Pesona Garut: Candi Cangkuang

Kunjungan Pesona Garut selanjutnya adalah ke Candi Cangkuang. Sebenarnya ini adalah kunjungan kedua saya, namun di kunjungan pertama cuaca sedang hujan cukup deras jadi tidak sempat berlama-lama di sana. Untunglah kali ini cuaca cukup cerah walaupun sempat sedikit gerimis.

Cagar Budaya Candi Cangkuang

Nama Candi Cangkuang diambil dari nama desa tempat candi ini berada, yaitu desa Cangkuang yang dikelilingi oleh empat gunung besar di Jawa Barat: Gunung Haruman, Gunung Kaledong, Gunung Mandalawangi dan Gunung Guntur.

Cagar Budaya Candi Cangkuang

Kata ‘Cangkuang’ sendiri adalah nama tanaman sejenis pandan (pandanus furcatus), yang banyak terdapat di sekitar makam Embah Dalem Arief Muhammad, leluhur Kampung Pulo. Daun cangkuang dapat dimanfaatkan untuk membuat tudung, tikar atau pembungkus.

Cagar Budaya Candi Cangkuang

Cagar budaya Cangkuang terletak di sebuah daratan di tengah danau kecil. Untuk mencapai tempat tersebut melalui jalur utama, pengunjung harus menyeberang dengan menggunakan rakit.

Cagar Budaya Candi Cangkuang

Awalnya Kampung Pulo dikelilingi seluruhnya oleh danau, akan tetapi kini hanya bagian utara yang masih berupa danau, bagian selatannya telah berubah menjadi lahan persawahan. Selain candi, di pulau itu juga terdapat pemukiman adat Kampung Pulo, yang juga menjadi bagian dari kawasan cagar budaya.

Cagar Budaya Candi Cangkuang

Saya cukup beruntung karena saat berkunjung ke sini, Pak Zaki Munawar sang juru pelihara cagar ada di lokasi dan bersedia mengantar saya berkeliling sambil menceritakan seluk beluk candi dan makam. Dan yang lebih menggembirakan, beliau bersedia membukakan pintu candi untuk melihat patung Syiwa di dalamnya dan struktur bagian dalam candi.

Cagar Budaya Candi Cangkuang

Pada awal penelitian terlihat adanya batu yang merupakan reruntuhan sebuah bangunan candi. Makam kuno yang dimaksud adalah makam Arief Muhammad yang dianggap penduduk setempat sebagai leluhur mereka. Selain menemukan reruntuhan candi, terdapat pula serpihan pisau serta batu-batu besar yang diperkirakan merupakan peninggalan zaman megalitikum. Pak Zaki mengatakan bahwa candi ini sungguh misterius karena tidak berhasil diketahui bagaimana asal-usulnya dan peninggalan siapa.

Cagar Budaya Candi Cangkuang

Pada awal penelitian terlihat adanya batu yang merupakan reruntuhan bangunan candi dan di sampingnya terdapat sebuah makam kuno berikut sebuah arca Syiwa yang terletak di tengah reruntuhan bangunan. Dengan ditemukannya batu-batu andesit berbentuk balok, tim peneliti yang dipimpin Tjandrasamita merasa yakin bahwa di sekitar tempat tersebut semula terdapat sebuah candi. Penduduk setempat seringkali menggunakan balok-balok tersebut untuk batu nisan.

Bicara soal batu nisan, di foto di atas bisa dilihat bentuk kepala nisan makam yang merunduk. Menurut Pak Zaki Munawar, hal itu melambangkan prinsip padi. Makin berisi makin merunduk. Bahwa manusia tidak boleh sombong dan harus selalu rendah hati.

Cagar Budaya Candi Cangkuang

Berdasarkan keyakinan tersebut, peneliti melakukan penggalian di lokasi tersebut. Di dekat kuburan Arief Muhammad peneliti menemukan pondasi candi berkuran 4,5 x 4,5 meter dan batu-batu candi lainnya yang berserakan. Dengan penemuan tersebut Tim Sejarah dan Lembaga Kepurbakalaan segera melaksanakan penelitian didaerah tersebut. Hingga tahun 1968 penelitian masih terus berlangsung.

Cagar Budaya Candi Cangkuang

Proses pemugaran Candi dimulai pada tahun 1974-1975 dan pelaksanaan rekonstruksi dilaksanakan pada tahun 1976 yang meliputi kerangka badan, atap dan patung Syiwa.

Cagar Budaya Candi Cangkuang

Pada pemugaran tahun 1974 ditemukan kembali batu-batuan yang merupakan bagian-bagian dari kaki candi. Kendala utama rekonstruksi candi adalah batuan candi yang ditemukan hanya sekitar 40% dari aslinya, sehingga batu asli yang digunakan merekonstruksi bangunan candi tersebut hanya sekitar 40%. Selebihnya dibuat dari adukan semen, batu koral, pasir dan besi.

Cagar Budaya Candi Cangkuang

Candi Hindu ini masih sering dikunjungi penganut agama Hindu yang hendak bersembahyang di hari-hari tertentu. Saya melihat tempat dupa dan beberapa uang logam yang menurut Pak Zaki adalah salah satu persembahan dari mereka yang sembahyang di sana.

Komplek candi ini membawa keheningan yang “adem” buat saya, nyaris seperti… pulang ke rumah. Semoga tetap selalu terawat dengan baik.

Perjalanan ini adalah undangan dari Kementerian Pariwisata Indonesia. Sila mampir ke Twitter dan Instagram dengan hashtag #PesonaGarut #PesonaIndonesia untuk melihat oleh-oleh dari para blogger yang diundang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *