Gusto Gelato – Kerobokan

Panas-panas di Bali enaknya makan gelato, apalagi kalau siang. Ya kan. Tapi ya buat saya yang namanya gelato selalu enak dimakan jam berapapun dalam suhu bagaimanapun. Makanya di tengah rintik hujan saya tetap mampir ke Gusto Gelato di Mertanadi, Seminyak. 

Apa sih bedanya gelato dengan es krim? Sebenernya hampir sama sih. Gelato itu ya Bahasa Italia untuk es krim. Bedanya dengan es krim biasa, takaran susu di gelato lebih banyak. Dan suhu hidang gelato sedikit lebih rendah dari es krim makanya jadi lebih cepat cair.

Gusto Gelato ini bangunannya luas, dan selalu ramai. Ada pilihan duduk di dalam, atau di taman belakang buat yang merokok atau mau menikmati semilir angin.

Harga di Gusto Gelato sangat terjangkau. Paling murah Rp 22rb untuk 2 rasa. Kalau bawa kendaraan, parkiran nan luas ada di seberang bangunan.

Cara beli di Gusto Gelato: bayar dulu di bagian kasir sesuai pesanan yang diinginkan, baru pindah ke bagian gelatonya. Serahkan bon pembayaran ke pelayan, lalu pilih mau rasa apa. Ada pilihan pakai cup atau cone.

Saya pilih rhum raisin dan lemon. Manisnya rhum raisin bertemu masam segar lemon, klop. 

Gusto Gelato lagi hits banget, pas saya ke sini antriannya panjang namun tetap tertib dan cepat. Ya paling yang bikin lama kebingungan pelanggan mau pilih rasa apa aja soalnya banyak rasa disediakan di sini.

Jam buka Gusto Gelato adalah sepanjang minggu jam 10 – 22. Alamatnya di Jalan Mertanadi, Kerobokan.


Warung Cahaya – Seminyak

Kadang tak perlu datang ke tempat besar untuk merasakan kenikmatan lidah dan perut. Tempat kecil sedikit terpencil seperti Warung Cahaya juga menjanjikan hidangan yang membuat lidah berdecak nikmat.

Warung Cahaya - Bali

Berbagai hidangan di Warung Cahaya mengandung babi dan ayam. Bisa pilih mau yang mana. Yang paling direkomendasikan oleh kawan saya Shasya, adalah nasi babi sambal matah dan nasi ayam sambal matah.

Warung Cahaya - Bali

Menu utama Warung Cahaya ini terdiri dari seporsi nasi putih, daging babi/ayam goreng, limpahan sambal matah. Sambal matahnya benar-benar berlimpah ruah. Daging yang gurih dan renyah ditimpa sambal matah segar, menemani nasi putih hangat.
Tak ada duanya.

Untuk harga, Warung Cahaya termasuk terjangkau mengingat di Seminyak biasanya harga makanan lumayan bikin meringis.

1 porsi Rp 32rb saja. Dijamin kenyang karena banyak banget.

Suka dengan sambal matah Warung Cahaya? Pesan saja ekstra sambal. Lalu setelah dihidangkan dan selesai mintalah untuk dibungkus. Worth it banget. Bawangnya segar, irisan cabenya pedasnya gak bercanda. Kalau tidak suka pedas bisa juga pesan tanpa sambal. Enaknya sama sih, cuma gak seenak kalau pakai sambal matah.

Warung Cahaya - Bali

Saran kawan saya, sebelum ke Warung Cahaya telpon/sms lebih dulu bila mau pesan menu nasi babi sambal matah atau nasi ayam sambal matah karena cepat habis. 

Di hari pertama saya ke Warung Cahaya jam 2 siang, menu andalan mereka habis. Pada percobaan kedua, hari berikutnya, saya sudah sms pagi-pagi. Jadi sudah dicadangkan. Itupun pesanan tetap tiba di meja saya dalam waktu cukup lama, sekitar 15 menit. Tapi gak usah kuatir, layak tunggu banget.

Warung Cahaya - Bali

Alamat dan telpon Warung Cahaya ada di bawah ini (Makasih, Sefin, buat infonya)

Warung Cahaya - Bali

Selamat menikmati 🙂

Warung Darsana – Legian

Warung Darsana merupakan warung nasi mungil terselip di antara pertokoan dan resto-resto bule khas Jalan Legian. Saya gak tahu sejak kapan Warung Darsana ini ada, yang pasti pas saya ke Kuta tahun 2010 Warung Darsana sudah cukup melegenda dan ramai dikunjungi.

