Nebeng is the new black

Pagi ini sembari menunggu antrian sarapan di tukang ketoprak langganan saya, tiba-tiba muncul pertanyaan (sesungguhnya kalau lagi gak ada kerjaan gitu, adaaa aja yang kepikiran), “Kapan ya terakhir saya naik angkutan umum?” Trus saya mikir lumayan lama, dan jawabannya: Lupa. Iya saya sampai lupa deh kapan terakhir naik angkutan umum.

Saya orangnya manja dan gak sabaran. Maunya udah ada yang standby jemput dan paling kesel kalau harus tertunda tiba di tujuan karena ngetem. Udah sih panas, lama, dan jadi penyebab macet pula. Gak enak loh duduk di bagian ujung kursi angkot dan merasakan tatapan murka dari para pengemudi kendaraan yang terjebak di belakang angkot yang saya tumpangi. Yang salah bukan saya tapi yang ngerasain disalahin ya saya. Kesel.

Naik taksi biasa ya kadang gak lebih baik juga. Mulai dari pengemudi gak tau arah (padahal saya kan maunya naik taksi tinggal duduk manis trus nyampe), argo kuda atau gak mau pakai argo (apalagi kalau jaraknya deket banget), atau ditolak karena tujuan saya gak searah. Gimane.

Makanya begitu ada pilihan baru muncul, dalam bentuk taksi dan ojek online, saya gak ragu-ragu menggunakan jasa mereka. Paling utama ojek online, kalau cuaca lagi cerah atau saya lagi perlu buru-buru. Soalnya motor lebih gampang nyelip-nyelip dibanding mobil kan 😛 Bayar sedikit lebih mahal gpp, selama kenyamanan dan kemudahan saya terpenuhi. Manja ya :))

Lalu beberapa waktu lalu saya dapat kabar bahwa salah satu penyedia layanan ojek online yang sering saya gunakan meluncurkan jenis layanan terbaru. Namanya GrabHitch (Nebeng). Iyaa you read it right, nebeng. Berasa nebeng sama temen kantor/kuliah gak sih :))

GrabHitch (Nebeng) adalah layanan ​ride-sharing yang membuat transportasi harian dengan harga terjangkau. Seperti konsep nebeng pada umumnya, layanan ini mempertemukan pengemudi dengan penumpang yang memiliki tujuan yang sama. (Saya mau ngegaring, “Tujuan arah ya, bukan tujuan hidup,” tapi rasanya nggak banget sudahlah).

Bedanya apa sama yang sudah ada? Selain hanya saling dipasangkan dengan yang searah, pengemudi GrabHitch adalah para pekerja kantoran, profesional dan mahasiswa. Jadi mereka gak pakai jaket dan atribut seperti pengemudi Grab pada umumya. Asli, berasa nebeng mbonceng temen aja. Plus, harganya lebih murah dari ojek biasa.

Konsep nebeng ini diharapkan Grab bisa membantu sedikit mengurangi polusi kendaraan dan polusi yang dihasilkan kendaraan yang sudah ada sekarang. Ingat konsep 3 in 1 yang pernah lama menghiasi Jakarta? Jadi dalam 1 kendaraan gak cuma 1 orang yang naik. Buat pengemudi GrabHitch juga hasilnya kan lumayan yah, berangkat bekerja/kuliah sambil dapat sedikit tambahan halal. Dan buat penumpang, siapa tahu ketemu pengemudi yang seide sevisi dalam usaha/bisnis/pandangan hidup. Dari awalnya jodoh dalan nebeng, siapa tahu bisa jodoh dalam bikin usaha baru, kantor baru, atau dapat jodoh pasangan hidup 😀

Buat penumpang yang keberatan nebeng sama yang jenis kelaminnya beda, di GrabHitch bisa loh milih mau nebeng sama perempuan atau laki-laki. Seru kan.

Kalau kamu sudah tau mau berangkat kapan jam berapa dan kuatir sama kelangkaan pengemudi di jam-jam sibuk, di GrabHitch bisa pesan di muka sampai 7 hari ke depan! Bok, berasa nebeng amat temen/tetangga banget gak sih, jam tertentu udah standby di tempat buat jemput kamu tanpa diminta lagi (pengalaman nebeng tetangga jaman ngantor).

Jadi, cuss unduh aplikasinya sekarang juga, biar hari-hari ngantor/kuliah/meeting kamu satu langkah lebih mudah. Minimal dalam hal transportasi dan kenyamanan. Selamat nebeng!

 

 

 

Pesona Garut: Pasar Ceplak

Lapar di malam hari sementara banyak tempat makan yang sudah tutup, di Garut? Coba mampir ke Pasar Ceplak. Ketika saya tiba di sana jam 10 malam, masih ramai pedagang dan pembeli.

