Sampah tidak selamanya tak berguna

Pernah mengamati seberapa banyak sampah yang kita hasilkan per hari? Sampah pribadi maupun sampah rumah tangga, dan apa saja di dalam sampah tersebut? Saya, jarang. Nyaris gak peduli. Sampah ya buat saya di buang, sudah tidak bermanfaat. Ngotor-ngotorin aja.

Sampai kemudian saya berkunjung ke DESA CILENGKRANG RW 17 KAMPUNG JATI BARU di Kabupaten Bandung, salah satu binaan CSR dari Indocement. Apa istimewanya Rukun Warga yang satu ini? Program Unggulan di Desa Cilengkrang yaitu pengelolaan sampah mandiri, gerakan wanita tani, serta urban farming. Selain itu juga terdapat sekolah sampah, sebuah sekolah yang
menginspirasi masyarakat umum dalam menangani sampah rumah tangga secara kreatif. Iya ada sekolah sampah di tempat ini loh, yang pertama pula di Indonesia.

Kampung ini menjadi istimewa sejak tahun 2010 di bawah binaan ketua RW Bapak Wawan dan menjadi salah satu angkatan pertama Program Kampung Ramah Lingkungan Indocement. Awalnya karena Pak Wawan sering melihat banjir melanda Kampung Jati Baru, yang disinyalir adalah akibat warga sering membuang sampah sembarangan. Kesal, akhirnya Pak Wawan mengambil tindakan. Sebagai ketua RW, jika ada masyarakat yang meminta tanda tangan untuk pengurusan dokumen, Pak Wawan meminta mereka untuk ikut serta dalam program pelestarian lingkungan. Jika menolak berpatisipasi pengurusan dokumennya akan ditolak. Nah loh, mau gak mau warga nurut kan ya XD

Pak Wawan ketua RW 17 yang kemudian menjadi local hero Indocement berkat jasanya membawa kampung Jati Baru mengelola kebersihan lingkungan hidup

Ternyata efek “kegalakan” Pak Wawan ini berjangka panjang dan cukup drastis. Sampah mulai dikumpulkan di satu tempat khusus, kemudian dipilah dan dipilih sesuai jenisnya. Sampah dapur, sampah plastik, sampah kertas, sampah elektronik, sampah kain, dll. Lalu bingung mau diapain ini semua sampah? Akhirnya tercetus ide, diolah kembali menjadi barang siap pakai sekaligus melestarikan lingkungan. Akibatnya, RW 17 Kampung Jati Baru Desa Cilengkrang jadi tampak sangat-sangat bersih. Nyaris tidak terlihat sampah selain sampah daun-daun kering.

Bersih banget kan

Tidak ada sampah yang siasia di sini. Bekas bungkus minyak goring jadi pot, sampah organic jadi pupuk, sampah Styrofoam yang paling bandel aja bisa jadi dekorasi rumah.

Selain mengelola sampah, warga juga didorong untuk bercocoktanam sendiri, dan mengolahnya menjadi makanan yang bisa dikonsumsi pribadi maupun dijual sebagai camilan. Menurut Bu Lilis salah satu kader lingkungan mereka mengadakan pasar mingguan setiap Rabu pagi, supaya warga bisa menjual hasil kebun/taninya ke warga lain. Swasembada pangan dalam skala menengah. Keren!

Camilan ini dibuat dari hasil kebun warga yang kemudian dijual sebagai oleh-oleh buat para pengunjung

Bu Lilis di Posyandu RW 17 Kampung Jati Baru, menceritakan pengalamannya mendatangi rumah warga untuk “jemput bola” memberikan dan mengajak warga untuk hidup sehat dan berkontribusi terhadap lingkungan sekitar

Wait, apa sih local hero? Local Heroes merupakan masyarakat mitra Indocement yang telah berhasil mengembangkan usahanya menuju kemandirian, yang pada gilirannya mereka juga berperan dalam
mengembangkan masyarakat lain di sekitarnya. Indocement membentuk Local Hero sebagai strategi khusus dalam bermitra dengan masyarakat. Hingga akhir 2017 terdapat 149 local hero yang tersebar di berbagai wilayah, khususnya di sekitar lingkungan operasional perseoran (desa mitra sekitar pabrik, terminal semen). Lumayan ya jumlahnya. Nah Pak Wawan dan Bu Nining ini diangkat sebagai salah satu local heroes di area Kabupaten Bandung.

Mengapa DESA CILENGKRANG RW 17 KAMPUNG JATI BARU menjadi salah satu binaan desa mitra CSR Indocement? Karena ada gudang semen Indocement di Kabupaten Bandung. Indocement memiliki komitmen untuk bekerja sama menjaga lingkungan sekitar di manapun mereka ada pabrik maupun gudang. Keunikan CSR di Bandung, terdapat program CSR yang lokasinya berjarak kurang lebih 30 kilometer dari operasional Indocement, tepatnya di Desa Cilengkrang. Hal ini diutarakan oleh Bapak Kuky Permana selaku Direktur Independen Indocement dan Bapak Sahat Panggabean selaku Manajer CSR Indocement.