Ada tiga pilihan nasi campur. Nasi babi, nasi ayam, dan nasi babi+ayam.

Warung Darsana Legian Bali
Rasa makanan di Warung Darsana sangat masakan rumahan. Pas. Satenya enak, manis dan terasa bumbu rempahnya. Kalau menginap di daerah Kuta dan Legian, dan bosan dengan berbagai makanan resto, harus coba makan di Warung Darsana ini.

Warung Darsana Legian Bali

Jangan harapkan warung mewah ya. Seadanya saja. Kapasitas Warung Darsana ini maksimal 12 orang.

Warung Darsana Legian Bali

Total pengeluaran makan di sini: 2 nasi campur, 1 aqua kecil, 1 teh botol Rp 40.000.

Alamat Warung Darsana: JL. Raya Legian, dekat perempatan Jl. Padma. Kalau pakai Google Maps bisa cari dengan nama Darsana. Bukan Warung Darsana atau Warung Nasi Darsana. Saya 3x muterin Jalan Legian mencari warung ini gara2 ada berbagai tag bernama Warung Darsana di sana.

Warung Darsana Legian Bali

Mengunjungi sisa jejak maut di Lubang Mbah Soero (Mbah Suro)

Bahkan saat menuliskan tulisan ini, saya masih bisa merasakan sesak yang saya rasakan saat berada di Lubang Mbah Soero (Mbah Suro) ini.

Kota Sawahlunto (berasal dari persawahan yang dilalui Sungai Lunto, maka disebut Sawahlunto) luasnya sekitar 274 km2 dengan penghuni sekitar 53 ribu penduduk. Bentuk kota ini seperti kuali, dikelilingi bukit di sekelilingnya dan kotanya berada di dasar bukit. (Mantan) Walikota Amran Nur (alm) lah yang membuat kota ini kembali hidup sekitar pertengahan tahun 2000an, dengan memperbaiki kota dan segala peninggalan bersejarahnya.

Salah satunya adalah Lubang Mbah Soero (Mbah Suro) yang merupakan lubang utama bekas tambang batubara yang ada di Tangsi Baru Kelurahan Tanah Lapang, Kecamatan Lembah Segar. Nama Mbah Soero (Mbah Suro) sendiri diambil dari nama mandor setempat. Beliau dikenal sakti dan menjadi panutan warga.

Bekas tambang batubara Sawahlunto, Lubang Mbah Suro.

Meski hanya berupa lubang bekas tambang batubara, ada kisah panjang dan menarik, dan cukup mengerikan buat saya, yang pernah terjadi di Lubang Mbah Soero (Mbah Suro). Dari tempat inilah muncul istilah Orang Rantai. Sebutan bagi para pekerja tambang yang merupakan penduduk pribumi dan para pelaku tindak kriminal di masa penjajahan Belanda. Mereka dikirim dari berbagai daerah di Hindia Belanda termasuk Batavia. Para buruh itu dirantai kakinya sambung menyambung satu sama lain dan dipaksa menambang batubara demi kepentingan Belanda.

Bekas tambang batubara Sawahlunto, Lubang Mbah Suro.

Keberadaan batubara di daerah ini di temukan oleh de Groet, ahli geologi Belanda, pada 1858. Tepatnya di Sungai Ombilin. Penemuan de Groet ditindaklanjuti oleh Ir Willem Hendrik De Greve pada 1867, dilanjutkan oleh Ir Verbeck. Penelitian yang dilakukan Ir. Verbeck menghasilkan temuan kandungan batubara dengan kisaran mencapai puluhan juta, sehinga dimulailah penambangan di wilayah tersebut. Pertambangan pun dimulai pada 1892.

Bekas tambang batubara Sawahlunto, Lubang Mbah Suro.

Lubang tambang ini memiliki lebar dua meter dan tinggi dua meter. Kedalamannya berkisar 15 meter dari permukaan tanah. Sebenarnya masih ada lubang lain yang berada lebih dalam namun belum dilanjutkan pemugarannya. Di berapa titik kami diberi lihat lubang-lubang yang terlarang buat dimasuki pengunjung dengan alasan keamanan.

Bekas tambang batubara Sawahlunto, Lubang Mbah Suro.

