SEAtrip Day 13: Laos-Vietnam

Perjalanan lanjut lagi. Kalau kabar yang saya dengar pengemudi bisnya sering ugal-ugalan, kali ini saya sepertinya mendapat pengemudi yang berhati-hati. Perjalanan tidak terasa membahayakan. Kami berhenti lagi entah di mana sekitar jam 2 pagi. Bis baru jalan lagi jam 5 pagi. Rupanya 4 jam tersebut dimanfaatkan untuk istirahat bagi pengemudi.

Perjalanan makin lama makin menanjak. Rupanya kami memasuki wilayah pegunungan. Udara makin dingin, kabut perlahan semakin tebal. Hinggap pada suatu titik, jarak pandang hanya sekitar beberapa meter ke depan. Di pinggir jalan jurang pun tertutup kabut sehingga tampak seolah tidak ada jurang di sana. Padahal saat kabut sedikit tersibak, saya bisa melihat jurang yang sangat terjal. Jam 7 pagi kamni tiba di Nam Phao, perbatasan Laos.

Saya dan beberapa turis bule tadi disuruh turun sendiri untuk cap paspor. begitu keluar, kami disergap kabut tebal disertai angin dan hujan rintik-rintik. Termometer yang dibawa salah satu turis argentina menyatakan saat itu suhu mencapai 9 derajat celcius.

Tiba di kantor imigrasi, keadaannya kacau sekali. Kernet bis serobot2an untuk bisa menyetorkan paspor penumpangnya. Ternyata untuk warga lokal, penyetoran paspor dilakukan oleh kernet bus. Sementara untuk orang asing dilakukan sendiri. Saat kami kebingungan melihat jubelan orang, tiba-tiba seseorang yang saya kenali sebagai kernet bus kami menghampiri dan meminta paspor kami. Setelah dikumpulkan, dia langsung merangsek maju ke kerumunan tersebut dan meletakkan paspor kami di depan petugas. Oh rupanya caranya gitu XD

Tidak lama kemudian saya menuju loket di sebelah untuk mengambil paspor saya dari petugas perempuan yang lebih bersahabat kebanding petugas pengecapan imigrasi di loket sebelah. Rupanya ada biaya yang disebut Exit Stamp sebesar USD 2. Saya heran juga waktu para bule itu bilang mereka gak tau kalau mereka harus bayar. Lah kan di berbagai situs traveling sudah dituliskan. Makanya saya sengaja siapin USD 1 sebanyak beberapa lembar.

Lepas dari keriuhan dan kekacauan di “gedung” imigrasi, kami berjalan kembali ke bis. Saya bahkan sudah tidak bisa bernapas saking kencang dan dinginnya angin. sampai di bis saya megap-megap cari napas. Saat salah seorang ibu di bis yang ramah (selalu tersenyum bila bertatapan dengan saya) memberi saya tissue dan menunjuk hidung saya, saya baru sadar saat itu saya mimisan. Saking dinginnya.

Tidak lama kemudian bis bergerak kembali. Perjuangan belum usai. Saya masih harus menempuh perbatasan Vietnam.

Bis berjalan kembali dengan perlahan sekitar satu kilometer menyeberangi no man’s land. Kabut benar-benar semakin tebal. Jarak pandang saat itu mungkin hanya satu atau dua meter.

Tidak lama kemudian kami disuruh turun lagi. Perbatasan Vietnam.

Saya dan beberapa turis tadi masuk ke gedung imigrasi dan menyerahkan paspor kami ke Desk for Foreign Passport. Sambil menunggu paspor dicap, saya bertanya pada salah seorang petugas di mana letak toiletnya. Dia menunjuk ke satu arah.

Saat saya masuk ke toilet…

Toiletnya terdiri dari empat kotak tanpa pintu. Semua toilet berbentuk jongkok mempunyai satu saluran air terbuka. Yang artinya kita bisa tau apa yang dikeluarkan oleh penghuni toilet di bagian ujung bila kita di salah satu toilet di sebelahnya 😐 Mana baunya…..

Ya udah lah saya bodo amat lah. Daripada nanti di jalan kebelet dan gak tau kapan ketemu toilet lagi..

Pengecapan paspor tidak berlangsung lama. Dikenakan Entry Fee sebesar USD 1. Entah kenapa petugas bersikap lebih ramah kepada saya kebanding dengan turis2 lain yang perempuan juga sekalipun. Mungkin karena saya juga tidak menunjukkan sikap menentang dan sombong, yang sayangnya saya lihat dilakukan oleh sebagian besar turis-turis barat kepada penduduk lokal. You don’t mess with immigration people.

Selesai cap paspor. Kami kami kembali menuju bis. Namun rupanya ada pemeriksaan barang sebelum bis bisa melewati perbatasan Vietnam. Kami disuruh membawa tas-tas kami dan menunggu bis di tempat terbuka, sementara para penduduk lokal diperbolehkan menunggu di gedung imigrasi.

Cuaca berkabut, hujan gerimis, angin kencang, suhu sekitar 9 derajat dan kami diminta menunggu di tempat terbuka. Saya memang pernah membaca cerita2 se”horor” ini di situs perjalanan. Tapi saya pikir, ah ini pasti bule-bule aja yang pada manja, bawaannya ngeluh melulu.

Tapi setidaknya untuk kasus ini, omongan mereka benar. Diskriminasinya kentara banget.

Sekitar dua jam saya dan turis2 asing ini menunggu. Hidung saya sudah mampet, gigi sudah bergemeretak, saya bahkan sudah tidak bisa merasakan jari jemari saya. Baru kemudian bis selesai diperiksa dan kami boleh naik kembali. Saya langsung menutupi seluruh tubuh saya dengan selimut. Jam sepuluh kami lepas dari perbatasan Vietnam. Dan masih sepuluh jam perjalanan lagi sebelum tiba di Hanoi.

Selama perjalanan saya bahkan sudah malas melihat ke luar. Pemandangannya sama aja kayak di Jawa. Sawah dan gunung. Malah kata saya sawah dan pegunungan di Jawa jauh lebih bagus dari pada di sini. Jam 1 siang kami berhenti di suatu tempat untuk makan siang. Tapi saya tidak napsu makan sama sekali. Akhirnya hanya mengobrol dengan turis2 dari Amerika tadi. Perjalanan dilanjutkan lagi jam setengah dua siang.

Kami memasuki Hanoi jam 8 malam. Terminal bisnya jauh di pinggir kota. Saat kami turun sudah diserbu oleh para pengemudi ojek dan taksi. Saya langsung memilih menyetop taksi Mailinh di luar terminal. Kata petugas hostel lebih baik pakai taksi itu, aman.

saat saya naik, pengemudi taksi tadi kelihatannya mengerti bahasa inggris. Tiba di hostel saya membayar dengan USD. Kalau dicurrencykan sekitar USD 8. saya berikan dia USD 10 kemudian saya minta kembalian dalam VND.

Rupanya pengemudi ini salah satu tipe scammer yang saya baca di internet. Giliran dimintai uang kembalian, belagak gak ngerti bahasa inggris.