Ngobrol santai bersama Pak Kuky Permana dan Pak Sahat Panggabean mengenai program #GreenIndocement

Menurut Pak Kuky, dalam berbisnis apapun ya pasti ada aja masalah yang dihadapi, namun bukan berarti Indocement melupakan komitmen mereka di bidang CSR (Corporate Social Responsibility). Semua program CSR disesuaikan dengan kebutuhan, jadi gak semua berupa dana. Pak Kuky memberi contoh longsor yang pernah terjadi di sebuah desa. Desa tersebut sudah memiliki dana sendiri, namun tidak tahu bagaimana cara menangani bencana. Indocement memberi bantuan berupa alat dan pengetahuan teknis penanganan bencana.

Untuk Desa Cilengkrang sendiri mereka memberi bantuan fasilitas umum seperti Posyandu, Perpustakaan, pendidikan pengolahan sampah tingkat lanjut.

Posyandu Desa Cilengkrang RW 17 Kampung Jati Baru

Perpustakaan ini baru dibikin, jadi bukunya belum banyak. Sebagian besar buku adalah sumbangan dari Indocement. Boleh loh kalau kita mau nyumbang buku bacaan apalagi bacaan anak. Bisa kontak Ibu Nining, istri Pak Wawan, di 081221933930 untuk janjian pengaturan pengirimannya.

Selain di Kabupaten Bandung (3 desa mitra), Indocement juga memiliki proyek CSR di tempat-tempat lain. Dari data yang saya dapat: Citeureup 12 desa mitra, Palimanan 6 desa mitra, Tarjun 10 desa mitra, Lombok 5 desa mitra, dan Cigading 3 desa mitra.

Berbagai kegiatan warga menghijaukan lingkungannya

Kunjungan saya ke Desa Cilengkrang RW 17 Kampung Jati Baru kemarin membawa pencerahan baru ke saya, bahwa sampah tidak selamanya buruk. Kalau kreatif, malah bisa membantu menghijaukan dan mempercantik tempat tinggal. Jadi, mau kamu apakan sampahmu?

Ada beton di mana-mana

Pada masanya, saya sering takjub lihat betapa cepatnya infrastruktur di jakarta dibangun dan selesai. Ya saya bukan ahli konstruksi, cuma bikin underpass atau jalan layang hanya dalam hitungan bulan itu buat saya ajaib. Saya bingung itu kok cepet amat betonnya kering. Nah beberapa hari yang lalu, terjawab sudah kebingungan saya.

Ternyata ada teknologi yang bisa membuat adonan beton cepat kering, dalam waktu 6-12 jam. Namanya Fastcrete. Fastcrete ini diproduksi oleh PT PionirBeton Industri (Pionirbeton/PBI), salah satu anak perusahaan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. (“Indocement”)

Tahu dari mana, Nit? Nah ini saya dapat informasinya ketika berkunjung ke salah satu batching plant PBI di Jakarta, tepatnya di daerah Kasablanka. Batching plant itu apa? batching plant merupakan tempat mencampur atau memproduksi bahan baku beton cair siap pakai dalam skala besar.

PT Pionirbeton Industri sendiri bermula pada tahun 1996 dengan nama PT Pioneer Beton Industri, sebuah perusahaan patungan gabungan (joint venture) antara PT Superbeton Perkasa Industri anak perusahaan dari PT Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk. dengan Pioneer International Holding Pty Limited dari Australia.

Pada tahun 2002 PT Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk. mengakuisisi 100% perusahaan ini dan menjadikannya sebuah badan usaha perseroan terbatas serta mengganti nama perusahaan menjadi PT Pionirbeton Industri.

Lebih dari 20 tahun berkiprah di Indonesia menjadikan PT Pionirbeton Industri sebagai perusahaan produsen beton terbesar di Indonesia yang memiliki 33 Batching Plant tersebar di seluruh Jawa dan Bali dengan kapasitas menghasilkan 3,500 m3 beton pada setiap hitungan jam.

Di bawah pengawasan Heidelberg Competence Center Readymix (CCR) wilayah Asia Pasifik berdomisili di Singapore, PT Pionirbeton Industri selalu berupaya mempertahankan posisi terdepan pada industri ini dengan senantiasa bergerak secara dinamis melakukan pengembangan berkelanjutan yang mengedepankan kualitas baik dari segi sumber daya manusia maupun pemanfaatan teknologi serta secara konsisten melakukan penerapan manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), manajemen mutu ISO 9001 dan manajemen lingkungan ISO 14001.

Di batching plant, semen jenis OPC (Ordinary Portland Cement) dicampur dengan pasir, batu, dan air dalam takaran tertentu untuk menghasilkan berbagai macam beton. Salah satunya Fastcrete tadi.

Di batching plant ini saya baru tahu bahwa pembuatan beton cair ini wajib memakai air layak minum, jadi gak sembarangan air. Buat apa? Ya supaya mutunya terjaga. Dan juga pakai…. es batu. Untuk mencegah kenaikan suhu beton cair selama pengadukan dan perjalanan dari batching plant ke lokasi tujuan. Kalau suhunya panas, betonnya gampang retak. Bahaya kan.

Nah dari batching plant, kami sempat mampir ke proyek Menara Jakarta di daerah Kemayoran. Rencananya sih mau liat proses pengecoran beton, tapi ternyata sudah selesai jadi kami gak jadi masuk.

Proyek Menara Jakarta ini terletak di Kemayoran, dekat dengan PRJ Kemayoran, tepatnya di Jln. H. Benyamin Sueb dengan developer proyek ini adalah Agung Sedayu Grup.