Memasuki tempat ini saya seperti dihimpit sebuah kenangan pahit. Sesak. Bukan karena kekurangan udara. Lubang ini diberikan beberapa ventilasi udara buatan dan masih ada sisa ventilasi udara alami. Udara di sini cukup dingin dan lembab. Mungkin karena pemandu kami saat itu menceritakan keadaan para pekerja di sana.

Bekas tambang batubara Sawahlunto, Lubang Mbah Suro.

Bekas tambang batubara Sawahlunto, Lubang Mbah Suro.

Orang-orang rantai yang jumlahnya bisa ratusan bahkan ribuan yang diperlakukan dengan sangat buruk. Bekerja tanpa henti siang dan malam. Tanpa nama, karena dianggap merepotkan kalau harus mendata mereka memakai nama. Maka mereka hanya dicap nomer di tubuh mereka memakai besi panas.

Bekas tambang batubara Sawahlunto, Lubang Mbah Suro.

Bekas tambang batubara Sawahlunto, Lubang Mbah Suro.

Konon banyak pekerja yang tewas di sana, entah karena sakit, kelelahan atau bunuh duiri karena putus asa, dan jenasah mereka ditimbun begitu saja di sana. Bahkan ada yang diselipkan secara paksa ke lekukan dinding di tambang. Saya tidak bisa menjelaskan apa yang saya rasakan di sana dalam satu kata saja. Sakit, sedih, marah, takut. Semua kumpul jadi satu. Seolah masa lalu Lubang Mbah Soero (Mbah Suro) saat itu sedang berusaha merengkuh saya sambil meratap, mecoba membuat saya merasakan apa yang dirasakan orang-orang rantai walau hanya sekelumit.

Bekas tambang batubara Sawahlunto, Lubang Mbah Suro.

Menurut pemandu kami, dulu ketika Lubang Mbah Soero (Mbah Suro) dibangun kembali sebagai objek wisata dan direnovasi, banyak ditemukan tulang belulang manusia. Diyakini mereka berasal dari jenazah para orang rantai dan diperkirakan ada ratusan jenazah yang ditimbun di dalam Lubang Mbah Soero (Mbah Suro)…

Diceritakan juga pekerja renovasi saat itu banyak yang didatangi para orang rantai dalam mimpi mereka dan diminta menguburkan tulang belulang tersebut dengan layak. Salah satu lorong bahkan ditutup atas permintaan paranormal dan masyarakat, karena begitu banyak tulang belulang yang ditemukan di sana. Percaya atau tidak percaya.

Kami tidak terlalu lama berada di sana karena lorong lubang yang dibuka untuk umum juga tidak terlalu panjang. Tapi buat saya, itu sudah lebih dari cukup. Keluar dari lubang tambang kembali ke gedung utama, saya memutuskan untuk “membersihkan” dan menyegarkan diri dengan mengambil wudhu di salah satu toilet gedung. Sulit untuk tidak merasa terhimpit di ruang sekecil dengan masa lalu segelap itu..

Bekas tambang batubara Sawahlunto, Lubang Mbah Suro.

Ada cerita dari salah satu teman seperjalanan saya hari itu. Dia ada di bagian paling belakang rombongan. Saat menaiki tangga menuju pintu keluar, dia sekilas melihat sesuatu. Namun saat hendak diperjelas, dia keburu ditarik oleh pemandu kami agar ikut keluar bersama yang lain. Di luar barulah pemandu kami bertanya, “Lihat juga ya tadi?” Teman saya bilang dia melihat satu sosok bungkuk telanjang dada berjalan menghampirinya di salah satu lubang yang belum dibuka untuk umum. Wow..

Yang menarik juga adalah ketika saya menceritakan dan menyebarkan beberapa foto yang saya ambil di Lubang Mbah Soero (Mbah Suro) ini di Twitter, ada tanggapan-tanggapan seru dari teman-teman saya:

//platform.twitter.com/widgets.js

//platform.twitter.com/widgets.js

Di luar benar atau tidak dan percaya atau tidak sisa-sisa kekejaman yang terjadi saat itu masih menggaung ke masa sekarang, saya rasa tidak ada salahnya kita mendoakan para pekerja yang tewas dengan menyedihkan di sana agar mereka bisa tenang kembali ke Yang Maha Kuasa.