Dalam posisi saya capek dan stres setelah perjalanan Vientiane-Hanoi, saya meledak emosi. Saya bilang, “YOU mister, will give me my money in Dong. Or I will scream from the top of my lung to gather everyone here. And we’ll make a wonderful scene. How about that?”

saya ngomong dengan muka lempeng, tapi dari nada saya kayaknya ketauan kalau saya udah siap-siap muntab. Akhirnya sambil misuh2 dalam bahasanya sendiri dia memberikan saya kembalian VND 40.000. Kalau dirupiahkan sekitar Rp 20.000. saya keluar sambil banting pintu.

Masuk ke Backpackers’ Hostel saya diberi kunci untuk loker di tempat tidur dan ditunjukkan lokasi kamar saya. Satu kamar terdiri dari delapan tempat tidur. Isinya malam ini hanya saya dan seorang pelancong muda dari Australia. Malam ini saya hanya ingin tidur dan istirahat. Capek. Banget.

SEAtrip Day 12 – Leaving Laos

Hari ini saya akan menaiki the ride from hell dari Vientiane ke Hanoi. Banyak berita yang saya baca di internet bahwa perjalanan ini tidak nyaman, lama (26 jam) dan mengerikan. Tapi murah.

Bis akan menjemput saya sekitar jam 5 sore. Jadi hari ini saya di penginapan hanya leyeh2 dan istirahat mempersiapkan stamina.

Jam setengah 6 sore jemputan saya datang, berupa mobil jumbo. Bersama saya ada beberapa orang lainnya yang juga pergi ke dengan travel agent yang sama.

Saat melihat bis kami, anggapan pertama saya adalah, lumayan. Mirip seperti bis antarkota di Jawa untuk kursinya. Bedanya adalah layout bis. Terdiri dari dua lantai. Lantai pertama adalah tempat supir, kenek dan bagasi. Sebenarnya ada toiletnya, tapi ketutupan berbagai macam barang jadi ya gak bisa dipakai. Seperti kebiasaan orang Vietnam, kami para turis diberi tempat duduk paling belakang. Saya bersama tiga orang turis amerika dan tiga orang turis argentina. Semuanya laki-laki. Ada dua orang lokal yang duduk di belakang. Satu bersama saya, satu lagi bersama si turis amerika. saya kesian sama mereka yang kakinya panjang2, sementara leg room di bus ini kecil sekali. Buat kaki saya aja nyaris ngepas.

Perjalanan baru mulai sekitar jam 7 malam. Jam sepuluh malam kami berhenti di entah di mana. Ada sebuah warung nasi kecil di sana tempat kami makan malam. Saya memanfaatkan kesempatan tersebut untuk ke toilet, karena gak tau di mana lagi bakal ketemu toilet. Saya membeli makan malam berupa nasi, tahu, dan tumis kembang kol seharga 50.000 kip. Enak masakannya.Yuk lanjut lagi perjalanannya.

Tips:

Di travel agent ada dua pilihan: Seating AC USD 18 dan VIP USD 30. Percayalah itu bisnya sama aja. ambil yang USD 18 aja. Salah satu turis Amerika yang bareng saya bayar USD 30 dan dia kaget saat tau saya hanya bayar USD 18.

Ada juga yang sleeper, USD 35. Sedikit lebih nyaman karena bisa tiduran. Kecuali kalau tinggimu lebih dari 170cm, itu bakal mesti nekuk kaki.

SEAtrip day 11: Around Vientiane

Pagi hari jam tujuh saya turun ke lobi, menyapa para petugas penginapan dan melangkah ke arah sungai Mekong. Kemarin niatnya mau liat sunset, tapi karena demam saya memutuskan untuk tidur saja. Tiba di bantaran sungai Mekong saya kaget. Sungainya jauuuuuh banget dari pinggiran. Yah gak banget sih, adalah dua ratus meter. Lah saya kirain udah bisa main-main air di sungai Mekong 😛

Piggiran sungai Mekong saat ini sedang direnovasi. Ditambahi jogging track, ada tempat bermain untuk anak-anak juga, dan ada tempat berjualan untuk pasar malam.

Saya menusuri bantaran sungai, kemudian kembali ke jalan raya. Di seberang salah satu taman di pinggiran sungai adalah istana kepresidenan. Rada kaget juga karena saya kira istananya bakal ada di tengah kota, ternyata di pinggiran kota. Gedungnya putih bersih. Bisa foto-foto, tapi hanya dari depan pos sekuriti, gak boleh masuk. Yaeyalah.

Kemudian saya berjalan lagi menuju penginapan. Satu gang sebelum penginapan, saya lihat ada papan bertuliskan Tourist Information Center- Free Internet. Wogh mayan nih. Dari pada bayar 100 Kip per menit. Saya mampir ke TIC itu. Tempatnya kecil tapi nyaman. Petugasnya saat itu perempuan semua dan mereka ramah-ramah. Saya diberi peta Vientiane gratis dan ditunjukkan tempat-tempat yang wajib dikunjungi di sini.

Setelah selesai memakai fasilitas internet, saya kembali ke penginapan untuk sarapan. Di lobi saya bertemu dengan James, rekan seperjalanan saya dari Bangkok kemarin. Kami sarapan bersama dengan beberapa orang lainnya sambil ngobrol-ngobrol. Selesai sarapan, saya dan James janjian buat ketemuan lagi di lobi buat keliling Vientiane. Dia kembali ke kamar untuk mandi, saya melangkah ke money changer yang saya lihat dekat Presidential Palace tadi. Memang agak jauh, tapi ratenya jauh lebih bagus kebanding money changer yang lain yang ada di sekitar situ. 1 USD = Kip 8.052

Jam sepuluh saya kembali ke penginapan, James sudah menunggu di lobby. Kami memutuskan untuk berjalan kaki saja. Tujuan pertama adalah That Dam atau the Black Stupa. Letaknya tidak jauh dari kedutaan US dan berada di tengah2 pemukiman. Saya sendiri gak nyangka kalau itu salah satu tempat wajib kunjung di VGientiane kalau gak kemudian liat ke peta yang kami bawa.

Berikutnya adalah Patuxai. Monumen yang bentuknya mengingatkan saya pada Arc de Triomphe. Sebenarnya kita bisa naik ke atas Patuxai dan kata petugas TIC tadi, kita bisa melihat pemandangan Vientiane. Biaya masuk dan naiknya Kip 5.000, cuma saat itu loket masih belum buka.

Dari Patuxai kami berjalan lagi menuju That Luang, Wat Ho Pakeo, dan Buddha Park yang semuanya ada di dalam satu wilayah. Lumayan jauh juga jalannya. Kalau gak salah perlu sekitar satu jam berjalan kaki. Mau naik tuktuk udah tanggung. Lagian James merupakan teman yang asik buat jalan bareng, banyak cerita 🙂

Dari info yang kami dapat, That Luang ini terlihat megah dan besar. Pas sampai sana, reaksi saya adalah: Heh? Udah nih? Cuma segini? XD

Tidak perlu waktu banyak juga buat berkeliling. Masih2 tempat ditarik bayaran Kip 10.000/orang. Sekitar jam 12 kami melangkah kembali ke penginapan. Semestinya matahari sedang terik-teriknya ya kalau jam segitu sih. Ini mah nggak kok. Matahari memang cerah, tapi hangat dan ditambah angin sejuk. Cuacanya mantep banget deh Vientiane.