Proyek yang dibangun adalah gedung Superblock dengan enam tower di area seluas 4 hektar mulai dibangun pada Agustus 2017 dengan rencana selesai 2020. Kebutuhan betonnya sebanyak 240.000 m3 dan sampai dengan Nov 2017, Pionirbeton sudah memasok 25.000m3 beton siap-pakai.

Kemudian kami lanjut ke Bandara Soetta mengunjungi proyek lainnya, yaitu Automated People Mover System (APMS) Skytrain (Kalayang Bandara Soekarno Hatta).

Perkeretaan bandara ini mulai dari Railink Stasiun BNI City, Jakarta sampai Stasiun Soetta, Cengkareng, dilanjut Kalayang ke semua terminal, dan pengerjaan betonnya dilakukan oleh PBI.

Kalayang melayani penumpang ke semua terminal, yaitu terminal 1, 2, dan 3. Kemrin kami menaiki Kalayang dari stasiun Railink menuju Terminal 1 untuk menjajal fasilitas terbaru Bandara Soetta tersebut.

Seneng banget ada kereta ini, perpindahan antar terminal jadi mudah. Oh ya, kalau Railink ada kursi duduk dan dikenakan biaya Rp 70.000/orang sekali berangkat, Kalayang ini gratis dan tidak ada kursinya.

Proyek APMS ini merupakan Kerjasama Operasi (KSO) Wijaya Karya – Indulexco yang dimulai pada 2016 dan berakhir pada Q1 2018. Volume yang dipasok mencapai 43,000 m3. Banyak ya!

Dengan proyek sebesar ini kira-kira bagaimana inisiatif mereka dalam mengurangi limbah di lingkungan sekitar?

Ternyata banyak juga yang dilakukan, antara lain:

  • Setiap truk mixer yang keluar batching plant dicuci untuk menghilangkan sisa material produksi beton siap-pakai agar tidak tercecer di jalan atau tempat lain;
  • Corong truk mixer (tempat keluarnya produk beton siap-pakai) dilengkapi dengan penutup untuk menghindari tercecer sisa produk dijalan atau yang lain;
    Storage bahan baku beton siap-pakai di batching plant dilengkapi dengan atap untuk menurunkan tingkat penyebaran debu dan melindungi bahan baku dari air hujan.
    Belt conveyor di batching plant ditutupi dengan penutup untuk mengurangi polusi debu dalam transportasi bahan baku ke batching plant
    Sisa beton siap-pakai dikumpulkan di batching plant yang kemudian diambil oleh pihak ketiga (tidak dibuang sembarangan).
    Dilakukan aktivitas penghijauan di kawasan batching plant sebagai sekat alamiah untuk polusi debu dari aktivitas operasional
    PBI melakukan treatment khusus untuk air limbah yang dipakai dalam proses produksi sebelum dibuang.
    Setiap karyawan maupun kontraktor wajib untuk mengenakan alat pengaman diri (APD) dalam aktivitas sehari-hari di batching plant.

Apakah beton PBI ini cuma boleh dibeli proyek besar? Nggak dong. kalau kamu mau pesan beton buat bangun/renovasi rumah juga boleh banget.

Tinggal kontak ke Call Center 08001037632, trus tekan 2 buat beton. Atau kamu anak belanja online, maunya beli online aja? Bisaaa banget. Cuss meluncur ke www.tokotigaroda.com ya.

Yang hangat dan cantik di Cirebon

Mendung dan gerimis kecil menyambut rombongan blogger dari Jakarta, di stasiun Kejaksaan Cirebon setelah menempuh 3 jam perjalanan menggunakan kereta api dari Stasiun Gambir Jakarta. Cirebon yang biasanya panas menyengat terasa sedikit bersahabat di bawah cuaca ini. Ngapain kami ke Cirebon? Hari ini kami akan mengunjungi beberapa lokasi CSR dari PT Indocement Tunggal Prakasa, Tbk. (Indocement) di Kabupaten Cirebon setelah sebelumnya kami mengunjungi yang di Citeureup.

Banyu Panas Palimanan

Pemandian air panas Banyu Panas terletak di Kompleks Pabrik Palimanan, Kabupaten Cirebon. Kurang lebih 30-45 menit perjalanan dari Stasiun Kejaksaan Cirebon. Banyu Panas merupakan salah satu tempat wisata di Cirebon yang cukup ramai dikunjungi oleh para wisatawan berbagai kota terutama yang tidak jauh atau masih berbatasan langsung dengan kota Cirebon, seperti Majalengka, Kuningan, Indramayu dan kota-kota lainnya. Banyu Panas sangat diminati, pada tahun 2016 mencapai rekor tertinggi pengunjung sejumlah 9.500an wisatawan. Letaknya yang berada di pegunungan kapur Gunung Kromong, membuat para wisatawan yang mengunjungi tempat wisata tersebut akan disuguhi pemandangan alam pepohonan yang hijau, juga akan disuguhi warna keabu-abuan dari batuan kapur.

Banyu Panas ini merupakan kontribusi Indocement melalui program CSR mereka, yang diresmikan pada bulan Oktober 2010. Sarana dan Pra Sarana yang bisa dinikmati di lokasi ini adalah:

Kolam pemandian air panas bersuhu 38-40 derajat celcius

MCK dan kamar mandi/bilas

Juga mushalla dan saung.

Banyu Panas Palimanan merupakan air panas yang langsung dialirkan dari mata sumber pegunungan Kromong. Selain kolam pemandian air panas tempat ini juga dilengkapi dengan wahana bermain untuk anak-anak anda. Jadi bisa mengakomodir orang dewasa maupun kanak-kanak.

