagai menambah tenaga. Sedangkan ballo’ yang disajikan dalam ritual adat biasanya berfungsi mempererat tali persaudaraan, pencair suasana, mengakrabkan diri dengan orang lain juga sebagai ungkapan terima kasih dari tuan rumah kepada para tamu yang telah hadir. Jadi setiap kali sebuah keluarga menggelar upacara adat maka sebagai penghormatan para tamu akan meminum tuak yang disediakan.

  • Pantollo’ Pamarrasan

Pamarrasan adalah makanan yang dibumbu pangi, yang mungkin lebih sering kita kenal sebagai keluak. Buah pangi dibelah dan biji-bijinya dijemur hingga kering dan isinya berwarna hitam. Nah isi biji pangi berwarna hitam ini biasanya dijemur lagi untuk kemudian ditumbuk menjadi bubuk. Bubuk inilah yang kemudian menjadi bumbu utama pantollo’ pamarrasan. Pantollo’ pamarrasan terbagi-bagi menjadi beberapa jenis yaitu: Pantollo’ duku bai (daging babi), pantollo’ bale (ikan, biasanya ikan mas), pantollo’ lendong (belut), dan pantollo’ tedong (daging kerbau).

2017-04-26_06-30-22

Buah pangi yang baru dibelah (atas), biji buah pangi yang masih mentah (belum dijemur) berwarna putih (kiri), biji buah pangi yang sudah dijemur hingga kering dan siap ditumbuk berwarna hitam (kanan)

2017-04-26_06-43-07

Biji pangi (keluwak) yang sudah menjadi bubuk siap diolah menjadi pantollo’ pamarrasan

2017-04-26_06-41-24

Pantollo’ pamarrasan duku’ bai

  • Deppa tori

Terbuat dari tepung beras dan gula merah dengan taburan wijen, deppa tori sangat mudah ditemukan di mana-mana di Tana Toraja. Deppa tori juga dikenal sebagai deppa te’tekan di Enrekang dan cicuru’ di daerah Bugis. Teksturnya renyah di bagian luar dan lembut di bagian dalam dengan sedikit sentuhan tekstur “pasir” dari tepung berasnya. Deppa tori menjadi salah satu penganan di setiap upacara adat, maupun camila sehari-hari. Saya mencoba beberapa buah, sedikit terlalu manis buat saya. Cara membuatnya ternyata sangat mudah, bisa dilihat di video di bawah ini yang saya dapat dari kanal YouTube milik Seri Cara Membuat.

2017-04-26_06-39-39

Deppa tori di pasar, dijual seharga 20 ribu – 30 ribu rupiah per kilo

Jangan lupa mencoba semua makanan dan minuman tersebut saat kamu bertandang ke Tana Toraja, supaya komplit perjalananmu 😉 Sudah pernah mencoba makanan dan minuman yang saya sebutkan di atas, atau ada info makanan/minuman khas Toraja yang lain? Share di komen ya 🙂

Perjalanan ini adalah undangan dari Kementerian Pariwisata Indonesia. Sila mampir ke Twitter dan Instagram dengan hashtag #PesonaToraja #PesonaIndonesia untuk melihat oleh-oleh dari para blogger yang diundang, atau di blog kawan-kawan seperjalanan saya: Reh Atemalem dan Terry Endropoetro.

 

 

 

Pesona Toraja: Tau-tau, bukan sekadar patung

Kematian di Toraja juga sangat terkenal dengan keunikan makamnya. Jenazah tidak dimakamkan dengan dikubur di dalam tanah. Melainkan dimakamkan di tebing batu dan “ditemani” oleh tau-tau (patung). Namun ada juga yang tempat pemakamannya berbentuk rumah, biasanya disebut pemakaman modern. Kali ini saya hendak sedikit membahas tau-tau yang seringkali saya lihat di Toraja, terutama di pemakaman tua dan pemakaman bangsawan.

2017-04-24_08-50-18

Ketika kita melihat tebing batu yang dijadikan kuburan di Tana Toraja, kita akan melihat tau-tau yang ada di hampir setiap pintu makam. Patung ini dibuat persis seperti jenazah. Mulai dari tubuh sampai dengan struktur wajahnya dibuat semirip mungkin. Pintu makam di tebing batu berbentuk seperti jendela dan dijadikan sebagai tempat menyimpan jenazah. Jadi di dalam satu lubang, ada banyak jenazah yang masih satu keturunan atau satu keluarga.

Menurut Pak Naja, guide kami selama perjalanan #PesonaToraja, tiap tebing batu pemakaman dimiliki oleh satu keluarga besar. Kepemilikan tebing tersebut berdasarkan adat, jadi nampaknya tidak ada sertifikat khusus. Dalam kehidupan Toraja, memang masih sangat besar peran peraturan adat istiadat kebanding kepemerintahan daerah.

2017-04-24_08-46-10

Komplek pemakaman tebing batu di Lemo, Tana Toraja. Semakin tinggi posisi makam dan tau-tau, semakin tinggi pula status sosialnya.