Pasar Ceplak - Garut

Pasar Ceplak adalah pasar makanan yang terletak di Jl. Siliwangi Garut. Dalam bahasa Sunda, céplak atau nyéplak berarti makan dengan bersuara karena mulut terbuka. Menurut para pedagang yang sudah lama berjualan di tempat itu mengatakan bahwa Céplak memang ada asal-usulnya.

Pasar Ceplak - Garut

Bermula dari tahun 1970-an, ketika negara kita sedang mengalami musim kemarau yang berkepanjangan, akibatnya banyak masarakat yang mampu makan nasi oyék yang dicampur singkong. Keadaan seperti ini sering menjadi bahan gurauan dan pembicaraan para pedagang di Garut. Di antara yang sering menjadi bahan gurauan adalah bagaimana nikmatnya makan oyék sambil céplak. Akhirnya kata céplak tersebar dari mulut ke mulut dan pasar itu dikenal sebagai Pasar Ceplak.

Pasar Ceplak - Garut

Di pasar ini kita bisa menemukan berbagai macam makanan, baik itu makanan tradisional khas Sunda seperti mayang, gegetuk, ataupun makanan lain seperti sate, soto, martabak, dan lain sebagainya.

Pasar Ceplak - Garut

Pasar Ceplak buka tiap hari pada jam 16.00-23.00. Termasuk hingga larut malam mengingat banyak tempat makan yang sudah tutup jam 20.00an di Garut. Lokasinya di sepanjang Jalan Siliwangi, hampir menutup jalan sehingga jalan cuma bisa dilalui oleh kendaraan roda dua dan berlaku dua arah. Kendaraan harus pelan-pelan karena banyak orang yang jalan kaki di jalur tengahnya.

Pasar Ceplak - Garut

Pada pagi hari dan siang hari pasar ini hanya terlihat seperti jalanan seperti biasanya. Akan tetapi jika kita berkunjung ke Pasar Ceplak  ini pada sore hari dan malam hari,  tempat ini begitu ramai dikunjungi para pengunjung baik pengunjung Garut sendiri ataupun pengunjung luar Garut.

Pasar Ceplak - Garut

Ada banyak pilihan makanan di Pasar Ceplak ini, salah satunya adalah Ayam Goreng. Ayam goreng di mana-mana dengan rencengan petai yang menjuntai menggoda pembeli yang menyukai petai 😀

Pasar Ceplak awalnya dikenal sebagai Jalan Biodeem (Koramil). Pada tahun 1970-an jalan itu dibagi dua, sebelah barat Jl. Siliwangi lalu sebelah timur Jl. Ceplak. Saat ini sampai ke sebelah barat juga termasuk Jl. Siliwangi yang memanjang di mulai dari Jl. Kiansantang sampai ke ujung Jl. Ciledug.

Lahan yang dipakai Pasar Ceplak dimulai dari perempatan Jl. Cikuray sampai ujung Jl. Ciledug yang panjangnya kurang lebih 200 meter. Keramaian di Pasar Ceplak hanya pada waktu malam saja, sehingga orang yang pertama kali datang waktu pagi tidak menyangka kalau tempat tersebut merupakan Pasar Ceplak.

Pasar Ceplak - Garut

Perjalanan ini adalah undangan dari Kementerian Pariwisata Indonesia. Sila mampir ke Twitter dan Instagram dengan hashtag #PesonaGarut #PesonaIndonesia untuk melihat oleh-oleh dari para blogger yang diundang.

Pesona Garut: Candi Cangkuang

Kunjungan Pesona Garut selanjutnya adalah ke Candi Cangkuang. Sebenarnya ini adalah kunjungan kedua saya, namun di kunjungan pertama cuaca sedang hujan cukup deras jadi tidak sempat berlama-lama di sana. Untunglah kali ini cuaca cukup cerah walaupun sempat sedikit gerimis.

Cagar Budaya Candi Cangkuang

Nama Candi Cangkuang diambil dari nama desa tempat candi ini berada, yaitu desa Cangkuang yang dikelilingi oleh empat gunung besar di Jawa Barat: Gunung Haruman, Gunung Kaledong, Gunung Mandalawangi dan Gunung Guntur.

Cagar Budaya Candi Cangkuang

Kata ‘Cangkuang’ sendiri adalah nama tanaman sejenis pandan (pandanus furcatus), yang banyak terdapat di sekitar makam Embah Dalem Arief Muhammad, leluhur Kampung Pulo. Daun cangkuang dapat dimanfaatkan untuk membuat tudung, tikar atau pembungkus.

