Hidup adalah tentang bagaimana kita ingin dikenang orang lain

Apakah kita ingin dikenang sebagai orang yang tidak pernah menangis. Atau orang yang selalu mencaci. Atau orang yang menghabiskan hidupnya berusaha membahagiakan orang lain.

Buat saya, yang paling buruk adalah dikenang sebagai orang yang tidak meninggalkan kenangan. Tidak ada yang bisa mengenang apa yang pernah saya buat, apa yang pernah saya katakan. Tidak ada yang bisa mengenang saya sebagai manusia.

Sebuah kalimat bijak mengatakan, hiduplah hari ini seolah esok tak akan datang. Saya tidak pandai mengingat jadi sila bila ada yang ingin menambahkan kalimat siapa atau apa itu. Bagi saya, kalimat itu mengatakan, “Buatlah kenangan. Lakukan sesuatu. Katakan sesuatu.” Dan idealnya, buatlah kenangan yang menghangatkan hati.

Beberapa waktu belakangan ini, saya tidak melakukan apapun. Saya tenggelam dalam apa yang disebut zona kenyamanan saya. Yang sesungguhnya tidak terlalu nyaman juga. Saya jadi pemalas, jarang bergerak, jarang beraktivitas, jarang (mungkin sudah bisa dibilang tidak pernah) berkarya apapun.

Awalnya saya menikmati. Masa ini saya anggap masa istirahat di mana yang saya lakukan hanya tidur-tiduran sambil menonton film di komputer atau di ponsel pintar saya. Saya sibuk bermalas-malasan bersama berbagai akun media sosial saya. Jarang ketemu orang lain (kecuali suami), jarang berdiskusi, jarang membaca (kecuali novel-novel Stephen King). Total pemalas.

Kemudian saya menyadari sesuatu. Saya tidak bahagia dengan diri saya sendiri. Mungkin terlihat saya tidak bersyukur karena mungkin saja banyak orang-orang yang ingin melakukan apa yang saya lakukan. Atau mungkin memang saya tidak bersyukur. Apapun itu, saya merasa bodoh. Otak saya terasa jompo. Badan saya terasa membengkak. Dan emosi saya jadi naik turun. Ada masanya ketika saya bisa mengeluarkan kalimat bijak, tapi lebih banyak masanya ketika saya merasa marah pada sekeliling saya. Semua orang salah. Seisi dunia salah. Saya bosan. Saya lelah dengan kemalasan saya.

Dan pagi ini saya berpikir, apakah saya yang seperti ini yang akan diingat orang lain. Saya tidak tidak mempunyai pencapaian apa-apa. Saya yang sekadar jadi manusia medioker, atau malah di bawah medioker.

Dan itu, menakutkan saya. Si egois haus pujian haus pengakuan ini ketakutan. Ketakutan ini disiram bahan bakar berita yang saya baca tentang kematian ibunda dari seorang penyanyi muda ternama. Ibunda diingat sebagai manusia yang memberikan berkat bagi orang lain. Memberikan kebahagiaan ke sekelilingnya. Bukankah pada akhirnya, kenangan tentang kita lah yang abadi. Tidak dilupakan. Dan saya, si egois haus pujian haus pengakuan ini ketakutan. Saya takut dilupakan.

Di film, setelah kesadaran ini timbul akan muncul adegan potongan-potongan perubahan yang saya lakukan. Mungkin tiba-tiba muncul adegan saya sedang olahraga di pusat kebugaran. Adegan saya berlari di bukit. Adegan saya sedang serius mengetik rancangan novel di laptop. Atau adegan saya berkumpul dengan kawan-kawan di sebuah kafe, tertawa terbahak-bahak.

Di kehidupan nyata, saya tidak tahu adegan apa yang akan muncul. Mungkin malah pengulangan kemalasan saya sendiri. Berkali-kali. Atau mungkin semua yang saya sebut di atas.

Entahlah.

HIdup adalah tentang bagaimana kita ingin dikenang orang lain. Yang pasti, saya tidak ingin dilupakan. Saya ingin meninggalkan jejak.

Bagaimana kamu ingin dikenang?

SenS Hotel & Spa – Ubud, Bali

Mengunjungi Ubud, yang terbayang di saya adalah penginapannya yang “Ubud” banget. Dalam arti dikelilingi sawah dan hutan, agak terpencil, dan full privacy. Begitu memasuki Sens Hotel & Spa, ternyata saya salah. Ternyata ada juga hotel modern di pusat Ubud. Exactly my cup of tea.