Jenazah orang yang sudah meninggal di Toraja tidak langsung dimakamkan saat itu juga, melainkan menunggu hingga pihak keluarga memiliki dana yang cukup untuk menyelenggarakan upacara pemakamannya (rambu solo’), dan ini bisa memakan waktu hingga bertahun-tahun tergantung kecepatan pengumpulan dana. Jenazah akan diletakkan di Tongkonan, dan sebelum siap diupacarakan akan disebut sebagai orang sakit (to makula’) dan disimpan dalam peti khusus. Ada juga to makula’, yang dalam posisi duduk. Posisi duduk ini difilosofikan sebagai posisi bayi yang ada di dalam perut yang juga dalam keadaan duduk. Agar tidak berbau dan membusuk maka dibalsem dengan ramuan tradisional yang terbuat dari daun sirih dan getah pisang. Ada juga yang memakai formalin.

Tau-tau ini adalah bagian dari adat istiadat Toraja yang paling dikenal. Istilah tau-tau berasal dari tau = orang. Jadi tau-tau=orang-orangan=menyerupai orang”. Karena patung ini dibuat sedapat mungkin menyerupai orang yang meninggal tersebut. Bahkan para pembuat patungnya pun harus membuat patung ini langsung di dekat jenazah.

Makna dari keberadaan tau-tau ini bagi rakyat Toraja adalah bahwa orang-orang yang sudah meninggal tidak sepenuhnya meninggal. Hanya raga mereka saja yang meninggal, tetapi roh mereka masih hidup di alam lainnya. Jadi ya dapat dikatakan sebagai replika dari orang yang sudah meninggal. Patung ini akan diletakkan persis di sekitar makam orang yang sudah meninggal ini. Tau-tau dijadikan sebagai salah satu komponen penting dalam upacara kematian besar yang akan digelar oleh suku Toraja (atau disebut upacara rambu solo’).

Cara pembuatan tau-tau

Para pembuat tau-tau adalah seorang pengrajin khusus, karena ada ritual adat tersendiri yang harus dilakukan dalam membuat patung ini.

Karena upacara pemakaman jenazah yang harus menunggu sampai pihak keluarga mampu membuat hajatan, maka patung tau-tau ini harus disimpan dengan baik. Ada ruangan khusus untuk menyimpannya, dipersulit sedemikian rupa sehingga mempersulit orang yag berniat mengambil tau-tau tanpa ijin. Konon harga jual patung ini di pasaran sangat tinggi sehingga banyak orang yang memburunya untuk diperjualbelikan. Tapiii, katanya sih tau-tau curian seperti ini biasanya akan “minta” dikembalikan ke makam aslinya. Ehe. Good luck with that.

Tau-tau dibuat dari bahan kayu khusus, yaitu salah satunya dari kayu nangka yang harus diambil dari wilayah Tana Toraja. Kayu nangka sudah dijadikan sebagai bahan yang diharuskan untuk dipakai sejak turun temurun. Bila patung tau-tau ini dibuat dari pohon nangka, berarti si jenazah berasal dari keturunan bangsawan tinggi. Sedangkan untuk kalangan sosial menengah, tau-tau-nya dibuat dari kayu randu. Untuk yang berasal dari status sosial yang rendah, tau-tau akan dibuat dari kayu bambu. Jadi kita bisa menilai status sosial orang yang meninggal berdasarkan bahan pembuat tau-taunya.

2017-04-24_08-48-22

tau-tau versi lama di Tampangallo, menggunakan kayu nangka asli dari tanah Toraja, lebih sederhana bentuknya. Tampangallo adalah salah satu kuburan tertua di Toraja tempat para tetua adat Sangalla dimakamkan. Konon mereka adalah keturunan Puang Tomanurun Tamboro Langi’ (Sang Pencipta) dan yang pertama kali membawa adat istiadat upacara kematian di Toraja.

Dalam pembuatan tau-tau ini, si pengrajin akan dibayar dengan beberapa ekor babi berukuran besar yang sudah dewasa. Ini dikarenakan memang tingkat kesulitannya yang tinggi.

Syarat pembuatan tau-tau

Sebelum membuat tau-tau ini, ada ritual tersendiri yang menjadi syarat pembuatannya. Ritual yang harus dilakukan oleh si keluarga yang berduka sebelum pembuatan tau-tau ini adalah dengan menyembelih dua ekor babi. Ritualnya pun dilakukan bertahap. Yakni pemotongan babi pertama dilakukan sebelum memulai membuat tau-tau, dan untuk pemotongan babi kedua dilakukan ketika proses pembuatan kelamin.