//platform.twitter.com/widgets.js

Menghadapi rasa takut di Pulau Pasumpahan (Part 1)

Ada dua hal yang termasuk hal-hal yang paling saya takuti dalam hidup. Ketinggian, dan air. Bukan berarti saya takut mandi (cuma sering malas aja). Saya takut menghadapi air yang banyak dan dalam. Sungai, kolam renang dalam, dan laut. Terutama laut. Belajar berenang berkali-kali masih belum bisa menghilangkan rasa takut saya. Saya sampai berpikir apakah mungkin saya pernah punya masa lalu yang berhubungan dengan air dan tenggelam yang tidak saya tahu, saking takutnya.

Dan di Pulau Pasumpahan, Sumatera Barat, saya bertemu keduanya. Tempat tinggi dan laut. Dan keduanya menghadapi saya dengan senyuman jahil.

Berada di pantai barat Kota Padang, sebelah barat Pulau Setan Kecil atau 200 meter dari Pulau Sikuai. Persisnya di perairan Kecamatan Bungus Teluk Kabung, Kota Padang. Menuju Pulau Pasumpahan bisa memakai speedboat sekitar  35 menit. Bila ingin langsung menuju Pulau Pasumpahan Kota Padang dapat menyewa perahu nelayan dari Pelabuhan Teluk Bayur.

Ada legenda rakyat yang menemani pulau ini. Adalah seorang anak bernama Boko yang hidup serba kekurangan bersama ibundanya. Boko kemudian memutuskan untuk pergi merantau. Dengan kerja kerasnya yang luar biasa, dia berhasil mengubah hidupnya menjadi berkelimpahan.

Dalam perjalanannya, suatu hari ia singgah di sebuah daratan. Yang tidak dia sadari karena begitu lama dia pergi, daratan itu adalah kampung halamannya. Ibunya yang telah lama menunggu kepulangan puteranya, melihat kedatangan Boko dan mengenali anaknya. Sayangnya tidak demikian dengan Boko.

Boko bersikeras bahwa perempuan tua yang menghampirinya bukanlah ibunya. Dia naik kembali ke kapal untuk melanjutkan perjalanan. Sang ibu yang merindukan anaknya mengejar naik ke atas kapal kemudian memeluknya. Boko, entah mengapa, tetap tidak mengakui sang ibu.

Tidak lama kemudian badai menghantam laut. Kapal pecah berserakan. Ibu Boko terombang-ambing di lautan. Sakit hati dan amarah yang bergolak atas penolakan anaknya, sang ibu bersumpah dan berdoa agar Boko diberi hukuman.

Sumpah sang ibu terdengar oleh para penumpang, melawan badai. Para penumpang yang terombang-ambing termasuk Boko, berteriak memohon agar sumpah dihentikan dan doa ditarik kembali. Apa yang sudah terucap, tak bisa ditelan lagi.

Ketika badai reda, terbentuklah sebuah daratan besar yang kemudian diberi nama Pulau Pasumpahan yang dipercaya merupakan tempat ibunda Boko mengucapkan sumpahnya.

Pasumpahan Island. Images by @saifanah

Pulau ini mempunyai pemandangan yang sangat indah sekali. Hamparan pasir di sepanjang pantai Pasumpahan yang disertai deburan ombak menjadi daya tarik utama pantai ini. Ada berbagai kegiatan yang bisa dilakukan di sini, misalnya snorkeling, berenang, berkemah, menyelam, maupun trekking.

Saya mengikuti kegiatan yang terakhir yang pada proses naik dan turun saya setengah mati menahan diri untuk tidak menyumpah-nyumpah :))

Saya tidak menyukai ketinggian. Tapi saya lebih tidak menyukai ditinggal teman-teman yang lain memanjat (iya, memanjat) bukit menuju puncak pulau. Walhasil saya menghabiskan hampir setengah jam untuk menaiki bukit yang jalurnya curam (cukup curam hingga kita perlu bantuan tali yang dipasang di sana untuk bisa naik). Tantangan pertama adalah dinding batu dengan kemiringan mendekati 90 derajat (atau mungkin saya aja yang lebay).

Dibantu dengan dua utas tali lentur di kiri dan kanan batu, setiap pendakian hanya boleh dilakukan oleh 3 orang sekali jalan. Sulit? Tergantung. Yang belum pernah bersapa dengan alam, mungkin akan bilang sulit.