Harga masuk ke lokasi ini sebesar Rp 10.000/orang, dan bila hendak menikmati kolam pemandian dikenakan tambahan Rp 10.000/orang. Mengingat cuaca Cirebon yang biasanya cukup nyosss panasnya, saya rasa waktu paling baik untuk berkunjung ke sini adalah pagi hari atau sore hari, supaya gak eungap.

Pada tahun 2016, Banyu Panas menyumbangkan pendapatan asli daerah sebesar hingga Rp. 89 juta. Luar biasa ya. Semoga bisa lebih banyak lagi di tahun-tahun berikutnya.

P4M

Selain Banyu Panas, kami juga mampir ke beberapa tempat di Pusat Penelitian, Pelatihan, dan Pemberdayaan Masyarakat (P4M) di antaranya green house, kolam ikan, peternakan sapi, dan kumbung jamur.

P4M ini bertujuan menjadi tepat penelitan dan wirausaha agribisnis sekaligus tempat belajar dan berlatih bagi masyarakat dalam meningkatkan pengetahuan di bidang pertanian, peternakan dan perikanan berlandaskan potensi SDA yang terdapat di sekitar mereka.

Saya sempat mencicipi (2 botol masih dihitung icip kan yaaaa) sirup Rosela yang asam manis segar, keripik singkong dan keripik pisang yang gurih. Teman-teman blogger bahkan memborong berbungkus-bungkus keripik pisang dan keripik singkong tersebut untuk oleh-oleh.

Kampung Batik Tulis Ciwaringin

Perjalanan kami berlanjut ke Kampung Batik Tulis Ciwaringin, yang juga merupakan program CSR PT Indocement Tunggal Prakasa Tbk. Indocement menurunkan bantuan permodalan pada tahun 2005 – 2015. Pelatihan pewarna alamiah untu proses membatik dimulai pada tahu 2009. Batik Ciwaringin memiliki motif khas bernama PECUTAN. Motif ini sudah terdaftar menjadi hak paten pada tahun 2016, jadi yang berhak memakai motif ini secara bebas hanyalah para pengrajin batik yang berasal dari Kampung Batik Tulis Ciwaringin.


Konon, Kampung Batik Tulis Ciwaringin ini bermula dari Desa Babakan Pesantren di Kecamatan Ciwaringin. Selain belajar mengaji, para santri di pesantren Ciwaringin juga belajar membatik yang konon diajarkan oleh istri dari K.H. Mohammad Amin. Semakin lama santri yang belajar di Desa Babakan pun semakin banyak. Sebagian dari mereka adalah santri kalong, sebutan untuk mereka yang mengaji di Desa Babakan pada siang hari saja lalu kembali lagi ke desanya. Para santri kalong ini juga berkontribusi mengembangkan produksi batik di Ciwaringin.

Sayangnya, Batik Ciwaringin sempat mati suri. Popularitasnya kalah jauh jika dibandingkan dengan Kampung Batik Trusmi di Cirebon. Padahal, batik produksi Ciwaringin juga dipasarkan di Trusmi. Baru setelah adanya pengakuan bahwa batik adalah warisan dunia non benda dari UNESCO pada tahun 2009, kejayaan Batik Tulis Ciwaringin kembali dibangun. 

Berlokasi sekitar 30 km dari kota Cirebon, Kampung Batik Tulis Ciwaringin ini mudah dikunjungi. Dibandingkan batik Trusmi, batik Ciwaringin memiliki keistimewaan berupa pembuatannya yang merupakan batik tulis, motifnya yang tidak umum serta warna batik yang lembut karena dihasilkan dari pewarna alami. Sekilas orang awam mungkin akan menilai batik Ciwaringin pudar atau usang namun justru demikianlah ciri khas Batik Ciwaringin.

Pewarnaan batik Ciwaringin dihasilkan dari beragam tanaman yang diolah terlebih dulu, di antaranya batang mangga, indigo, kulit rambutan, serta kulit jengkol. Batang pohon mangga atau kulit rambutan direbus minimal selama 7 jam sampai warna kulit alaminya timbul, disaring, lalu dimasukkan ke wadah yang akan digunakan untuk mewarnai batik.

Meski batik Ciwaringin sudah dikenal, namun pembeli masih sangat terbatas. Mereka kebanyakan berasal dari luar negeri atau konsumen lokal kelas atas. Hal ini kemungkinan disebabkan karena harga batik Ciwaringin relatif mahal, karena proses pembuatannya yang lama dan tidak mudah.

Ketiga program CSR yang kami kunjungi tersebut merupakan kontribusi dari PT Indocement Tunggal Prakasa Tbk bagi masyarakat Cirebon dan sekitarnya. 

Sekitar pukul 6 sore kami kembali ke stasiun Kejaksaan Cirebon, menunggu kereta yang akan membawa kami kembali ke Jakarta. Sebuah perjalanan menyenangkan bersama kawan-kawan yang menyenangkan. Semoga bisa berkesempatan berjunjung ke program CSR PT Indocement Tunggal Prakasa Tbk di lokasi-lokasi lainnya 🙂

Kunjungan ke Sekolah Magang Indocement

PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, adalah salah satu produsen semen terbesar kedua di Indonesia. Selain memproduksi semen, Indocement juga memproduksi beton siap-pakai, serta mengelola tambang agregat dan trass. Indocement berdiri sejak 16 Januari 1985 yang merupakan hasil penggabungan enam perusahaan semen yang memiliki delapan pabrik, Pabrik pertama Indocement sudah beroperasi pada 4 Agustus 1975 (iya, lebih tua dari saya).