Dalam perjalanan pulang kami mampir ke Morning Market. Saya membeli boneka gajah kecil dan James membeli kantong kecil untuk tempat iPodnya. Di Morning Market ini banyak dijual tenunan dan kerajinan tangan khas Laos.

Di pinggir Morning Market kami mampir ke sebuah warung kecil untuk makan mie kuah ala Laos. Harganya Kip 10.000 saja per porsi ukuran kecil. Ukuran kecilnya pun termasuk besar buat saya.

Dari Morning Market kami mengambil jalan memutar melewati Presidential Palace, kemudian kembali ke penginapan.

Hari baru menunjukkan jam satu lebih sedikit saat kami tiba di penginapan. Hanya dengan berjalan kaki setengah harian saja, kami sudah mengunjungi nyaris semua yang harus dikunjungi di Vientiane. Sekecil itu kotanya 🙂

Pulang ke penginapan saya langsung mandi. tidur sebentar. sorenya saya turun ke lobby untuk menggunakan fasilitas wifi. Jam 5 sore setelah meletakkan laptop kembali ke kamar, saya melangkah ke pinggiran sungai Mekong untuk melihat matahari terbenam. Sayang sekali saat itu cuacanya berawan. Jam enam sore saya kembali ke kamar. Tidur. Lagi 😀

SEAtrip Day 10: Vientiane

Pukul 05.40 (setengah jam lebih lambat dari jadwal) saya tiba di stasiun Nong Khai. Kalau menurut panduan perjalanan yang saya baca, bisa saja menunggu sampai jam 9 pagi untuk naik kereta menuju Thanaleng border di Laos. Tapi saya, Jenny, dan James gak terlalu pengen nunggu sampai sesiang itu di stasiun. Kami menaiki tuktuk bersama dua orang pelancong lain (satu bule, satu Thai). Kalau di papan petunjuknya, maka ongkos tuktuk ke perbatasan adalah THB 20, tapi pada prakteknya sih jadi THB 30.

Keluar dari stasiun, tuktuk membawa kami ke sebuah gedung bertuliskan Laos Visa. Saya membaca bahwa tempat2 ini membuatkan visa laos dengan harga berlipat ganda, maka kami bertiga dengan tegas menyatakan “Border.” kepada pengemudi tuktuk. Sambil menggigil kedinginan diterjang angin pagi kami berkendara selama kurang lebih sepuluh menit menuju imigrasi Thailand. Sampai di sana kami mengantri di depan loket imigrasi. Belum ada tanda-tanda akan dibuka sih, cuma ya langsung ngantri aja biar pas buka, langsung proses.

Ternyata kebiasaan nyelak antrian gak di mana gak di mana ya. Waktu ngantri dan asik ngobrol dengan Jenny, seorang laki-laki Thai tiba-tiba berdiri di samping saya. Pelan-pelan dia beringsut ke depan saya. Tidak lama seorang laki-laki lain (temennya) ikut berdiri di depan saya. Nyari perkara. Saya colek. Dia diem aja, belagak gila. Saya colek lagi dan saya teriak, beneran teriak, “Excuse me, where you HERE before? HELLOOOO?” Mereka belagak gak denger dan buang muka, tapi mukanya mulai tengsin. Saya gak pake ngomong apa-apa lagi, saya dorong mereka ke belakang. Jenny dan James juga ikut kesel. “Back there, dudes. The line starts back there,” kata Jenny ketus. Kalo gak inget ini negara orang lain, beneran saya dorong sampe jatuh kali mereka. Nyebelin banget liat mukanya X(

Di luar dugaan, ternyata imigrasi Thailand jam 6 pagi buka. Kirain kami masih harus nunggu sampai jam 7 atau 8. Prosesnya cepat sekali. Kasih paspor, cap sana sini, selesai. Dari imigrasi Thailand kami naik bus seharga THB 20 menuju imigrasi Laos, menyebrangi Friendship Bridge. Sebenarnya kayaknya bisa aja nyebrang jembatan itu dengan jalan kaki. Namun dengan suhu dan angin sedingin itu, males saya mah. Naik bus juga cuma 10 menitan.

Tiba di imigrasi Laos, saya ambil formulir Visa on Arrival. Isi dengan lengkap. Sertakan USD 30 untuk biaya Visa dan USD 1 untuk “Overtime Fee”. Saya sarankan pakai USD untuk bayar Visa, karena kalau bayar pakai THB kalau gak salah meroket jadi THB 2.000, yang kurang lebih sama dengan USD 50-60.

Setelah menunggu selama sekitar satu jam setengah, visa selesai. Seorang petugas akan memanggil nama kita sambil melambaikan paspor. Kalau tidak punya uang pas saat membayar Visa gak papa kok, mereka pasti ngasi kembaliannya dalam bentuk USD atau THB (tergantung mata uang apa yang kita pakai saat membayar).

Nah sambil nunggu visa jadi adalah saat yang tepat buat nyari temen berbagi jumbo (semacam taksi, muat untuk sekitar delapan orang plus bagasi) ke Vientiane. Kalau pergi sendiri harganya bisa THB 200-300. Nah kalo berbagi dengan yang lain, kita cuma perlu bayar THB 50.

Saya dan James memilih turun di Rue Norkeokouman untuk menginap di Mixay Guesthouse. Mixay Guesthouse ini banyak direkomendasikan oleh para pelancong. Harganya murah, pelayanannya bagus, petugasnya bisa bahasa inggris. Harga kamar dorm (terdiri dari beberapa tempat tidur dalam satu kamar) adalah USD 6. Harga kamar dengan satu tempat tidur ukuran singel USD 9. Kamar dengan satu tempat tidur ukuran dobel USD 11. Semuanya dengan kamar mandi di luar dan memakai kipas angin serta exhaust fan. Untuk kamar dengan satu tempat tidur ukuran dobel atau dua tempat tidur ukuran singel seharga USD 15, yang ini dengan kamar mandi dalam dan AC. Semua dapat sarapan, handuk diganti tiap hari, kamar dirapihin tiap hari. Top banget.

Btw, percaya deh, kalau datang di bulan Januari ke Vientiane, gak perlu AC. Kipas angin aja saya gak nyalain. DINGIN JEK.

Saya memilih satu kamar singel. Setelah naro barang dan mandi pake air panas, saya memutuskan buat muter2 Vientiane sedikit. Di jalan saya beli makan siang dari sebuah warung seharga 6000 Kip beserta nasi. Saya gak tau terbuat dari apa, yang pasti banyak daging dan urat yang bikin gigi saya ngilu karena nyelip-nyelip.