Saya? Saya bilang itu sulit :)) Ya maap anak kota, biasa manjat tangga semen dan tangga jalan ketemu dinding batu. Saya memilih menunggu tali selesai digunakan pemanjat sebelumnya, baru saya naik. Pertimbangan saya, malesin juga kalau pemanjat di atas saya tau-tau berubah arah sementara tujuan saya gak searah dengan dia. Nanti jadi gak seimbang megang talinya. Dinding batu selesai, trekking selesai? I wish :)))

Ketemu lagi dengan jalur tanah kering berkerikil dengan kemiringan lebih landai, tapi tetap butuh tali buat pegangan. Dan yang bikin saya senewen, ketemu pohon tumbang di mana kita harus merunduk melewatinya, atau melompatinya sekalian. OKESIP.

Jalur kedua selesai. Perjalanan… belum selesai dong ah. Di titik foto di bawah ini saya menyerah. Terserah yang lain mau ke mana ngapain saya mau duduk manis aja di sana, pikir saya.

Pasumpahan Island. Images by @saifanah

Tapi ya dasar teman seperjalanan kompor terbakar semua, mereka membujuk saya buat naik terus. Dan sebagai yang gampang terbujuk, saya… lanjut. Sambil dalam hati ngomel kenapa saya gampang dikomporin *emot roll eyes di sini*

2016-08-12_02-06-49

Tapi sungguh saya gak menyesal sih kehabisan napas dan tenaga, perjalanan tadi terbayar lunas ketika tiba di puncak. Pemandangan luar biasa menanti di sana.

Pasumpahan Island. Images by @saifanah

Pasumpahan Island. Images by @saifanah

Keren ya. Banget. Sejauh mata memandang, yang saya lihat adalah kecantikan negeri Indonesia. Dalam hati saya mendendangkan lagu ini:

Sungguh indah tanah air beta

Tiada bandingnya di dunia

Karya indah Tuhan Maha Kuasa

Bagi bangsa yang memujanya

Indonesia ibu pertiwi

Kau kupuja kau kukasihi

Tenagaku bahkan pun jiwaku

Kepadamu rela kuberi

Sekitar 15 menit saya di sana, lalu saya memutuskan untuk turun. Sadar diri bahwa proses saya turun pasti akan lambat dan merepotkan yang lain kalau barengan. Salah satu guide kami, Abeng, menemani saya turun.

Proses naik, “hanya” ditemani rasa lelah. Lelah menjalani treknya dan lelah melihat trek lanjutan yang harus dilalui. Proses turun, adalah proses di mana saya berhadapan dengan ketakutan saya sendiri. Ketinggian. Tidak mudah menatap ke bawah dan menyadari bahwa HEEEY TINGGI LOH INI YAA :)) Tidak mudah menjejakkan kaki dan berpikir, satu langkah salah, habis saya ngegelinding.

Untung kesabaran Abeng, sayang saya lupa ambil foto dia – cakep padahal (HEY FOKUS NIT), tampak tiada batasnya. Dia membimbing saya langkah demi langkah. Kadang pasang tangan buat saya jadikan pijakan dan pegangan hidup. Dia mengingatkan saya tidak perlu terburu-buru. That we have all the time in the world. Duh, Abeng aku padamu.

Berkali-kali saya berhenti. Napas. Dia mengambil beberapa foto muka eungap saya pakai kameranya, nampaknya buat barang bukti perjalanan :))

Sebenarnya bukan tenaga yang terlalu jadi masalah. It was the fear itself. Gara-gara takut saya jadi ngebayangin yang nggak-nggak. Ngebayangin nyerosot lah. Jatuh lah. Terpleset lah. It stopped me from using my common sense and good judgement. Saat masih ada pilihan lain yang bisa diambil, saya akan memilih jalan lain. Tapi di atas sini, tak ada jalan lain. Dan di hadapan saya adalah satu-satunya jalan yang bisa saya tempuh untuk turun.

Jadilah langkah demi langkah saya turun. Menyemangati diri saya sendiri. Dan cukup bersyukur saya mengambil keputusan untuk turun duluan, biar gak terintimidasi antrian :))

Kalau naik saya butuh 15 menit. Turun saya butuh sekitar setengah jam. Iyaaa saya semenyedihkan ituuu :))

Long story short, saya lega luar biasa ketika menjejakkan kaki di pasir pantai lagi. Proses menghadapi ketakutan selesai. Dan ternyata, alhamdulillah, saya selamat. HORE!

Di bawah kami disambut dengan potongan semangka nan segar. Kayaknya saya makan 5 potong sendiri. Ya maap, enak :’)

Sisa kunjungan dihabiskan rombongan dengan berfoto, berenang dan snorkeling. Saya leyeh-leyeh aja menikmati angin sepoi di kursi pantai.