Per 31 Desember 2016, Indocement memiliki kapasitas produksi terpasang sebesar 24,9 juta ton semen per tahun. Indocement memiliki 13 buah pabrik, sepuluh diantaranya berada di Citeureup, Jawa Barat. Nah minggu lalu saya berkesempatan mampir ke lokasi di Citeureup bersama beberapa rekan blogger untuk mengunjungi beberapa proyek CSR mereka yang sudah berjalan.

SEKOLAH MAGANG INDOCEMENT

                             

Ibu Dani Handajani, Corporate HR Division Manager Indocement menyambut dan mengajak para blogger berkunjung ke Sekolah Magang Indocement di Citeureup. Sekolah magang ini memberikan beberapa pelatihan seperti pelatihan mengemudi, menjahit, las, tukang bangunan. Pelatihan tiap bidang keahlian waktunya berbeda-beda tergantung kebutuhan. Ada yang cukup 9 hari, ada pula yang butuh waktu hingga dua minggu sebelum peserta pelatihan dianggap lulus.

Sekolah ini terbuka untuk warga di sekitar pabrik dari 12 desa mitra. Indocement bekerja sama dengan kepala desa untuk pemilihan peserta sekolah magang. Prioritas untuk yang muda, usia produktif, dan belum bekerja. Sama sekali tidak dipungut biaya loh.

Sekolah magang yang kami kunjungi hari itu adalah untuk keahlian tukang bangunan. Peserta didik mendapatkan keahlian dasar soal bangunan dengan pelatih yang mumpuni di bidangnya. Salah satu peserta didik, Abdul Adjis, berkata “Kalau dulu saya jadi tukang bangunan gak pakai hitung-hitung angka-angka. Pakai akal sehat aja dikira-kira. Di SMI saya diajarkan buat ngitung-ngitung.” Pak Abdul Adjis bilang sejak lulus dari SMI ini, dia tidak lagi hanya bisa bekerja secara serabutan kalau dipanggil tetangga atau konstruksi kecil. Sekarang beliau sudah bisa bekerja di proyek-proyek besar berkat sertifikat SMI.

Bapak Lukman, salah satu alumni Sekolah Magang Indocement (SMI) bidang keahlian tukang bangunan. Setelah lulus dari SMI, menurut Pak Lukman, pekerjaan datang dengan cepat. “Saya tidak pernah lagi kekurangan pekerjaan,” katanya. Yang lain ada Bapak Budi Hermawan yang adalah salah satu peserta sekolah magang di bidang keahlian las. Setelah lulus ia juga segera mendapatkan pekerjaan sesuai bidangnya.

Bapak Anton Suharyanto, peserta sekolah magang di bidang keahlian tukang las mengungkapkan rasa syukurnya karena sertifikat dari Indocement membuatnya mudah mendapatkan pekerjaan hingga saat ini sudah menjadi pegawai tetap.

Selain melihat ruang kelas dan bertemu para peserta didik, kami juga mengunjungi para siswa sekolah magang yang sedang praktik. Selain teori yang diberikan dalam waktu 1 minggu, peserta juga melalui sesi praktek selama 1 minggu. Peserta sekolah magang mendapatkan pelatihan dasar seperti mencampur semen dan cor beton.

 

GERAKAN MASYARAKAT MANDIRI (GEMARI)

GEMARI mulai aktif di tahun 2009 dan berdiri di atas lahan seluas 1.200 meter persegi. Luaaas. Awalnya GEMARI hanya bergerak di bidang perbaikan motor roda dua (bengkel motor), sekaligus menjadi tempat masyarakat desa mitra berlatih ketrampilan perbaikan motor.

Pada tahun 2012 GEMARI menambah kerajinan tangan “Sang Alam” dari desa Bantarjati sebagai bagian dari mereka. Mereka berlatih mengolah limbah (terutama limbah kayu palet) dari Indocement menjadi berbagai miniatur dan hiasan. Ternyata pelanggan mereka justru lebih banyak dari luar negeri, terutama untuk miniatur pesawat terbang. Beberapa maskapai Timur Tengah menjadi pelanggan mereka.

Tahun 2014, GEMARI menambahkan UMKM ikan hias “Bukit Kapur” dari desa Lulut.

Secara total, GEMARI bergerak di bidang:

  • pelatihan bengkel sepeda motor
  • inkubator plasma bengkel sepeda motor
  • pelatihan dan usaha kerajinan tangan
  • pelatihan dan pengembangan serta usaha ikan hias

Omset rata-rata gemari di keempat bidang tersebut perbulannya kurang lebih Rp 16jt/bln.

Untuk setiap Gemari, Indocement memiliki peran melatih, mempromosikan keahlian alumni, membantu promosi, menggunakan produksi Gemari untuk keperluan Indocement (souvenir), dll.

I-SHELTER

Usai dari Gemari, blogger melanjutkan perjalanan ke I-SHELTER. Di sini, pegawai dan kontraktor Indocement mendapatkan pelatihan soal safety, health, & environment. Nah setelah mendapatkan pelatihan di I-Shelter, karyawan dan kontraktor diharapkan bisa bekerja sesuai standar kerja terkait safety, health, & environment yang ditetapkan oleh Indocement.