Berikut adalah syarat-syarat singkat yang harus dilakukan sebelum membuat patung tau-tau:

  1. Dibuat oleh pengrajin khusus. Karena kemiripan dari patung tau-tau dengan jenazah,  harus dilakukan oleh tangan-tangan yang professional yang memang khusus pembuat tau-tau.
  2. Dilakukan di dekat jenazah. Jadi si pengrajin tau-tau harus membuat patung tau-tau ini di dekat jenazah, agar tingkat kemiripannya semakin akurat.
  3. Mampu mengadakan pesta rambu solo’ dengan memotong sedikitnya 24 ekor kerbau, dan beberapa ekor babi sebagai bagian dari ritual dan bayaran si pengrajin.
  4. Menyediakan ruangan khusus untuk menyimpan patung tau-tau sebelum upacara rambu solo’ dilakukan. Ini dipersiapkan demi keamanan patung.

Adat istiadat dalam upacara rambu solo’ yang melibatkan tau-tau  ini adalah adat yang sangat unik. Sebuah kebanggaan kita sebagai bangsa Indonesia yang memiliki keragaman adat istiadat di Indonesia tercinta.

Ada filosofi tersendiri di balik tau-tau yang posisi tangannya diatur sedemikian rupa: tangan kanan menghadap ke atas sedangkan tangan kiri menghadap ke bawah. Posisi tangan ini memiliki arti meminta dan memberkati, dan mencerminkan posisi antara yang hidup dan yang mati.

Menurut adat istiadat Toraja, manusia yang telah meninggal membutuhkan bantuan keturunannya yang masih hidup untuk mencapai surga (puya) melalui upacara adat, sedangkan yang hidup mengharapkan berkah dari yang mati untuk tetap menyertai kehidupan anak cucu mereka. Melalui patung ini, interaksi dianggap tetap berlangsung karena tau-tau dianggap menampakkan persekutuan yang langgeng antara orang hidup dengan orang mati.

Dalam adat Suku Toraja, dikenal empat macam tingkat status sosial (Tangdilintin, 2014: 14), yakni (1) Tana Bulaan atau golongan bangsawan, (2) Tana Bassi atau golongan bangsawan menengah, (3) Tana Karurung atau rakyat biasa dan (4) Tana Kua-Kua atau golongan hamba. Setelah meninggal maka pihak keluarga yang berasal dari kaum bangsawan, diwajibkan untuk membuatkan tau-tau sebagai simbol si mati. Pembuatan tau-tau merupakan simbol penyembahan atau pemujaan pada Aluk Todolo yang tidak dapat dipisahkan, meskipun sudah ada kepercayaan yang mutlak (Datuan dalam Syahril, 2016:)

sumber dari sini

Dari segi tampilan fisik tau-tau yang lama memperlihatkan raut wajah secara abstrak, aksesoris emas asli dan cara pembuatannya masih menggunakan alat-alat sederhana. Sedangkan tau-tau yang baru telah megalami banyak perubahan, seperti raut wajah yang sama persis dengan yang meninggal. Aksesorisnya bukan lagi emas dan cara pembuatannya telah menggunakan peralatan yang canggih. Bahan utamanya pun telah berbeda, dulu tau-tau menggunakan kayu nangka asli dari Tana Toraja, namun saat ini banyak kayu nangka telah didatangkan dari luar Tana Toraja.

2017-04-24_08-41-59

Tau-tau versi lebih modern di Ke’te Ke’su yang kemiripannya sangat mendekati wujud orang yang meninggal. Tau-tau seringkali dipakaikan pakaian adat dan aksesoris yang biasa dipakai oleh orang tersebut, misalnya kacamata.

Tau-tau dan jenazah diletakkan di bukit batu tinggi karena banyaknya pencurian tau-tau dan harta benda jenazah yang disimpan di makam dan yang dikenakan tau-tau. Bahkan di Ke’te Kesu’, salah satu situs tongkonan dan pemakaman yang populer di Tana Toraja, tau-tau disimpan di dalam gua yang diberi pagar besi, ada di dalam kotak kaca tebal. Bagi saya ini ironis karena tau-tau semestinya melambangkan berkat dan perlindungan dari yang mati kepada yang hidup, namun malah dijarah oleh mereka yang hidup 🙁

2017-04-24_08-44-06

Replika tau-tau versi lama. Walaupun secara sepintas tau-tau berwujud sama dan akan dipakaikan pakaian sesuai jenis kelamin orang yang meninggal, alat vital orang yang meninggal tetap harus diukir juga. Seperti terlihat di foto ini 😀

2017-04-25_02-38-20

Mengamati pengrajin tau-tau (khusus suvenir) bekerja, di Lemo.

Perjalanan ini adalah undangan dari Kementerian Pariwisata Indonesia. Sila mampir ke Twitter dan Instagram dengan hashtag #PesonaToraja #PesonaIndonesia untuk melihat oleh-oleh dari para blogger yang diundang, atau di blog kawan-kawan seperjalanan saya: Reh Atemalem dan Terry Endropoetro.