Kunjungan ke Sens Hotel and Spa ini berawal dari colekan Om Abe yang ngajak saya piknik ke hotel yang baru saja dibuka di Ubud. Yah secara bali yah, ya kali saya nolak. Saya lemah sama Bali :’)

Terletak di lokasi yang super strategis di pusat kota Ubud. Aksesnya dekat ke Puri Ubud, Puri Peliatan, Pasar Seni Ubud, Monkey Forest, museum, galeri seni, butik, restoran, bar, bank, dan favorit saya Seniman Coffee. Jalan kaki santai 10 menit sudah sampai ke Seniman Coffee. Sangat memudahkan tamu yang mengincar wisata budaya, seni, kuliner, dan wisata alam di Ubud.

Fasilitas di SenS Hotel & Spa

Spa, tentunya. Dengan jam buka mulai dari jam 9 pagi sampai jam 11 malam setiap harinya, pas banget buat yang abis pegal-pegal setelah bersepeda keliling Ubud, ngopi cantik di kafe sekitar hotel, atau sekadar jalan-jalan keliling Ubud.

Gym, tidak terlalu besar tapi bagi saya cukup untuk memenuhi kebutuhan olahraga sehari-hari yang gak terlalu berat. Kecuali kalau tamunya atlet kali yah. Buka dari jam 7 pagi sampai jam 11 malam.

Meeting room/Ballroom. Mau mengadakan pesta pernikahan/ulang tahun/ meeting kantor/ arisan di Ubud? SenS Hotel & Spa bisa jadi salah satu pilihan. Dengan kapasitas mencapai hingga 300 orang, sungguh cocok untuk pesta pernikahan skala privat atau acara lainnya.

Kolam renang. Buat saya, hotel itu gak lengkap kalau gak ada kolam renangnya. Dan kolam renang di SenS Hotel & Spa ini sangat bersahabat buat yang gak bisa berenang kayak saya. Karena dalamnya hanya 1,4 meter 😀

Kamar di SenS Hotel & Spa.

Saya mendapat kamar superior yang terletak di lantai 1. Persis di depan smoking area. Oh ya, SenS Hotel & Spa adalah hotel dengan semua kamar non smoking, namun mereka menyediakan satu area di dekat kolam renang untuk para perokok seperti saya. Jadi kalau kamu perokok dan mau menginap di sini, jangan lupa minta kamar di lantai satu dekat smoking area, biar gak terlalu jauh jalannya.

Ada yang unik d kamar mandi SenS Hotel + Spa ini nih. Bisa dibaca di bawah ini:

 

//platform.instagram.com/en_US/embeds.js

Dan favorit saya soal kamar di SenS Hotel & Spa adalaaaah: Mereka sedia guling. Penting loh ini! Aneh rasanya tidur gak meluk guling tuh 😀

 

//platform.instagram.com/en_US/embeds.js

SenS Hotel & Spa memiliki 91 kamar yang nyaman dan 6 suite dengan pemandangan taman dan kolam renang. Semua kamar dilengkapi tempat tidur “SenS signature“ yang super nyaman (bisa pilih jenis bantal yang kamu mau), fasilitas modern yang fungsional, desain yang inovatif untuk kenyamanan maksimal pada saat bekerja maupun beristirahat. Jaringan Wi-Fi tersedia di seluruh area hotel dan disediakan secara gratis bagi para tamu.

Sering kesal karena kamar berasa panas saat kita tinggal karena kunci dicabut dari kotaknya? Tenang aja, jaringan listrik kamarnya SenS Hotel & Spa ternyata terpisah dari kunci kamar. Listrik tetap bisa menyala saat kita keluar kamar, kecuali memang kita matikan. Jadi kalau kamu perlu mengisi baterai gadget kamu dan pada saat yang bersamaan harus keluar kamar, gadget tetap bisa diisi baterainya, AC pun tetap menyala menyejukkan kamar.

 

A post shared by Dendalion (@zensutawijaya) on

//platform.instagram.com/en_US/embeds.js

Terima kasih ya SenS Hotel & Spa buat undangannya. Looking forward to visiting again :*

 

//platform.instagram.com/en_US/embeds.js

Berminat untuk melihat lebih lanjut? Monggo mampir ke situs SenS Hotel & Spa dan manjakan mata dengan foto-fotonya yang cantik 😉