“Jadi, `I-SHELTER` bukan sekadar membangun infrastruktur atau monumen fisik, namun lebih dari itu, yaitu membangun budaya, karakter dan menjadi monumen sosial di bidang keselamatan, kesehatan dan lingkungan yang sejalan dengan moto Indocement `Better Shelter for a Better Life`,” kata Direktur Utama Indocement Christian Kartawijaya di Citeurerup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat seperti yang dikutip di sini.
Ketika meresmikan Indocement-Safety Health Environment Learning Center (I- SHELTER), beliau berharap pusat pendidikan dan latihan (Pusdiklat) dengan label dan predikat yang sangat memikat dapat menjadi tempat bernaung dalam membangun budaya keselamatan, kesehatan dan lingkungan.

Di I-SHELTER saya mendapati berbagai peralatan yang menunjang keselamatan kerja dan wajib dikenakan atau dikuasai siapapun yang memasuki wilayah Indocement. Ada alat simulator kendaraan besar juga. Mau nyobain sih penasaran gimana rasanya “mengemudikan” truk, tapi lagi gak dinyalain alatnya XD

Kunjungan singkat kami berakhir menjelang sore. Terima kasih Indocement sudah mengajak kami mampir berkeliling. Semoga ada kesempatan lain untuk melihat lebih banyak ya 🙂

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Rayakan Semangat Sehat Bersama Anlene

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan menghadiri Festival Komunitas 2017 yang diadakan oleh Anlene di Lapangan Gedung Kementerian Pemuda dan Olahraga RI. Kegiatan ini merupakan inisiatif antara PDSKO dan Anlene dalam rangka merayakan Hari Olah Raga Nasional 2017 yang diperingati pada 9 September 2017.

Acara dipenuhi dengan para komunitas olahraga dan kesehatan seperti misalnya Bike2Work, komunitas sepeda onthel, komunitas dansa, komunitas jantung sehat, dan lain-lain. Didukung oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga RI, Festival Komunitas 2017 diselenggarakan untuk mengajak masyarakat Indonesia supaya aktif berolahraga dan menjalani gaya hidup sehat melalui berbagai komunitas olahraga, untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang lebih kuat dan lebih sehat.

Festival Komunitas 2017 ini diresmikan oleh Kepala Bidang Pembinaan Olahraga Massal dan Kesehatan Olahraga Kementerian Pemuda dan Olahraga dr. I Nyoman Winata, Sp.KO ini sejalan dengan misi global World Health Organization (WHO) serta mendukung Gerakan Ayo Olahraga dari Kementerian Pemuda dan Olah Raga dan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) dari Kementerian Kesehatan. Diikuti oleh 1.200 masyarakat dari berbagai komunitas olahraga, penggemar gaya hidup sehat, hadir juga atlet taekwondo Tya Ariestya dan brand ambassador Anlene Titi Rajo Bintang dan Indy Barends yang hadir untuk merayakan semangat hidup sehat dan aktif melalui berbagai kegiatan fisik dan olahraga bersama. Kagum banget lihat mereka lincah bergerak seru-seruan bareng yang hadir di acara. Cantik dan bugar. Pengin deh kayak mereka 🙂

Kepala Bidang Pembinaan Olahraga Massal dan Kesehatan Olahraga Kementerian Pemuda dan Olahraga dr. I Nyoman Winata, Sp.KO mengatakan, “Festival Komunitas 2017 sejalan dengan tema Hari Olahraga Nasional 2017 yaitu ‘Olahraga Menyatukan Kita’, dan hari ini kami mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk menjadikan olahraga sebagai bagian dari gaya hidup. Gaya hidup aktif berolahraga dan sehat dapat dimulai dari lingkup keluarga sampai komunitas yang lebih besar.”

Menurut Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga (PDSKO) dr. Leny Pintowari, SpKO, kesadaran akan gaya hidup sehat dan aktif harus didorong. “Membaiknya kesejahteraan dan teknologi membuat masyarakat kota kurang bergerak. Padahal kurang aktivitas fisik bukan hanya memicu berbagai penyakit, tetapi juga menurunkan produktivitas kerja. Aktifitas  fisik dan olahraga saat ini bukan hanya berguna sebagai pencegahan tetapi juga sebagai pengobatan.”

Sementara itu, Fonterra Brands Indonesia Marketing Technical Advisor Rohini Behl mengatakan,”Anlene percaya bahwa bangsa yang kuat dimulai dengan masyarakat yang kuat. Festival Komunitas 2017 merupakan awal kemitraan Anlene bersama PDSKO yang bertujuan untuk mengajak masyarakat untuk mulai aktif bergerak dan berolahraga melalui komunitas olahraga yang melakukan berbagai kegiatan fisik dan olahraga, tidak hanya selama acara berlangsung tetapi juga secara rutin setiap harinya.”

Festival Komunitas 2017 merupakan bagian dari gerakan Anlene #tetapbisa yang mendorong masyarakat Indonesia untuk memprioritaskan kesehatan dan kesejahteraan mereka dengan menjalani gaya hidup sehat dan aktif, serta mengonsumsi makanan bergizi seimbang, termasuk mengonsumsi susu yang diformulasikan untuk mendukung kesehatan tulang, sendi dan otot secara teratur demi Indonesia yang lebih kuat dan lebih sehat.