PS: Bila ada teman-teman pembaca yang hendak menambahkan maupun mengoreksi tulisan saya, moggo loh. Terima kasih sebelumnya ^_^

PS lagi: Terima kasih kak Olyvia Bendon buat koreksinya :*

Pesona Toraja: Tongkonan sebagai identitas masyarakat Toraja

Rumah adat adalah salah satu jenis keanekaragaman kebudayaan yang ada di Indonesia dengan fungsi utama yang sama seperti rumah penduduk pada umumnya, biasanya yang membedakan adalah bentuknya. Rumah adat sangat penting bagi suatu suku bangsa, karena menjadi tempat mereka berlindung, menyelesaikan berbagai permasalahan, dan merupakan identitas dari suku bangsa tersebut. Salah satu yang beruntung bisa saya lihat dengan mata kepala sendiri adalah Tongkonan di Tana Toraja di Sulawesi Selatan ini.

Nama Tongkonan berasal dari kata tongkon yang memiliki arti “duduk” . Ini terkait dengan fungsi rumah Tongkonan yang sebelumnya digunakan oleh para ketua adat untuk duduk bersama berdiskusi tentang berbagai hal dalam kehidupan keseharian mereka maupun dalam pembahasan-pembahasan yang berhubungan dengan adat istiadat.

2017-04-24_09-36-48

Pintu masuk Tongkonan, terletak di bagian utara (sebagai perlambang kedatangan nenek moyang yang berasal dari Utara) atau timur (sebagai perlambang kebahagiaan atau keceriaan, yang berasal dari terbitnya matahari).

Rumah adat Tongkonan adalah rumah adat suku Toraja yang berbentuk lancip pada kedua sisi atapnya, dan sudah menjadi ikon dari Provinsi Sulawesi Selatan. Karenanya banyak orang yang mengidentifikasikan rumah adat Toraja ini sebagai rumah adat orang Sulawesi.

2017-04-24_09-21-05

Banyak wisatawan domestik maupun internasional yang berminat menikmati keindahan Tongkonan Toraja ini. Mereka (kami, salah satunya) rela datang dari jauh untuk melihat kehidupan suku Toraja. Dan seringkali keluarga pemilik suatu Tongkonan dengan senang hati menerima mereka untuk tinggal bersama dan mempelajari adat istiadat Toraja, terutama saat ada upacara adat. Seperti misalnya di Kampung Sa’dan, sentra tenun Toraja, yang bulan Juli 2017 akan mengadakan upacara Rambu Solo (upacara kematian). Kami mendapat ajakan untuk tinggal di sana selama persiapan dan upacara adat. Semoga rejeki dan jodoh, aamiin.

Bentuk unik Tongkonan ini konon menyerupai perahu Cina pada jaman dahulu kala. Mengapa perahu Cina? Indonesia memiliki Selat Malaka yang menjadi pusat perdagangan dunia di mana para pedagang Cina banyak mendominasi dan mereka masuk ke Indonesia menggunakan perahu. Konon orang Toraja berasal dari Yunan, Teluk Tongkin, Cina. Mereka kemudian berakulturasi dengan penduduk asli Sulawesi Selatan. Tongkonan dibuat menyerupai perahu sebagai pengingat bahwa leluhur mereka tiba di Sulawesi dengan menggunakan perahu.

Ciri khas dari Tongkonan beberapa di antaranya adalah:

  1. Bentuk rumah

Tongkonan berbentuk seperti perahu yang harus menghadap ke utara – selatan. Bagian depan menghadap ke utara dan memiliki arti awal kehidupan manusia. Bagian belakang menghadap ke selatan yang berarti akhir kehidupan manusia. Tongkonan ini memiliki lapisan yang berbentuk segi empat, di mana setiap sudutnya memiliki makna sendiri-sendiri, yakni makna kelahiran, makna kehidupan, makna pemujaan, dan makna kematian

  1. Struktur/bagian rumah

Rumah adat Tongkonan ini memiliki 3 bagian utama, yaitu :

Bagian atas (rattiang banua). Biasa kita kenal sebagai loteng. Bagian ini menjadi bagian khusus penyimpanan benda-benda pusaka keluarga yang suci dan berharga.

Bagian Tengah atau kale banua. Di bagian tengah ini, ada 3 bagian, yaitu :

  • Tangdo yang berfungsi sebagai ruang tidur nenek, kakek, dan anak laki-laki.
  • Sali yang berfungsi sebagai ruang keluarga, dapur, ruang makan, toilet buang air kecil (untuk buang air besar dilakukan di luar rumah) dan sebagai kamar untuk orang sakit (jenasah) atau to makula’. Jika to makula’ telah disimpan di bagian sali berarti sudah mau di upacarakan. Makanya bila berkunjung ke Toraja dan dikatakan bahwa ada orang sakit di salah satu Tongkonan, besar kemungkinan itu artinya ada jenasah.

2017-04-24_09-35-07

Lihat ada batu di sebelah tungku? Batu tersebut diberi lubang kecil dan digunakan sebagai tempat buang air kecil “darurat” bagi para perempuan Tongkonan dan anak-anak di malam hari.