Oh ya mata uang Laos (LAK atau Kip) hanya bisa didapatkan di Laos. Dan begitu keluar dari Laos, maka mata uang ini tidak bisa digunakan atau ditukarkan sama sekali. Makanya jangan kalap nukerin uang, secukupnya aja. Saat ini nilai tukarnya adalah USD 1 = LAK 8.052 (Rate yang ini adalah yang paling bagus dari semua Money Changer di sepanjang pinggiran sungai Mekong. Namanya STB, letaknya pas sebelahan dengan Presidential Palace)

Nah gara-gara kena AC super dingin di kereta, ditambah cuaca dingin di Vientiane, saya malah kena demam. Flu tambah masuk angin. Jadi deh saya tidur sejak jam dua siang sampai jam 6 sore. Kebangun karena perut saya ngegeruyuk minta makan. Akhirnya saya beli popmi di sebuah mini market. Karena belum familiar sama mata uangnya, saya salah hitung. Saya pikir uang saya cukup untuk beli popmi dan satu snack kecil, ternyata kurang. EH lah si mbak di kasir mungkin kesian liat saya udah pucet dan menggigil ya. Dikasi diskon deh, jadi uang saya cukup XD

Balik ke kamar sambil makan popmi dengan kuah super panas. Lumayan bikin keringetan. Abis makan saya minum Decolgen yang tadi siang saya beli di salah satu minimarket, ketiduran sampai jam setengah delapan. Kemudian saya turun ke lobi untuk menggunakan wifi, soalnya kata petugas wifi hanya bisa di lobi.

Dasar orang baik banyak yang sayang ya, ngeliat saya batuk-batuk dan menggigil, tau-tau salah satu petugas nongol dengan membawa semangkuk besar mie khas Lao. Buat saya. Gratis. Kayaknya mereka kesian ama saya XD

Jam sembilan malam wifi dimatikan, sudah waktunya saya naik ke kamar. Waktunya tidur. Besok adalah waktunya jalan-jalan. Semoga demam saya sudah turun besok…

SEAtrip Day 9: Grand Palace and Leaving Bangkok

Pagi ini saya bangun jam 7 pagi, niatnya mau ke Grand Palace pagi hari supaya masih tidak terlalu ramai. Saya mengatakan pada pemilik penginapan bahwa saya akan check out hari ini jam 11 siang. Sebelumnya saya menyempatkan diri untuk mampir ke warnet, memberi kabar dan mengecek email.

Jam 8 pagi saya memulai perjalanan menuju Grand Palace. Dari Khao San saya berbelok kiri menyusuri jalan, kemudian menyebrang ke arah Sanam Luang. Taman ini sedang ditutup, nampaknya ada renovasi entah apa. Konon di taman ini sering ada kejadian di mana kita didekati oleh ibu-ibu yang membawa sekantung makanan burung, dan memaksa untuk dibeli. Kalau tidak dibeli, kita akan diteriaki dan dimaki-maki.

Di beberapa taman kecil di seberang Sanam Luang, saya melihat memang ada beberapa ibu-ibu membawa makanan burung, mungkin mereka yang dimaksud. Mereka terlihat menghampiri beberapa wisatawat kulit putih. Saya? Muka lokal, je. Selamet 😀

Setelah berjalan selama kurang lebih setengah jam, akhirnya saya tiba di Grand Palace. Gak akan nyasar kok. Dari jauh sudah kelihatan atap dan sebagian bangunannya. Besar dan  megah sekali.

Biaya masuk Grand Palace untuk wisatawan adalah THB 350. Lumayan mahal. Sekitar Rp 100ribuan. Saat saya berbelok ke arah loket tiket hendak membeli tiket, tiba-tiba ada petugas yang mengisyaratkan saya untuk langsung ke arah pintu masuk. Dia mengatakan sesuatu dalam bahasa Thailand yang saya gak ngerti, tapi saya nurut aja sih.

Dan ternyata… masuk ke Grand Place buat orang Thailand tidak dikenakan biaya, alias gratis. Sebagai pemilik muka lokal, tentu saja saya dianggap orang Thailand dan bisa masuk gratis saat itu 🙂

Dan komplek Grand Palace itu ya… besar dan megah banget! Detil-detil ukiran dan hiasannya bener-bener bikin saya bengong. Belum lagi kilau lapisan emasnya. Butuh waktu setidaknya satu jam untuk bisa mengelilinginya secara utuh dan teliti. Saya menghabiskan sekitar dua jam di sana. Sekitar jam sebelas saya melangkah kembali menuju Khao San. Sebelum kembali ke penginapan saya menyempatkan diri untuk mampir ke Wat Chanasongkram.

Kembali ke penginapan di Khao San untuk bersiap check out. Sebelumnya saya mampir ke tempat laundry untuk mengambil cucian saya. Tepat jam dua belas saya sudah berjalan lagi ke arah Phra Athit Pier untuk menumpangi boat biasa seharga THB 14 menuju Central Pier. Dari Central Pier saya naik BTS ke Sala Daeng Station dan berganti dengan MRT ke Hua Lamphong Stastion. Di sana saya menitipkan ransel saya di bagian Left Luggage di pojok belakang stasiun, dekat tangga naik menuju warnet. Biaya penitipan seharga THB 30. Berhubung kereta saya masih sekitar jam 18.45 dan saat itu masih jam 14.00, saya memutuskan untuk kembali menumpang MRT, kali ini menuju Lumphinee Park. Di hari pertama saya ke Bangkok hanya sempat berada di ta,man ini selama setengah jam, kali ini saya mau muas-muasin 😀

Saya turun di Lumphinee Station dan menyebrangi jalan menuju Lumphinee Park. Soal nyebrang jalan, di Bangkok sama aja dengan jakarta dan Bandung, bisa nyebrang jalan nyaris di manapun gak mesti di jembatan penyebrangan atau zebra cross.

Karena bukan weekend, Lumphinee terlihat lumayan sepi. Ini taman luas banget dan lumayan lengkap. Ada peralatan gym dan taman bermain anak-anak. Setelah berkeliling sebentra, saya memutuskan untuk duduk di salah satu kursi besi menghadap danau. Suasana tenang, angin sepoi, dan gemericik air memang paling top buat dipakai santai…. atau tidur 😀 Saya? Tidur dong ah. Lumayan deep sleep 10 menit saja, bangun2 badan berasa lebih segar. Sisa waktu saya habiskan dengan membaca buku Lonely Planet edisi lama yang saya beli di Khao San seharga THB 200.

Jam 5 sore saya kembali menuju Lumphinee Station untuk menaiki MRT kembali ke Hua Lamphong. Ketika memasuki stasiun kereta utama di Bangkok ini, kerasa banget suasana internasionalnya. Bule bertebaran di mana-mana. Sebagian duduk, sebagian berdiri, sebagian tidur-tiduran di lantai berbaur dengan warga lokal. Waiting hallnya luas sekali, dan sebagian orang yang tidak kebagian tempat duduk memilih untuk ngegelosor di lantai. Saya sih paling demen gelosoran begini (di KL Sentral ngegelosor seharian sampai diusir petugas). Hua Lamphong juga dilengkapi dengan shower dan toilet. Toiletnya banyak, jadi gak perlu ngantri lama. Showernya belum saya cobain. Mungkin nanti pada perjalanan pulang saya cobain ah. Agak terobsesi sama shower di stasiun XD

Di kanan dan kiri pintu masuk menuju jalur kereta ada papan elektronik besar yang menunjukkan kereta tujuan kita ada di jalur mana, atau kereta yang kita tunggu akan tiba jam berapa (dan berapa lama telatnya, kalau telat), jadi gak perlu kuatir ketinggalan atau salah kereta.

Petugas dengan sigap akan menghampiri dan membantu kita bila kita terlihat bingung atau tinggal samper aja, mereka dengan penuh senyum akan membantu. Yang unik adalah, setiap jam 8 pagi dan jam 6 sore semua orang akan menghentikan kegiatannya dan berdiri dengan khidmat sambil mendengarkan lagu kebangsaan diputar. Petugas2 berseragam tentara akan memberikan tanda hormat.