Dalam acara Festival Komunitas 2017, peserta dapat mengikuti sesi edukasi kesehatan, move check dan eksperimen age suit dari Anlene, serta melakukan berbagai pemeriksaan dan konsultasi kesehatan yang diberikan secara gratis. Kemarinan di acara ini juga ada penampilan dari komunitas Capoeira Indonesia. Keren banget! Lengkap dengan alat musik dan gerakan bela diri khas capoeira yang mirip tarian. Tahukah kamu, kenapa capoeira ini mirip dangan tarian? Pada abad 16 di masa perbudakan, para budak menyamarkan ilmu beladiri menjadi tarian agar mereka bisa bebas berlatih tanpa ketahuan pemilik mereka.

Ekowisata Mangrove Karangsong – Indramayu

Terletak di desa Karangsong kecamatan Indramayu, Jawa Barat dengan luas sekitar 50 hektar, Hutan Mangrove Karangsong ini mulai dirawat semenjak tahun 2008 dan dijadikan lokasi ekowisata pada tahun 2010-2014 melalui program CSR Pertamina RU IV Balongan.

IMG20170801170231

Perkembangannya yang sangat pesat terlihat dari sekitar 50 ribu pohon mangrove yang ditanam baik secara sengaja maupun dengan sendirinya.

IMG20170801152819

Saat ini kawasan Pantai Desa Karangsong telah dikenal sebagai Pusat Ekosistem Mangrove Karangsong. Kesuksesannya mengubah wajah pesisir pantai Karangsong menjadi daerah ekowisata membuat PT Pertamina (Persero) RU IV Balongan semakin berkomitmen untuk memperluas implikasinya. Tidak hanya perkembangan ekonomi dan peningkatan kualitas lingkungan namun juga memberikan edukasi kepada generasi muda, melalui pengadaan kunjungan ke Ekowisata Mangrove Karangsong, Indramayu ini.

Hanya diperlukan biaya sebesar 15 ribu rupiah/orang untuk menaiki perahu kayu bermotor dan memasuki kawasan ini. Kawasan dibuka jam 9 pagi dan ditutup jam 5 sore. Yang menarik adalah tidak adanya pedagang yang berjualan di dalam kawasan sehingga tumpukan sampah bisa dikurangi. Tempat sampah besar dengan mudah didapatkan di berbagai sudut kawasan yang disediakan untuk pengunjung.

2017-08-14_12-24-34

Oh and did you know bahwa..mangrove bisa dimakan? Saya baru tau hahaha. Sebelum mampir ke Ekowisata Mangrove Karangsong ini kami mampir ke Rumah Berdikari yang menyajikan berbagai olahan mangrove untuk dikonsumsi.

IMG20170801145102

IMG20170801144923

Gak cuma hutan mangrovenya yang cantik di sini.

IMG20170801170030

 

Siapa yang belum pernah ke hutan #Mangrove ?Sempetin deh sesekali, selain nambah wawasan biasanya hutan mangrove itu instagramable banget buat foto-foto tanpa perlu ngeluarin budget besar. Dari pada akhir pekan lo diisi kegalauan, mendingan juga jalan-jalan! Have a great weekend fellas! #Cirebon #Travel 📷: @nitasellya

A post shared by Aryanata Razki (@aryanatar) on

//platform.instagram.com/en_US/embeds.js

A post shared by Rry Rivano (@rryrivano) on

//platform.instagram.com/en_US/embeds.js

Tapi juga, kesukaan saya banget, pantainya <3

 

A post shared by Nita Sellya (@nitasellya) on

//platform.instagram.com/en_US/embeds.js

 

A post shared by Nita Sellya (@nitasellya) on

//platform.instagram.com/en_US/embeds.js

Jadi kapan kita ke sini? 😉

Jelajah Energi ke Cirebon bersama PT Pertamina (Persero)

Pagi saya kemarin dimulai dengan perjalanan menuju Cirebon atas undangan PT Pertamina, bersama beberapa blogger lain dari berbagai kota.   Kami berangkat dengan kereta Argo Muria tepat jam tujuh pagi. Perjalanan ditempuh selama kurang lebih 3 jam.

2017-08-02_06-55-32

Gunung Ceremai menyambut kedatangan kami ke Cirebon

Kunjungan pertama kami adalah ke oil rig PT Pertamina (Persero) EP (Eksplorasi dan Produksi) Asset 3 yang merupakan anak perusahaan Pertamina di bidang Hulu, yang melakukan eksplorasi dan produksi minyak dan gas di wilayah Jawa bagian barat. Total field yang dimilikinya ada 3: di Subang, Tambun, dan Jatibarang. Yang kami kunjungi adalah yang Rig PDSI#38.2/D1000-E di Jatibarang.

2017-08-02_07-55-26

Pertamina EP Asset 3 ini mempunyai total 53 struktur dari 3 lokasi dan memproduksi 10.181 barrel minyal per hari berdasarkan data Juli 2017. Banyak juga yhea. Hasil dari produksi tersebut mengaliri gas kepad 25 industri dalam berbagai bidang seperti industri baja, semen, listrik, dan pupuk di area Jawa Barat. Sementara untuk minyak dialirkan ke 3 kilang yaitu Balikpapan, Cilacap, dan Pekalongan.

Untuk Pertamina Asset 3 Field di Jatibarang ini sendiri mempunyai total 28 struktur dan menghasilkan 6.296 barrel minyak per harinya.