2017-04-24_10-12-08

  • Sumbung yang berfungsi sebagai ruang khusus untuk kepala keluarga, anak-anak yang masih menyusui, dan anak perempuan yang masih perawan. Sumbu terletak di bagian belakang rumah Tongkonan.

Bagian bawah (sulluk banua). Tongkonan dibuat berbentuk rumah panggung karena memiliki bagian ini untuk digunakan sebagai gudang, penyimpanan peralatan pertanian. Pada masanya, dan beberapa masih difungsikan demikian saat ini, bagian ini juga digunakan sebagai kandang kerbau.

Sementara itu bila dilihat dari dekorasinya, Tongkonan Toraja memiliki memiliki ukiran dinding dan dekorasi yang khas, yakni :

  1. Menggunakan 4 warna dasar (kasemba) yang memiliki arti sendiri-sendiri bagi masyarakat Toraja, yaitu: Putih (lambang kesucian dan kemandirian), kuning (lambang kekuasaan dan keagungan), hitam (lambang berani berbuat baik), dan merah (lambang keberanian).
  2. Tanduk kerbau. Tanduk kerbau berasal dari kerbau yang disembelih di rambu solo’ (upacara kematian) dan rambu tuka’ (upacara syukuran). Makna dari tanduk kerbau ini adalah tentang kemewahan serta kelas sosial. Kita bisa melihat status sosial masyarakat Toraja dari jumlah tanduk kerbau yang ada di rumahnya.
  3. Rahang kerbau. Selain tanduknya, rahang kerbau juga digunakan sebagai salah satu dekorasi Tongkonan. Rahang kerbau berfungsi sebagai pelindung Tongkonan dari kekuatan jahat yang mungkin menghampiri.
  4. Kepala kerbau. Bila mengunjungi suatu tongkonan dan melihat ada kepala kerbau (asli atau buatan) di depannya, itu berarti pemilik tongkonan adalah tetua adat atau bangsawan kelas atas.
  5. Berbagai ukiran khas yang memiliki arti harapan dan doa baik bagi Tongkonan dan penghuninya.

2017-04-24_09-23-50

2017-04-24_09-22-37

Tongkonan juga diibaratkan sebagai sosok ibu dan peletakannya selalu dihadapkan pada lumbung padi atau alang sura. Jadi di mana pun Tongkonan berdiri, maka di depannya akan ada lumbung padi yang dianggap sebagai bapak. Tongkonan sebagai ibu yang melindungi anak-anaknya yaitu orang Toraja, dan alang sura adalah ayah yang menjadi tulang punggung keluarga.

2017-04-24_10-15-17

Lumbung

Sebelum bisa digunakan, Tongkonan harus melalui upacara adat yang bernama mangrara banua. Puncak mangrara banua adalah acara penyembelihan hewan sebagai pelengkap peresmian Tongkonan. Hewan yang disembelih dan dibakar biasanya berupa babi atau kerbau. Upacara diakhiri dengan makan bersama masyarakat sekitar seraya berdoa demi keselamatan Tongkonan serta penghuninya. Setelah upacara mangrara banua ini diadakan, barulah boleh dipasang salah satu tiang penyangga utama Tongkonan, a’riri posi. Di antara tiang kolong, yaitu di tengah agak ke belakang ada yang disebut a’riri (tonggak) posi (pusat), yang dihias dan diukir berbeda dengan lainnya.  A’riri posi yang artinya adalah tonggak pusat, dalam adat Toraja lambang dari menyatunya manusia dengan bumi. Biasanya berukuran 22×22 Cm, di bagian atas sedikit mengecil sekitar 20×20 Cm.

2017-04-24_10-18-59

Di bawah ini adalah video yang saya dapat dari YouTube, kanal milik Nia Paembonan, yang bisa memberi sedikit gambaran tentang mangrara banua. (yang gak kuat lihat darah mungkin sebaiknya tidak usah lihat ^_^)

Sungguhlah bicara soal Tongkonan ini tak ada habisnya. Setiap sudut setiap warna setiap kelok memiliki arti sendiri. Semoga suatu hari saya bisa kembali ke Toraja dan tinggal sejenak dua jenak di Tongkonan (yang tanpa to makula’ karena saya penakut XD).

Perjalanan ini adalah undangan dari Kementerian Pariwisata Indonesia. Sila mampir ke Twitter dan Instagram dengan hashtag #PesonaToraja #PesonaIndonesia untuk melihat oleh-oleh dari para blogger yang diundang, atau di blog kawan-kawan seperjalanan saya: Reh Atemalem dan Terry Endropoetro.

PS: Bila ada teman-teman pembaca yang hendak menambahkan maupun mengoreksi tulisan saya, moggo loh. Terima kasih sebelumnya ^_^

Pesona Toraja: Lolai, negeri di atas awan.