Pulau Pasumpahan

Pulau Pasumpahan

Pulau Pasumpahan

Pulau Pasumpahan

Cantik sekali ya pulau ini dan pemandangan sekelilingnya :’)

Awalnya kami berencana berpindah ke pulau-pulau lain, namun karena dikejar waktu, kami memutuskan untuk menikmati Pulau Pasumpahan ini saja.

Jam 2 siang awan mulai mendung. Kami disarankan untuk kembali ke Padang agar tidak tertahan di pulau karena hujan. Dan di perjalanan pulang lah saya berhadapan dengan ketakutan saya yang kedua.

Laut.

But that is another story for another day. Di bagian kedua aja saya ceritanya ya 😉

PS: Beberapa cerita tentang pulau ini bisa ditemukan di blog rekan-rekan seperjalanan saya:

Winny Marlina: Ada Pulau cantik Pasumpahan di Padang, Sumatera Barat

Yuki Anggia: Dahulu dan Kini badai Menerjang di Pulau Pasumpahan

Info Sumbar: Indahnya Pulau Pasumpahan Bisa Kamu Nikmati Dengan 5 Kegiatan Seru Ini

Photo credit: me and Him

 

Menjejakkan langkah di Rumah Puisi Taufiq Ismail

Ada sajadah panjang terbentang

dari kaki buaian

sampai ke tepi kuburan hamba

kuburan hamba bila mati

Rindu kami padamu ya Rasul

rindu tiada terperi

Kalau pernah kenal grup musik Bimbo, pasti kenal kedua lagu itu. Kalaupun tidak kenal, biasanya kedua lagu tersebut banyak diputar di berbagai tempat selama bulan Ramadan.

Lirik lagu tersebut ditulis oleh Taufiq Ismail yang merupakan salah satu penyair dan aktivis di Indonesia. Bergelar Datuk Panji Alam Khalifatullah, beliau lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat.

2016-08-09_01-08-15

Dibangun atas bantuan dana dari Habibie Award melalui The Habibie Center, Rumah Puisi Taufiq Ismail ini digunakan sebagai penyimpanan koleksi puisi dan juga sebagai perpustakaan sekitar 8000 buku milik beliau. DELAPAN RIBU. dan itu baru sebagian karena masih ada yang beliau simpan di rumah di Jakarta saat ini. Rumah Puisi yang terletak di kaki Gunung Singgalang dan Gunung Merapi ini memberi nuansa adem dan hening. Cocok sekali buat leyeh-leyeh sambil membaca berbagai buku sastra yang bisa dipinjam untuk dibaca di tempat.

2016-08-09_01-06-59

Di tempat ini juga terdapat sudut kerja beliau dengan pemandangan yang cantik. Yang kayaknya kalau saya bisa sebulan aja kerja di situ, satu novel bisa kelar lah 😀

2016-08-09_01-07-42

Selain Rumah Puisi, di lahan yang sama juga terdapat Rumah Budaya Fadli Zon (yang ternyata menulis puisi juga) dan penginapa The Aie Angek (Air Hangat) Cottage.

Taufiq Ismail berharap keberadaan Rumah Puisi ini membuat para generasi muda semakin banyak menelurkan karya tulisan. Tak perlu dalam bentuk tulisan puisi, bisa dalam bentuk tulisan apapun. Just write.

2016-08-09_01-05-54

Kamu sudah menulis?

Sejenak mengintip masa lalu Bung Hatta

Rumah Bung Hatta yang berlokasi di di Jalan Soekarno-Hatta No.37, Bukittinggi, Sumatera Barat merupakan tempat Bung Hatta dilahirkan dan menghabiskan masa kecilnya sampai berusia 11 tahun. Bung Hatta kemudian melanjutkan pendidikan menengahnya di Meer Uitgebred Lager Onderwijs (MULO) atau sekolah menengah di kota Padang.

Rumah Lahir Hatta

Rumah ini didirikan tahun 1860an menggunakan struktur kayu ini terdiri dari bangunan utama, pavilion, lumbung padi, dapur dan kandang kuda serta kolam ikan. Bangunan utama dijadikan tempat menerima tamu, ruang makan keluarga, dan kamar ibu, paman, dan kakek Bung Hatta. Pavilion dijadikan kamar tidur Bung Hatta.

2016-08-08_07-50-34

Rumah aslinya sudah runtuh di tahun 1960-an, namun atas gagasan Ketua Yayasan Pendidikan Bung Hatta, rumah tersebut dibangun ulang sebagai upaya mengenang dan memperoleh gambaran masa kecil sang proklamator di kota Bukittinggi.