Jam 18.30 saya menghampiri peron 11 tempat kereta saya menuju Nong Khai, sambil cari-cari turis buat teman berbagi kendaraan menuju perbatasan. Di peron saya bertemu Jenny. Jenny dalam perjalanan ke Laos menuju kedutaan Thailand untuk memperpanjang visanya. Kami janjian untuk bertemu lagi saat turun di Nong Khai dan berbagi taksi ke Friendship Bridge. Sementara di atas kereta saya bertemu James dari Jerman yang juga menuju Vientiane. Nah udah dapet dua orang buat berbagi taksi 😀

Perjalanan menuju Nong Khai lumayan lancar. AC keretanya maaaaaaaak! DINGIN BANGET!

Ada satu kejadian yang menurut saya gak menyenangkan di kereta. Tiga orang bule muda, cowok, mungkin usia 19-20an tahun dengan hanya memakai kaos dan celana pendek duduk dengan mengangkat kaki ke kursi di depan mereka. Ditambah di sebelah mereka duduk seorang biarawan berusia cukup sepuh. Menurut kebudayaan Thailand (atau mungkin Buddhism pada umumnya), tidak boleh mengangkat kaki di sebelah biarawan. Sementara tiga bule muda itu cuek, bahkan pura-pura tidur pulas (atau demikian perkiraan saya, soalnya tidurnya kok keliatan dibuat-buat gitu. masa iya dipanggil dan dicolek gak bangun). Untungnya (sayangnya?) biarawan tersebut tidak merasa terganggu, sehingga petugas kereta tidak melanjutkan permasalahan. Tapi sejak itu kelihatannya tiga bule tersebut tidak mendapatkan perlakuan baik sama sekali dari petugas kereta api. Mulai dari selimut yang semi dilempar ke pangkuan mereka, hingga petugas yang berlalu begitu saja saat mereka panggil untuk menanyakan sesuatu.

Yang saya sayangkan dari para pelancong barat ini, mereka sepertinya lupa (atau tidak diajarkan) untuk menyesuaikan diri dengan tata krama dan adat istiadat lokal ke mana pun mereka berkunjung. Mereka bertindak bahwa mereka telah membantu banyak kepada negara-negara di Asia karena mereka datang ke sini sebagai turis dan menghabiskan uang mereka di sini. Tentu saja asumsi saya ini tidak berlaku untuk SEMUA pelancong barat, tapi setidaknya sebagian besar yang saya lihat selama perjalanan yang baru beberapa hari ini ya begitu.

Karena perjalanan memakan waktu sekitar 15 jam, saya memutuskan untuk menghabiskan waktu dengan tidur. Ya gak ada yang diliat juga, gelap begitu 😀

SEAtrip Day 8: Khao San Road

Pagi ini saya dan host saya berpisah di stasiun Sukhumvit. Saya sendiri turun di stasiun Si Lom, berganti dengan BTS menuju Saphan Taksin. Rute menuju Khao San Road yang terbaik, tercepat, dan termurah, adalah dengan mengulangi rute saya ke Chao Phraya River kemarin. Hanya saja kali ini saya langsung turun di Phra Atit Pier. Harga tiket dengan Tourist Boat seharga THB 25. Keluar dari Phra Athit Pier, saya menyebrangi jalan dan berbelok ke kanan. Menyusuri jalan Phra Athit Road sebentar, kemudian belok kiri pada tikungan pertama. Jalan ini tembusnya nanti ke jalan di belakang Wat Chanasongkram. Mentok jalan, belok kiri lagi. Di sebelah kanan jalan adalah tembok Wat Chanasongkram. Di jalan ini banyak penginapan juga, cuma kelihatannya lebih mahal kebanding di Khao San.

Telusuri jalan, mentok di jalan raya. Di seberang saya adalah Soi Rambuttri. Soi Rambutrri ini bersebelahan dengan Khao San Road. Saya belok ke kanan dan berjalan sejauh mungkin lima puluh meter. Di sebelah kiri saya melihat ada pos polisi. Nah di sebelah pos polisi ini adalah Khao San Road.

Hal pertama yang saya lakukan di Khao San adalah mencari penginapan murah. Lumayan sulit ternyata. Kebanyakan kamar disewa dalam hitungan minggu, bulan, bahkan tahun. Saya mendapatkan kamar seharga THB 180/malam untuk single bed shared bathroom di sebuah guesthouse bernama Dio Guesthouse. Letaknya agak masuk ke dalam sebuah gang kecil.

Setelah membayar kamar dan meletakkan barang, saya mampir ke sebuah toko bertuliskan “Laundry” tepat di depan gang Dio Guesthouse. Laundry di daerah sini berharga sama, sebesar THB 30 per kilo. Kemudian saya menyusuri jalan Khao San mencari money changer. Banyak sekali money changer di sini, mungkin di setiap sepuluh meter ada satu money changer. Yang memiliki rate terbaik ada tidak jauh dari guesthouse saya.

Khao San di siang hari sudah cukup ramai dengan para pedagang dan turis, kata teman saya mulai jam 7 malam nanti keadaannya akan lebih chaotic lagi. Mari kita lihat nanti ^_^

Jam menunjukkan pukul dua siang saat saya selesai online melaporkan perjalanan saya lewat twitter dan mengerjakan beberapa pekerjaan lainnya. Saya memutuskan untuk istirahat sebentar. Tidur.

Saya terbangun sekitar jam 5 sore. Setelah mandi dan membereskan tas, saya keluar. Pertama yang saya cari adalah… makan sore XD Laper! Dan tujuan saya adalah…. Burger King 😀 Yang bermasalah dengan makanan di Thailand adalah, serba gurih. Sementara saya lagi pengen banget sama rasa asin. Akhirnya saya beli sepaket burger lengkap dengan kentang goreng dan menaburkan banyak garam di kentangnya 😀

Sambil makan, saya melihat perubahan Khao San Road yang saya lihat di siang hari dengan sore hari. Pedagang2 dengan gerobak masing2 mulai bermunculan. Rata2 menjual sate sosis, bakso, atau daging. Para penjual pakaian, aksesoris, panti pijat juga mulai menurunkan armadanya ke jalan. Riuh sekali. Saya menyusuri dua sisi Khao San Road, kemudian berbelok ke Soi Rambuttri. Keadaannya juga sama, hanya saja di Soi Rambuttri masih terhitung lebih hening kebanding Khao San. Keadaan Khao San saat itu mengingatkan saya dengan pasar mingguan di Gasibu, Bandung 😛

Di depan sebuah tempat pijat, saya tergiur juga untuk mencoba pijatnya. Kata teman saya, tidak lengkap kalau ke Thailand tanpa mencoba Thai Massage. Saya memilih Thai Massage setengah jam seharga THB 100. Wogh mantap. Kayak diajak akrobat, ditekuk sana tekuk sini. Kayaknya sendi saya kretekan semua jadinya. Apalagi otot bahu yang menggendong ransel seharian.