Alarm ponsel pintar saya berbunyi jam 03.30 di Rantepao, Toraja Utara, menandakan waktunya bersiap-siap mengejar matahari terbit di Lolai, Kecamatan Kalapitu 20 kilometer dari Rantepao dengan ketinggian 1.300 meter dapl. Perjalanan dimulai jam 04.30 pagi dengan menggunakan mobil, langit masih gelap gulita dan udara Rantepao masih menusuk tulang karena hujan sejak kemarin sore.

Jarak 20 km ditempuh rombongan Pesona Indonesia selama kurang lebih setengah karena kontur jalannya yang kecil, berliku, gelap gulita, dan kadang bergelombang. Kalau dari Rantepao, masih lebih dekat ke Lolai kebanding ke  Batutumonga yang konon pemandangannya serupa. Saya sendiri memutuskan untuk tidur sepanjang jalan karena ya males juga yes liat keluar cuma ada gelap dan sesekali bayangan pepohonan dan tebing, juga pekuburan.

Tiba di Puncak Lolai sekitar jam 5 pagi, langit masih berwarna biru gelap. Udara dingin menusuk dengan langit bertabur bintang. Saya jarang sekali lihat bintang sebanyak itu dan sayangnya tidak terlalu tertangkap oleh kamera saya. Untungnya kami datang di hari kerja, bukan hari libur, pengunjung tidak terlalu banyak. Selain 7 orang rombongan kami, sisanya mungkin hanya ada 30an orang. Termasuk sangat sepi mengingat tempat ini termasuk tempat yang lagi beken di kalangan pelancong dan instagramer.

2017-04-19_06-54-03

Sekitar jam 05.30 ufuk timur mulai menyemburatkan cahaya keemasan, awan di puncak Lolai mulai makin rapat berkumpul di lembah. Saya dan kawan-kawan yang sedang menggigil kedinginan sambil menyerupt kopi atau mie rebus kembali fokus menatap matahari yang mulai menyembul.

Lolai, Toraja Utara.

Lolai, Toraja Utara.

Untuk menikmati matahari terbit di negeri di atas awan ini, tidak melulu perlu berangkat pagi buta seperti saya, karena keluarga tongkonan (rumah adat Toraja) Lempe yang merupakan pemilik daerah tersebut secara adat, sudah menyiapkan beberapa tenda yang bisa disewa seharga Rp 150.000 per tenda untuk 24 jam. Tenda sudah dilengkapi kasur, bantal, dan selimut.

Lolai, Toraja Utara.

Lolai, Toraja Utara.

Ternyata hari kunjungan kami adalah hari terakhir Puncak Lolai dibuka untuk umum. Mulai keesokan harinya selama beberapa bulan ke depan, akan ditutup karena perbaikan sarana dan prasarana. Beruntung banget kami datang pagi itu!

Lolai, Toraja Utara.

Saat mengobrol dengan salah satu pedagang di sana, saya baru tahu bahwa sebenarnya Puncak Lolai bukanlah tanah milik umum, melainkan milik sebuah keluarga besar. Di Toraja kepemilikan tanah memang berdasarkan kekeluargaan. Jadi selama setahun belakangan ini mereka mebuka tempat tersebut untuk dinikmati umum. Untuk masuk ke sana hanya perlu membayar retribusi sebesar Rp 10.000 per orang.

Lolai, Toraja Utara.

Di perjalanan kembali penginapan barulah saya bisa melihat dengan jelas seperti apa trek yang kami tempuh subuh tadi. Seru juga ya 😀

2017-04-19_08-38-26

Jangan lupa mampr ke Lolai (setelah perbaikan selesai) ya. Kalau kamu beruntung (karena katanya ada masa-masa tak ada awan sama sekali di sana) kamu bisa bertemu pemandangan seperti di foto-foto saya ini. Kalau belum beruntung, berarti ada alasan tambahan untuk kembali ke Lolai 😉

Lolai, Toraja Utara.

UNTUK berkunjung ke Kampung Lolai yang berjarak sekitar 20 kilometer dari Rantepao, ibu kota Toraja Utara, pengunjung maupun wisatawan bisa mengaksesnya menggunakan kendaraan umum seperti pete-pete alias angkot maupun ojek.

Tarif angkot dari Rantepao ke Kampung Lolai sekitar Rp 20 ribu sekali antar sehingga kalau PP (pergi-pulang) sekitar Rp 40 ribu.
Sementara jika menggunakan jasa ojek, sekali antar sekitar Rp 30-40 ribu. Bisa pula menyewa mobil rental tapi tarifnya lebih mahal yaitu Rp 350 per hari.(*)

Lolai, Kampung di Atas Awan
-20 kilometer dari Rantepao, Toraja Utara
-tarif ojek Rp 30-Rp 40 ribu
-tarif angkot Rp 20 ribu
-rental mobil Rp 350 ribu per hari
-fasilitas: rumah tongkonan milik warga yang bisa disewa untuk menginap

(Via Makassar Tribun News)

2017-04-19_08-35-32

Perjalanan ini adalah undangan dari Kementerian Pariwisata Indonesia. Sila mampir ke Twitter dan Instagram dengan hashtag #PesonaToraja #PesonaIndonesia untuk melihat oleh-oleh dari para blogger yang diundang, atau di blog kawan-kawan seperjalanan saya: Reh Atemalem dan Terry Endropoetro.