Pembangunan ulang dimulai 15 Januari 1995 dan diresmikan 12 Agustus 1995, bertepatan dengan hari lahir Bung Hatta sekaligus dalam rangka merayakan 50 tahun Indonesia Merdeka.

Rumah ini dibangun mengikuti bentuk aslinya dan sebagian besar perabotan di dalam rumah masih asli dari peninggalan masa kecil Bung Hatta yang diperoleh dari keluarga dan kerabat beliau, begitupun tata letak perabotan tersebut masih dipertahankan di tempat asalnya.

2016-08-08_07-54-15

Di kamar tempat kelahiran Bung Hatta saya merasa terharu dan takjub. Di sini lah tempat kelahiran salah satu founding fathers Republik Indonesia. Yang bersumpah tidak akan menikah sebelum Indonesia merdeka. Orang besar dalam sejarah negara. Dan di sanalah saya, menatap tempat tidur yang pernah digunakan Siti Saleha melahirkan seorang Mohammad Athar yang kemudian lebih dikenal sebagai Mohammad Hatta.

2016-08-08_08-10-31

Apalagi saat masuk ke kamar yang digunakan sebagai kamar tidur Hatta muda. Waaa saya ada di kamar Bung Hatta!

2016-08-08_07-51-39

Di rumah ini juga dipajang dokumentasi kehidupan keluarga Bung Hatta dalam berbagai bentuk, yang diserahkan oleh keluarga Bung Hatta.

2016-08-08_08-40-45

Rumah ini saat ini dirawat oleh Ibu Dessiwarti dari Dinas Pariwisata. Ibu Dessiwarti ini lah di usianya yang menuju senja, merawat rumah ini dengan telaten dan penuh cinta. Saya melihat kecintaan tersebut dari betapa bersihnya keadaan rumah. nyaris tak ada debu sedikit pun saya lihat. Ibu Dessiwarti juga lah yang menjahit tirai penutup jendela, taplak meja, bahkan yang memberikan lapisan pernis di semua perabot kayu di Rumah Kelahiran Bung Hatta ini.

Masuk ke rumah kelahiran Bung Hatta ini kita akan disambut oleh sebuah ruang kecil di sebelah kiri teras yang menjadi kamar baca beliau. Saya menoleh ke seberang rumah. Tanpa bangunan lain, jendela kamar baca ini berhadapan langsung dengan pemandangan Gunung Marapi. Indah luar biasa.

Menurut Ibu Dessiwarti keluarga Bung Hatta pada masanya adalah keluarga kaya. Mereka memiliki 18 kuda dan 2 buah kereta kuda.

DELAPAN BELAS KUDA. Itu mandiinnya gimana ya? *abaikan*

Kalau kamu ke Bukittinggi, mampirlah sejenak dua jenak ke sini. Lihat masa lalu mantan Wakil Presiden kita. Kenali sejarahnya. Kenali beliau.

 

 

 

 

 

 

Pecalang, siapa mereka?

Di kunjungan saya ke Bali beberapa tahun lalu, saya beberapa kali mendengar kata “Pecalang”. Terutama saat membahas keamanan di Bali. “Tidak ada maling, kak. Ada pecalang yang jaga,” kata salah satu petugas penginapan saya.

Awalnya, saya mengira pecalang itu kata ganti orang pertama. Ya siapa tau bli petugas tadi mengatakan “Tidak ada maling, kak. Ada saya yang jaga.” Beberapa kali saya memakai kata tersebut untuk menyebut diri saya sendiri yang berujung dengan saya menerima tatapan bingung. Sampai kemudian seorang warga yang baik hati menjelaskan arti pecalang ke saya. Rasanya saya mau menghilang saking malunya 😀

pecalang-ilustrasi
Sumber gambar: https://phdikarangasem.wordpress.com

Dari hasil saya browsing sana sini, pecalang merupakan petugas keamanan yang swadaya oleh warga Bali. Pecalang merupakan orang yang dipercaya warga mendapat tugas menjaga keamanan banjar (desa adat) tempat tinggalnya. Seperti apa penampakan pecalang ini? Biasanya mereka memakai pakaian adat Bali (yaitu udeng dan kain kotak-kotak), keris, beserta rompi hitam dengan tulisan Pecalang + nama banjar mereka.