Jam sebelas saya kembali menyusuri Soi Rambuttri. Ada tukang durian yang saya incer, jualannya. Bukan tukangnya. Beli durian tebal dan lembut seharga THB 60 (kurang lebih Rp. 20.000. Kalau di Indonesia kayaknya harganya bisa di atas Rp. 40.000 saking tebalnya). Kemudian kembali ke penginapan. Abis pijat kayaknya enak kalau tidur 😀

Setelah makan durian, saya tertidur kemudian terbangun lagi jam 3 pagi. Keadaan sudah sedikit lebih sepi, tapi masih terdengar suara hous music di luar. Karena [enasaran, saya memutuskan untuk keluar.

Di luar sudah tidak terlihat jalanan lagi. Meja dan kursi kafe2 yang bertebaran di Khao San sudah memakan tempat hingga ke tengah jalan. Di beberapa sudut ada beberapa wisatawan yang muntah-muntah karena mabuk. Merasa tidak terlalu nyaman dengan suasana tersebut, saya memutuskan kembali ke penginapan. Menurut pemilik penginapan, tiap malam keadaannya seperti itu. Mau sedang peak season atau low season sama saja. Dan biasanya para pemilik kafe dan pedagang2 di sana termasuk juga penginapan, membayar sejumlah uang kepada mafia jalan agar mereka bisa buka tempat mereka non stop sampai pagi hari. Karena semestinya jam malam sudah berlaku mulai jam 2 pagi. Nah para mafia ini akan membayar kepada polisi setempat supaya pelanggan mereka bisa terus beroperasi.

Masuk ke kamar, saya merem lagi. Dan baru terbangun sekitar jam 7 pagi.

SEAtrip Day 7: Bangkok

Pagi ini rencana saya adalah menaiki river boat di sepanjang Chao Phraya River dan mengunjungi beberapa kuil (Wat). Dari tempat host saya, saya naik MRT ke Si Lom, dan berganti BTS ke arah Saphan Thaksin. Di LRT saya (yang dasarnya kepo) menegur seorang bapak-bapak bule yang duduk sendirian. Awalnya dia seolah tidak mendengar saya. Kemudian saya teringat dengan nasib muka lokal saya, jangan2 saya dikirain scammer T___T Kemudian saya menjelaskan bahwa saya datang dari Indonesia dan ini adalah kunjungan pertama saya ke Bangkok. Baru dia mau menoleh dan menyahuti saya. Dia berasal dari Hawai, tinggal di Bangkok sekitar satuh tahun. Kebetulan dia juga pergi ke arah yang sama, dia bilang dia akan menunjukkan kepada saya di mana letak dermaga yang saya cari untuk mengarungi Chao Phraya.

Kami turun di Saphan Thaksin, mengambil pintu keluar di sebelah kanan. Begitu turun langsung disambut kesibukan Central Pier Chao Phraya. Beliau menunjukkan bahwa dermaga yang saya cari ada di sebelah kanan. Setelah berterima kasih, saya menghampiri loket yang bertuliskan Tourist Boat Rive Cruise. Tiket untuk persinggahan tak terbatas dari Central Pier hingga Phra Athit Pier (Pier No. 13) seharga THB 150, sedangkan untuk yang sekali jalan, berharga THB 25 setiap naik. Karena tidak banyak dermaga yang hendak saya kunjungi, saya memilih tiket sekali jalan yang bisa dibayarkan di loket tersebut atau di perahu saat ditagih nanti.

Wat pertama yang saya singgahi bernama Wat Kanlayanamit di mana ada patung Buddha dalam posisi duduk, besar sekali dan dilapisi dengan emas.

dari Wat Kanlayanamit, saya berbelok ke kanan, menyusuri pinggiran sungai sekitar dua ratus meter untuk mengunjungi Santa Cruz Church. Sayangnya saat itu karena belum waktu ibadah sore, gereja masih ditutup.

Dari Wat Kanlayanamit saya meneruskan perjalanan ke Wat Arun. Jangan lupa memberi tahu pada penjaga dermaga bahwa kita mau menaiki Tourist Boat, supaya dia bisa memanggilkan Touris Boat berikutnya yang lewat. Saya dilewati begitu saja oleh dua Tourist Boat karena mereka kayaknya menyangka tidak ada penumpang dari dermaga tersebut.

Di dermaga Tha Tien. saya turun dan langsung mengantri masuk ke sebuah ferry yang akan membawa saya menyebrangi sungai Chao Phraya menuju Wat Arun. Harga tiket ferry THB 3 saja.

Sampai di Wat Arun saya memasuki area kuil. Agak kaget saat melewati petugas, mereka meminta tiket masuk kepada para wisatawan kulit putih, rupanya untuk wisatawan asing ada tiket masuk seharga THB 50. Karena muka saya muka lokal, maka saya bebas masuk tanpa membayar.

Wat Arun memiliki dua pilar yang bisa kita naiki. Saya hanya sampai di pilar pertama. Sudah ngeri duluan lihat tangga menuju pilar kedua yang nyaris vertikal dan masing-masing anak tangga cukup tinggi.

Yang unik dari lokasi Wat Arun adalah para penjual suvenir bisa berbahasa Indonesia dan dagangannya bisa ditawar. Saya membeli es kelapa muda dari seorang penjual yang mengatakan harganya hanya THB 30 alias, “Sepuluh ribu saja.” Quoted verbatim 🙂 Saya menawar sedikit dan harga kelapa muda segar itu berubah menjadi THB 20 alias, “Enam ribu saja.”

Dari Wat Arun saya menyeberang kembali ke Tha Tien Pier. Niatnya berkunjung ke Wat Pho, di mana ada patung Buddha dalam posisi berbaring santai terbesar di Thailand. Sebelumnya saya mempir dulu ke pasar Tha Tien membeli sepiring pad thai untuk mengisi perut seharga THB 50 dan air mineral botolan seharga THB 10.

Saya mengobrol dengan seorang bule perempuan dari Australia, dia bilang kalau mau ke Wat Pho, sebaiknya turun di dermaga Maharaj. Dengan demikian saya bisa memulai kunjungan dari Grand Palace, Wat Phra Kaeo, dan berakhir di Wat Pho. Saya pikir mungkin ada baiknya demikian karena toh kalau nanti saya turun di Maharaj Pier, saya akan tiba di Tha Tien Pier lagi.

Ada kejadian sedikit menyebalkan di sini yang bikin saya marah2 setengah mati. Berbarengan dengan saya menunggu Tourist Boat menuju Maharaj Pier, ada rombongan besar yang menyewa dua Tourist Boat. Saat perahu mereka merapat ke dermaga, perahu yang saya tuju (setelah menunggu setengah jam) juga tiba. Karena rombongan ini lamaaaa bener angkut penumpang mereka yang rata2 pada asik sendiri jalan dengan santai, Tourist Boat yang saya tuju merapat di samping mereka untuk menurunkan penumpang dengan cara menyebrangi perahu mereka. Nah waktu saya mau naik, saya dimarahi oleh tour leader mereka, katanya ini bukan perahu buat saya. GUA JUGA TAU! Saya jelaskan saya mau menyebrang perahu mereka untuk menaiki perahu yang saya tuju, sambil menunjukkan ke arah perahu saya di sebelah perahu mereka. Tapi kelihatannya mereka terlalu sibuk mengurusi grup mereka, mereka tidak mengerti yang saya maksud. Saat saya berhasil menaiki perahu mereka untuk menyebrang…. perahu saya sudah pergi.