Pesona Toraja: Yesus memberkati dan melindungi Makale dari puncak Buntu Burake

Langit sore Buntu (gunung/bukit) Burake sedang sedikit mendung saat saya memasuki gerbang penanda wilayah wisata religi Patung Tuhan Yesus. Berdiri megah di puncak Buntu Burake, Tana Toraja, yang memiliki ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut adalah Patung Tuhan Yesus setinggi 45 meter. Patung Tuhan Yesus ini menghadap kota Makale dengan tangan terkembang seolah memberikan berkat, sehingga patung ini juga dikenal sebagai Patung Tuhan Yesus Pelindung Makale.

Patung Yesus - Buntu Burake, Toraja.

Patung ini dibuat oleh seniman Yogyakarta bernama Supriadi, dibantu dengan tim pengecor perunggu, yaitu Wardoyo Suwarto. Dibuat atas inisasi Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo dengan tujuan memajukan pariwisata Tana Toraja.

2017-04-18_12-07-09

Saat saya tiba di sana, sarana dan prasarana Patung Tuhan Yesus masih terlihat belum selesai pembangunannya. Jalannya yang berkelok dengan tanjakan dan turunan curam masih belum berupa aspal mulus. Pengendara semua kendaraan wajib berhati-hati saat melewatinya karena banyak pasir dan kerikil tajam. Menuju pelataran pun sebagian jalannya masih berupa batu-batu tajam. Hati-hati melangkah ya.

Pak Naja, tour guide kami, sedang melangkah menuju pelataran Patung Yesus.

Setiba di lapangan parkir kami menaiki tangga yang cukup curam dengan bebatuan yang tajam di beberapa tempat untuk mencapai pelataran Patung Tuhan Yesus. Tangga tersebut kemudian bertemu tangga lain yang terbagi dua antara yang naik ke kaki Patung Tuhan Yesus dan turun ke lembah untuk memotret patung tampak depan.

Mbak Terry dari blog.negerisendiri.com sedang menaiki tangga menuju pelataran Patung Yesus.

Saya terpana melihat Patung Tuhan Yesus ini. Tingginya sekitar 40 meter dan konon merupakan patung Yesus tertinggi di dunia mengalahkan patung Yesus di Rio de Janeiro, Brasil. Setidaknya kalau dihitung melalui ketinggian dari permukaan lautnya. Patung Kristus Penebus di Brazil berada di ketinggian 1.100 meter di atas permukaan laut.

Patung Yesus tampak belakang

Pemandangan yang berada di hadapan patung ini sungguh menakjubkan. Kota Makale secara utuh yang dikelilingi oleh perbukitan dan pegunungan. Kota ini memiliki jarak sekitar 310 km dari Makassar. Perjalan menuju kota kecil ini dapat dicapai dengan bis selama 7 jam atau menggunakan pesawat Casa selama 30 menit.

Pemandangan Kota Makale dari kaki Patung Yesus.

Makale terletak di ketinggian sekitar 1.500 meter di atas permukaan laut sehingga udara di kota ini sangat sejuk. Kehidupan sehari-hari masyarakat masih banyak dipengaruhi oleh adat istiadat Toraja sehingga tempat ini sangat bagus untuk dijadikan tempat berlibur.

Makale dari kaki Patung Yesus

Kembali ke Patung Tuhan Yesus, ada sekitar 400-500 anak tangga secara keseluruhan yang akan mengantar kita ke kaki Patung Tuhan Yesus ini. Mungkin sebagai gambaran penderitaan dan kesusahan Yesus sebelum penyalibannya. Well, setidaknya ratusan anak tangga tersebut bisa memperkuat otot jantung saat naik dan otot paha serta lutut saat turun 😀 Tidak perlu kuatir haus dan lapar atau soal istirahat sejenak saat menaiki dan menuruni tangga karena di sekitar tangga banyak pedagang makanan dan minuman yang tidak berkeberatan kita tumpangi sejenak untuk mengistirahatkan kaki.

2017-04-18_12-09-30

Puncak Buntu Burake tempat Patung Tuhan Yesus ini berada terletak sekitar tiga kilometer arah timur kota Makale, yang merupakan ibukota kabupaten Tana Toraja. Tak terlalu jauh dari kolam Makale, ke arah Rantepao, terdapat lorong di depan SMA 2 Makale yang cukup menanjak, di sebelah kanan jalan. Lorong tersebut akan membawa kita menuju puncak Buntu Burake.