Kata “Pecalang” sendiri konon berasal dari kata “celang” atau “calang” yang artinya berindera mumpuni. Pecalang berarti orang yang semua inderanya mumpuni melebihi orang lain. Kelebihan ini membuat mereka menjadi lebih mudah dan waspada dalam menjaga keamanan desa adat mereka terutama saat ada kegiatan besar seperti upacara agama dan kegiatan lainnya.

Ada dua jenis pecalang, yaitu pecalang sekala dan pecalang niskala. Pecalang sekala adalah mereka yang bisa dilihat. Dengan kata lain, manusia. Pecalang niskala adalah pecalang yang tidak dibisa dilihat dan dirasakan indera manusia. Seru ya 😀

Pecalang niskala dipercaya disediakan oleh Semesta untuk menjaga keharmonisan hidup dunia fana. Jenis Pecalang niskala adalah:

  • Pecalang Ring Purwa (mata angin Timur) memiliki nama Sang Jogor Manik. Sering juga dipanggil dengan nama Bhagawan Penyarikan,
  • Pecalang Ring Pascima (mata angin Barat) memiliki nama Sang Citrangkara. Sering juga dipanggil dengan nama Bhagawan Anglurah,
  • Pecalang Ring Daksina (mata angin Selatan) memiliki nama Sang Dorakala
  • Pecalang Ring Utara (mata angin Utara) memiliki nama Bhagawan Wiswakarma.

Sementara pecalang sekala dibagi menjadi beberapa macam, di antaranya:

  • Pecalang Desa Pekraman (Pecalang banjar pekraman) dikenal juga sebagai Jagabhaya Desa, tugasnya menjaga keamanan Desa Pekraman

Pecalang Desa Pekraman

Sumber gambar: singaraya.com

  • Pecalang Subak (penglima Toya), tugasnya memastikan keamanan pengaturan pengairan sawah.

subak

Sumber gambar: heritageinventory.web.id

  • Pecalang Segara (Pecalang Bendega), tugasnya menjaga keamanan wilayah nelayan atau pantai.

Buleleng

Sumber gambar: beritabali.com

  • Pecalang Hutan (Jagawana), tugasnya menjaga keamanan wilayah perhutanan agar tidak terjadi pencurian dan penebangan pohon secara sembarangan.

hutan bambu Bangli

Sumber gambar: bali.panduanwisata.id

  • Pecalang Sawung Tabuh Rah, tugasnya menjaga keamanan saat sabung ayam.

Tabuh Rah

Sumber gambar: dewatanews.com

Unik banget ya, sabung ayam pun ada pecalangnya. Selain keunikan tersebut, menyesuaikan dengan jaman, para pecalang kini mendapat pendidikan dan fungsi intelijen. Iya, kayak di film-film gitu. Bersama dengan kepolisian, para pecalang diharapkan bisa bekerjasama mendeteksi isu dan ancaman yang berkenaan dengan keamanan dan ketertiban masyarakat.

pecalang intelijen

Para pecalang mengikuti sosialisasi Pecalang Intelligent Network (PIN)

Mengutip ucapan Wakapolresta Denpasar, AKBP Nyoman Artana yang dimuat di Tribun Bali, ” “Kepolisian melihat adanya potensi besar yang dimiliki oleh pecalang di Bali. Baik pecalang dan polisi sama-sama memiliki tugas menjaga keamanan di masyarakat. Oleh sebab itu, kepolisian akan bersanding dan bekerja sama dengan pecalang dalam program PIN ini. Nantinya pecalang akan berperan menyampaikan informasi terkait isu-isu Kamtibmas di desa mereka masing-masing. Ini merupakan sebuah program terobosan dari Satuan Intelkam.”

Pecalang yang awalnya saya sangka sekadar hansip desa, ternyata fungsi dan persyaratannya lebih rumit. Saya jadi malu sendiri pernah meremehkan pecalang. Sekarang tiap ke Bali saya memiliki respek yang lebih pada para pecalang, mengingat tugas mereka yang cukup berat. Secara gotong royong menjaga daerah tempat tinggal mereka yang berada di propinsi yang merupakan salah satu tujuan wisata terbesar di dunia tetap aman dan layak kunjung. Sungguh mahakarya Indonesia yang luar biasa.

Bagaimana menurutmu sendiri soal pecalang ini? Apakah ada pengalaman berkaitan dengan mereka?

Tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti lomba penulisan Jejak Mahakarya.

Sumber gambar karikatur: abewardana.blogspot.com