“Great! Now they left! Do you know how long I’ve been waiting to get to that boat? Happy now?!” Karena cuaca sangat panas, kepala saya sakit, saya jadi emosi dan ngomel2 ke tour leader mereka yang hanya bengong melihat saya. Sebuah keluarga dari Iran juga mengalami hal serupa dengan saya, dan bapaknya juga ngomel ke tour leader tersebut.

Saat itu sudah menjelang jam 14.30. Sementara Grand Palace ditutup jam 15.30. Ketika Tourist Boat berikutnya datang, jam sudah menunjukkan jam 15.00. Akhirnya saya memutuskan untuk berbalik arah kembali ke Central Pier. Host saya ngajak ketemuan di Central World.

Dari BTS Saphan Taksin, saya menuju stasiun Siam. Dari sana berjalan menuju exit 6 ke Central World. Lumayan jauh juga ternyata. Kalau yang di Jakarta suka mengeluhkan jauhnya jarak halte TJ Dukuh Atas ke halte transit, yang ini paling gak dua kali lebih jauh jaraknya.

Setelah menemui host saya dan kami mampir ke sebuah kafe, dia mengajak saya ke Victory Monument. Victory Monument ini semacam Bundaran HI kalau di jakarta kayaknya sih, tempat Red Shirts berdemonstrasi. Salah satu bagian dari Central World pernah terbakar habis saat mereka demonstrasi besar-besaran.

Di Victory Monument, kami mampir untuk makan malam di Victory Park, membeli semangkuk mie rebus berlimpah potongan daging dan jeroan seharga THB 30 dan air mineral seharga THB 10.

Dari Victory Monument kami langsung pulang, dan besok saya akan meneruskan perjalanan ke salah satu Highlights of Bangkok: Khao San Road

SEAtrip Day 6: Haad Yai-Bangkok

Jam enam pagi saya terbangun, ngeloyor ke toilet dan wastafel untuk cuci muka dan gosok gigi, lalu memesan sarapan pagi. Sarapan pagi terdiri dari dua lembar roti bakar polos, sebungkus selai jeruk, selembar ham, satu telor ceplok, tiga batang kecil sosis dan tiga iris apel. Lumayan buat ganjal perut. Sementara pemandangan di luar masih menunjukkan pepohonan, bukit, dan sawah. Gak terlalu btertarik, soalnya di Jawa juga banyak 😛
Jam 7 pagi sudah terdengar suara dari berth atas. Rupanya Mo Khom dan ibunya sudah bangun. Jam 8 petugas datang menghampiri, menanyakan apakah tempat tidur mau dilipat. Karena saya pikir perjalanan sudah dekat, ya saya setuju saja untuk lipat kursi. Saya dan pasangan ibu anak tersebut kembali duduk berhadapan, dan kembali ditingkahi ocehan nonstop bocah itu X( Benertan non stop. GAK PERNAH berhenti sama sekali. Saat narik napas aja dia masih ngoceh.
Saat melintasi satu stasiun, saya membaca daftar stasiun yang dilewati kereta menuju Bangkok.
Loh… Kok jam segini masih di stasiun A? Saya telusuri lagi timetable dan memperkirakan bahwa di saat kami semestinya sudah tiba di Bangkok, ternyata kami masih….4 jam perjalanan jauhnya dari Bangkok. Yaelaaa parah amat sik telatnya :((
Dan saya makin setres dong denger ocehan bocah di depan saya. Akhirnya saya ke gerbong restorasi, ngopi. DI gerbong ada delapan orang bule terbagi dua meja. Saya duduk membelakangi mereka. Tidak lama saya mendengar keributan di salah satu meja. Tampaknya satu remaja bule itu keberatan dikenai biaya penuh untuk paket makan pagi sementara ada bagian yang tidak dia ambil. Perdebatannya lumayan sengit. Petugas dan pelanggan sama-sama keukeuh. Kalo kata saya sih, salah sendiri gak ngambil full aja, trus yang gak dimakan kasih ke temennya 😛 Gak ngerti pemecahannya gimana, tapi melihat kadar kesel si bule, kayaknya dia tetep harus bayar penuh.
Balik ke gerbong saya melewati mereka. Bule tadi masih ngomeeeel aja XD dia ngomel di lorong sambil beresin tasnya yang nyaris setinggi saya. Saat melewati mereka, gak sengaja saya kesandung tali ranselnya, reflek saya bilang, “Ooops, sorry about that.”
Tapi kayaknya dia gak denger dan nyangkain saya penduduk lokal. Dia bilang, “Yeah yeah just step on my bag and walk away you weird locals.”
Wogh, ngajak berantem.

Saya puter badan, dan saya bilang, “Sorry, I’m not one of the locals unfortunately. I am from Indonesia, and I have apologized for stepping on your backpack, which if you’re not too busy complaining about the locals, you might have heard.”
Merah booook mukanya :)) Entah karena marah atau tengsin, saya gak ambil pusing. Saya langsung pergi. Males ngurusin turis cemen tukang ngambek kayak gitu.
Karena sumpah saya stres denger suara Mo Khom, si bocah yang duduk di depan saya, saya pindah gerbong sekalian XD. Untungnya ada gerbong yang tempat tidurnya masih tersusun. Saya masuk aja ke situ, tutup hordeng. Tidur lagi XD
Saya terbangun menjelang jam 2 sore, saat itu kereta sudah mulai memasuki wilayah pinggiran Bangkok. Kereta memasuki stasiun Hua Lamphong tepat jam setengah 3 sore.
Dari situ saya langsung pesan tiket untuk pergi ke Nong Khai tanggal 11 dan tiket balik ke Haad Yai tanggal 28.
Ternyata Eriko, host saya dari CouchSurfing.org baru bisa ketemu sekitar jam 6 sore. ya sudah saya jalan ke Chatuchak Weekend Market aja dulu. Rame! Banget! Gede! Banget! Kalap sekalap-kalapnya liat babi panggang di mana-mana :))
Saya gak lama di Chatuchak. Panas dan bising. Ditambah bahu saya udah mulai pegal bawa ransel. Jam 5 saya kembali menaiki MRT menuju Lumpinee Park. Taman terbesar di Bangkok. Lalee yang menyarankan saya berkunjung ke sana. LUmpinee Park ini kalau pagi dan sore dipakai untuk tempat jogging, latihan tai chi, meditasi, atau piknik. Terutama di Sabtu dan Minggu.
Jam 6 kurang saya menaiki MRT menuju stasiun Lat Phrao untuk menemui host saya.
Malam ditutup dengan makan mie goreng, dan ….. ES KRIM MAGNUM! Yaelah di Bandung gak dapet-dapet, sekalinya dapet malah di Bangkok :)) Harganya beda 2 ribu lebih mahal di sini lah kira-kira.