Saya sarankan untuk datang ke sini antara pagi sebelum jam 10 pagi atau sore setelah jam 3 sore supaya cuaca cukup bersahabat dan kalau beruntung cuaca cerah, mungkin bisa menikmati matahari terbenam di sore hari.

2017-04-18_12-16-13

Perjalanan ini adalah undangan dari Kementerian Pariwisata Indonesia. Sila mampir ke Twitter dan Instagram dengan hashtag #PesonaToraja #PesonaIndonesia untuk melihat oleh-oleh dari para blogger yang diundang, atau di blog kawan-kawan seperjalanan saya: Reh Atemalem dan Terry Endropoetro.

Bagi saya, perempuan yang #memesonaitu ya mereka ini

Saya terpesona terhadap beberapa perempuan. Karena hidup mereka, pilihan mereka, dan arti mereka bagi saya sungguh luar biasa. Siapa saja mereka?

  • Simbok Venus

Perempuan yang semakin bertambah usianya semakin terlihat muda ini, kerap dipanggil dengan sebutan “Simbok” (ibu). Simbok ini baru tahun lalu bilang ke saya, bahwa dia gak suka olahraga lari. Capek. Bahkan saat saya berhasil meracuninya ikut sebuah lomba lari, saat selesai dan saya tanya, “Seru kan? Mau ikut lagi gak?” simbok masih menjawab dengan “Not my cup of tea. Liat nanti ajalah.”

Itu 2016.

Ini 2017.

//platform.instagram.com/en_US/embeds.js

LAH TERNYATA DOYAN HAHAHAHAHA. Iya simbok sekarang jadi inspirasi saya dalam olahraga terutama lari. Beliau membuktikan bahwa usia tidak menghalangi seseorang untuk aktif kegiatan fisik. Dan mitos bahwa metabolisme tubuh terkikis sejalan dengan bertambahnya usia bikin badan susah melangsing, dipatahkan oleh simbok.

//platform.instagram.com/en_US/embeds.js

Simbok sungguh idolaku :*

  • Buibuksocmed

Sekumpulan ibu-ibu berbagai latar belakang, berbagai latar pedidikan, berbagai pengalaman hidup, yang memiliki sebuah kesamaan: Ibu-ibu pengguna social media. Saya pernah cerita di sini awalnya saya bisa kecebur di grup ini. Sekarang grup ini jadi semacam hiburan dan refleksi saya akan kehidupan. Bahwa semua orang punya perjuangannya masing-masing. Punya kisahnya masing-masing. Punya suka dan dukanya masing-masing. Dan semua yang masing-masing itu, menjadi terasa lebih dan semakin baik saat dibagi bersama.

//platform.instagram.com/en_US/embeds.js

Gak semua pernah saling ketemu, gak semua sudah saling kenal sebelumnya, tapi bersama kami menjalani gundah kami sebagai seorang ibu dan istri, menghadapi air mata bersama, menertawakan kehidupan (sendiri dan orang lain) bersama.

 

//platform.instagram.com/en_US/embeds.js

  • Astrid Arum

Satu dari super sedikit orang yang saya sebut sahabat. Kami pertama kali berjumpa tahun 2009, we hit it off almost instantly. Lidah tajam dan selera humor yang sama (lucuan saya sih) mungkin jadi pengikat kami. Saya jarang melayani menye-menye curhat dia dengan hiburan menye-menye, dan sebaliknya. We tell each other what we NEED to hear, not what we WANT to hear. Dengan hobi makan dan masak yang juga sama (kami sering membicarakan kenapa Nigella Lawson cakep melulu, gimana rasanya dipeluk oleh Gordon Ramsay, bumbu masakan Sisca Suwitomo yang dapur rumahan banget. Atau sekadar bahasan Lambe Turah yang terbaru). Oh pernah bareng-bareng juga liat tuyul lewat depan kamar saya di kosan kami di Bandung. Ehe. Dia juga yang menemani saya sejak H-1 pernikahan saya.

I don’t know what would I do or where would I be without here.

Goldie New Year Makeup dengan entah kenapa wajahnya melas. Happy new year!

A post shared by Astrid Arum (@astridarum) on

//platform.instagram.com/en_US/embeds.js

Dan sekarang dia lagi merambah ke perdandanan sebagai makeup artist. Gaya deuh. Tapi emang makeupnya bagus, saya suka.

//platform.instagram.com/en_US/embeds.js

Itulah para perempuan yang memesona bagi saya. Kalau bagi kamu, wanita yang #MemesonaItu seperti apa?

Yuk ikut blog competition #MemesonaItu. Informasi lengkapnya ada di website ini. Gak punya blog? Otenang, tetap boleh ikutan kok. Lamgsung aja kamu tulis menulis di website tadi ya. Masih ada waktu sampai tanggal 10 April 2017 buat ikutan loh!

Hadiahnya?

Dua kamera mirrorless dan juga hadiah cash jutaan rupiah plus hadiah-hadiah lainnya. Yakin gak mau ikutan?

Good luck!