Cagar Budaya Candi Cangkuang

Cagar budaya Cangkuang terletak di sebuah daratan di tengah danau kecil. Untuk mencapai tempat tersebut melalui jalur utama, pengunjung harus menyeberang dengan menggunakan rakit.

Cagar Budaya Candi Cangkuang

Awalnya Kampung Pulo dikelilingi seluruhnya oleh danau, akan tetapi kini hanya bagian utara yang masih berupa danau, bagian selatannya telah berubah menjadi lahan persawahan. Selain candi, di pulau itu juga terdapat pemukiman adat Kampung Pulo, yang juga menjadi bagian dari kawasan cagar budaya.

Cagar Budaya Candi Cangkuang

Saya cukup beruntung karena saat berkunjung ke sini, Pak Zaki Munawar sang juru pelihara cagar ada di lokasi dan bersedia mengantar saya berkeliling sambil menceritakan seluk beluk candi dan makam. Dan yang lebih menggembirakan, beliau bersedia membukakan pintu candi untuk melihat patung Syiwa di dalamnya dan struktur bagian dalam candi.

Cagar Budaya Candi Cangkuang

Pada awal penelitian terlihat adanya batu yang merupakan reruntuhan sebuah bangunan candi. Makam kuno yang dimaksud adalah makam Arief Muhammad yang dianggap penduduk setempat sebagai leluhur mereka. Selain menemukan reruntuhan candi, terdapat pula serpihan pisau serta batu-batu besar yang diperkirakan merupakan peninggalan zaman megalitikum. Pak Zaki mengatakan bahwa candi ini sungguh misterius karena tidak berhasil diketahui bagaimana asal-usulnya dan peninggalan siapa.

Cagar Budaya Candi Cangkuang

Pada awal penelitian terlihat adanya batu yang merupakan reruntuhan bangunan candi dan di sampingnya terdapat sebuah makam kuno berikut sebuah arca Syiwa yang terletak di tengah reruntuhan bangunan. Dengan ditemukannya batu-batu andesit berbentuk balok, tim peneliti yang dipimpin Tjandrasamita merasa yakin bahwa di sekitar tempat tersebut semula terdapat sebuah candi. Penduduk setempat seringkali menggunakan balok-balok tersebut untuk batu nisan.

Bicara soal batu nisan, di foto di atas bisa dilihat bentuk kepala nisan makam yang merunduk. Menurut Pak Zaki Munawar, hal itu melambangkan prinsip padi. Makin berisi makin merunduk. Bahwa manusia tidak boleh sombong dan harus selalu rendah hati.

Cagar Budaya Candi Cangkuang

Berdasarkan keyakinan tersebut, peneliti melakukan penggalian di lokasi tersebut. Di dekat kuburan Arief Muhammad peneliti menemukan pondasi candi berkuran 4,5 x 4,5 meter dan batu-batu candi lainnya yang berserakan. Dengan penemuan tersebut Tim Sejarah dan Lembaga Kepurbakalaan segera melaksanakan penelitian didaerah tersebut. Hingga tahun 1968 penelitian masih terus berlangsung.

Cagar Budaya Candi Cangkuang

Proses pemugaran Candi dimulai pada tahun 1974-1975 dan pelaksanaan rekonstruksi dilaksanakan pada tahun 1976 yang meliputi kerangka badan, atap dan patung Syiwa.

Cagar Budaya Candi Cangkuang

Pada pemugaran tahun 1974 ditemukan kembali batu-batuan yang merupakan bagian-bagian dari kaki candi. Kendala utama rekonstruksi candi adalah batuan candi yang ditemukan hanya sekitar 40% dari aslinya, sehingga batu asli yang digunakan merekonstruksi bangunan candi tersebut hanya sekitar 40%. Selebihnya dibuat dari adukan semen, batu koral, pasir dan besi.

Cagar Budaya Candi Cangkuang

Candi Hindu ini masih sering dikunjungi penganut agama Hindu yang hendak bersembahyang di hari-hari tertentu. Saya melihat tempat dupa dan beberapa uang logam yang menurut Pak Zaki adalah salah satu persembahan dari mereka yang sembahyang di sana.

Komplek candi ini membawa keheningan yang “adem” buat saya, nyaris seperti… pulang ke rumah. Semoga tetap selalu terawat dengan baik.

Perjalanan ini adalah undangan dari Kementerian Pariwisata Indonesia. Sila mampir ke Twitter dan Instagram dengan hashtag #PesonaGarut #PesonaIndonesia untuk melihat oleh-oleh dari para blogger yang diundang.