SEAtrip Day 5: Menuju Haad Yai (lagi)

Karena sudah pernah menjalani, saya tidur aja sepanjang jalan. Bangun sekitar jam 8 ketika hampir tiba di Padang Besar Border. Saya berkenalan dengan Yarkha dan Felix, dua pasang kekasih dari Jerman. Yarkha sangat ramah dan gemar ngobrol, sementara Felix walaupun sama ramahnya lebih banyak diam. kami saling bertukar pengalaman perjalanan. Mereka akan menetap di Phuket selama tiga minggu. Ini adalah perjalanan mereka yang ke tiga ke Thailand. Orang bule kayaknya seneng banget ya sama Thailand 🙂
Yarkha juga bercerita tentang OktoberFest. Festival bir tahunan Jerman yang beken itu. Dia bilang, kalau mau ke Jerman dan datang ke OktoberFest, jangan dateng bulan Oktober justru. Datengnya pertengahan September. Karena OktoberFest justru diadakan mulai pertengahan September hingga awal Oktober. Bukan sepanjang Oktober.
Kami berpisah sejenak saat proses imigrasi. Saya sempat mengobrol dengan salah satu petugas imigrasi yang mengenali saya, “Hey, weren’t you here the other day?” Saya nyengir aja. Kami kemudian mengobrol tentang ketidakberuntungan saya yang salah beli tiket waktu itu, hingga perjalanan dia ke Indonesia. Ke mana? Bandung dong XD
Karena kereta baru akan kembali sekitar satu jam lagi (tukar lokomotif katanya sih) saya naik ke atas, ke kafetaria kecil untuk sarapan. Karena terletak di perbatasan, bisa bayar pakai RM atau THB. saat sarapan saya ngobrol dengan dua orang warga Malaysia. Kedua bapak ini membawa rombongan ibu-ibu untuk berwisata ke Haad Yai. Saat tahu saya dari Indonesia, mereka juga bercerita tentang kunjungan mereka beberapa kali ke Indonesia. Ke Bali, jakarta, dan…. BANDUNG! XD
Sekitar sejam kemudian lokomotif datang. Saya langsung naik ke gerbong. Perjalanan dilanjutkan tanpa hambatan ke Haad Yai setengah jam kemudian.

SEA trip Day 4: Kuala Lumpur. Again.

Baru jam setengah tujuh pagi waktu KL, dan udah ada aja yang mau scamming. Mendadak cowok lusuh berwajah semi india duduk di sebelah dan tau-tau nanya yang intinya apakah saya bisa berbahasa Melayu. Saya bilang mungkin. Tau-tau dia nyerocos soal baru keluar dari penjara dan butuh uang, cukup RM1 saja. Saya mendadak berasa di Jakarta lagi di mana sering di angkot tau-tau naik orang berbaju lusuh dan punya cerita yang sama. Saya tolak dengan halus dengan mengatakan bahwa saya sendiri baru kehilangan tiket (ya…in a way kan emang gitu ceritanya…). Untungnya orang tadi tidak maksa. Kalau maksa ya paling saya teriak-teriak aja sih 😛

Mendadak inget kalau di KL Sentral ini katanya ada shower room alias bilik mandi. Saya pikir kali aja bisa menghapus kekesalan karena kesalahan bodoh yang saya lakukan kemarin dengan mandi. Sebelumnya saya mampir dulu ke loket KTM Antarabandar untuk membeli tiket ke Hat Yai (lagi) Hiks….. Melayang RM48.

Kemudian saya turun ke level 1, berbelok ke kanan, belok kanan lagi, kemudian belok kiri dan mengikuti petunjuk arah yang tertera di dinding. Eh ternyata bener ada bilik mandinya.

kamar mandinya ada di gang masuk di sebelah ujung tumpukan kardus.

Ada beberapa harga berbeda bila kita butuh peralatan mandi layaknya handuk dan sabun. Tapi karena saya sudah bawa semuanya, saya hanya perlu fasilitas mandi seharga RM5. Saya diberi kunci untuk ruang gantinya. Sempat mengalami kesulitan saat hendak mengunci pintu, hingga kemudian salah satu petugas menghampiri saya untuk membantu.

Dia mengatakan supaya saya membuka semua pakaian dan langsung libetan handuk menuju tempat mandi, supaya pakaian saya tidak basah. Dia juga menawarkan untuk menguncikan pintu saat saya mandi. Saya yang dasarnya curigaan, kekeh tetep mandi dengan pakaian lengkap dan baru akan melepasnya di ruang shower, juga kekeh nungguin dia ngunciin pintu ruang ganti dan membawa kuncinya ke ruang shower sekalian setelah dia selesai menguncikan. Mungkin petugas tersebut sebenarnya memang bermaksud baik, tapi berada di negeri orang dan sendirian, saya tidak berani ambil resiko.

Updated:

Yak, jam delapan pagi dan saya masih punya 12 jam. Tadinya sih mau mampir2 ke mana dulu, tapi kesel akibat salah beli tiket itu masih rada membekas di hati, jadinya saya males ke mana-mana. Nongkrong bolak-balik minta listrik dan wifi di dekat loket penitipan barang. Menjelang tengah hari, salah satu petugas yang saya temui di shower room melewati saya. Rupanya dia masih mengingat saya.

“Hey Nita, what are you still doing here?” sapanya ramah

“I am waiting for my train to Haad Yai.”

“Tonight you come down to shower room lah, you can have shower again, don’t worry.”

Saya sih cengar cengir aja. Kok rasa agak gak enak denger orang nyuruh saya mandi 😀 Suudzon aja sih, tapi namanya di negara orang ya mesti hati-hati juga.

Yah akhirnya seharian saya jadi mirip Tom Hanks di The Terminal, mondar mandir gak keruan.

Menjelang jam 5 sore, sehabis dari toilet saya melangkah ke tempat saya biasa ngamprah. Udah siap nih, colok kabel laptop, buka laptop, duduk di lantai. Baru lima menit duduk, ada petugas yang nyamper.

“Cik, can not use this,'” katanya. Saya bengong. Heh? Kemaren2 gak papa. Tapi saya nurut aja sih. Beberes sambil bilang makasih, pindah ke KFC, nyolok di sana. Kayaknya saya keseringan nongkrong di titik tadi, mereka jadi gerah liatnya XD

Jam 6 sore, ada yang manggil saya. Awalnya saya sih cuek aja, lah perasaan gak ada kenalan juga di sini. eh ternyata bapak petugas yang tadi nyuruh saya mampir buat mandi nyamperin saya.

“Hey, I looked everywhere for you. Come come, you can take shower now.”

Waduh… nolaknya gimana? Akhirnya saya ikut turun aja ke tempat mandi sambil mikir ini enaknya gimana ya..

Di tempat shower saya diberi tempat ganti yang sama, kemudian beliau menunggu di luar. Akhirnya saya belagak mandi aja. Buka keran shower sedikit, trus lama-lamain sambil basahin rambut dikit. Abisnya gak enak gitu perasaan.

Selesai “belagak” mandi, saya keluar. Si bapak masih menunggu dengan setia di kursinya. Rada merasa bersalah juga sih karena udah curigaan. Akhirnya kami jadi ngobrol-ngobrol. Ternyata beliau pernah ke Bandung. Lembang dia bilang. Ih banyak bener orang Malaysia yang main ke Bandung XD Sekitar jam 7an saya pamit untuk naik ke peron. Beliau meninggalkan nama dan nomor teleponnya. Katanya kalau balik ke Kuala Lumpur lagi, bisa hubungi dia nanti dia ajak muter-muter. Baiklah 🙂

Saya balik ke KFC, modal beli kentang RM4 nungguin kereta ke Haad Yai.

Keretanya dateng jam 21.15 tepat. Berangkat deh.