Enough with all the technicality now let’s enjoy the ride. Jatibarang yang panasnya menyengat menyambut kami siang itu. Matahari lagi lucu-lucunya banget. Setiap orang dipinjamkan Alat Pelindung Diri yang terdiri dari baju kerja, helm, dan sepatu boots. Begitu pakai semua itu dan terpapar matahari, saya udah langsung gobyos keringat. Gak kebayang deh rasanya jadi para pekerja pengeboran minyak yang pakai baju itu selama 8 jam kerja tiap harinya.

2017-08-02_07-55-45

2017-08-02_06-26-27

Alat Pelindung Diri yang wajib dikenakan selama bekerja/berkunjung

2017-08-02_06-25-46

Alat pengeboran minyaknya. Tinggi menjulang. Jauh banget tuh dari atas buat ke bawah.

2017-08-02_06-25-30

APD yang wajib dikenakan selama bekerja

Ternyata gak cuma bekerja dan bekerja aja di onshore rig. Disediakan juga alat olahraga, peralatan tenis meja, dan mushola. Lengkap.

2017-08-02_06-24-14

2017-08-02_06-23-58

Bahkan saat istirahat mereka tetap harus pakai baju kerja

2017-08-02_06-23-30

Selain kunjungan ke Rig, kami semestinya sih berkunjung ke RU VI Balongan tapi sudah terlampau sore karena keasikan main di Ekowisata Mangrove Karangsong dan Pantai Karangsong di Indramayu (more on this later). Jadinya kami hanya melihat kemegahannya dari kejauhan saja.

2017-08-02_10-00-31

RU VI Balongan ini merupakan kilang ke enam dari tujuh kilang milik Direktorat Pengolahan PT Pertamina (Persero) yang mulai beroperasi tahun 1994 dan berlokasi di Indramayu dan berbidang usaha di minyak mentah (crude oil). Keberadaannya sangat penting sebagai pemegang keamanan pasokan BBM yang mempengaruhi kegiatan perekonomian daerah Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan sekitarnya.

Fun Fact: Pertamina RU Balongan ini adalah kilang pertama di Indonesia yang menghasilkan bahan bakar ramah lingkungan dengan produk unggulannya: Pertamax, Pertamina DEX, dan Pertamax Turbo. Yang mana yang sering kalian pakai?

Next: Hura-hura di Pantai Karangsong dan Ekowisata Mangrove Karangsong.

Sekarang mau bebongkaran oleh-oleh Cirebon duluuu :*

 

 

 

 

 

 

 

 

Patah hati di Ramadan hari pertama (end)

Many places I have been
Many sorrows I have seen
But I don’t regret
Nor will I forget
All who took that road with me

Night is now falling
So ends this day
The road is now calling
And I must away

Malam itu saya sedang rebahan di sofa kesayangan sambil mengamati keriuhan di linimasa Twitter saya, saat saya mendapat notifikasi dari salah satu WhatsApp Group yang saya ikuti. Ternyata dari Simbok Venus.

Simbok: Teh Nit, Ibu Penyu itu Vindhya ya?

Saya: Iya, Mbok

Simbok: Innalillahiii

Saya: APA? KENAPA?

Saya langsung bergegas membuka tab mention akun Vindhya, dan menemukan tautan ini:

 

//platform.twitter.com/widgets.js

Ada apa ini?! Saya kembali ke group dan mendapati kabar bahwa Vindhya Sabnani alias Ibu Penyu, meninggal dunia.

Siapa Vindhya Sabnani? Ipink, biasa dipanggil demikian, adalah salah satu pejalan yang termasuk sering saya ikuti kabar perjalanannya. Saya kenal Ipink dari Twitter, kemudian ke Instagram, kemudian kami bergabung di dalam satu WhatsApp Group yang sama. Saya bukan kawan dekat Ipink, tapi Ipink selalu membuat semua orang merasa dekat dengannya. Her smile, her laugh, her joyful and kind spirit were contageous.

And now, she’s gone. Heaven has called one of their most precious angels home. Leaving us.

Beberapa hari setelah mendapat kabar tersebut, saya menghadiri pemakaman Ipink. Di hari pertama puasa Ramadan. Saya sudah berjanji, tidak mau menangis. Hati saya sudah patah sekali hari itu, saya tidak mau patahkan lagi.

Ternyata saya salah. Hati saya patah lagi. Bukan, bukan lagi karena kepergian Ipink. Tapi karena selama prosesi pemakaman, saya melihat hati-hati lain yang patah. Terutama hati kedua orang tua Ipink.

Melihat ayahanda Ipink membuka peti jenasah perlahan. Berlutut di bagian kepala. Membisikkan doa bagi anak perempuannya yang terlampau cepat pulang. Melihat kerut wajahnya saat menangis.

Melihat ibunda Ipink, duduk di dekat peti jenasah. Tatapannya kosong menerawang. Seolah tanpa emosi. Tapi sebagai sesama ibu, saya mungki bisa dibolehkan berkata, “I think I kinda know how she feels.” Dukacita yang begitu kuat sampai tidak bisa dibahasakan dalam kata-kata dan mimik wajah.

Pagi ini hati saya patah saat bersalaman dengan seorang bapak dan seorang ibu yang kehilangan putri mereka. “Maafkan salah-salahnya ya, titip doakan terus,” isak sang bapak sambil mengenggam erat jemari saya saat kami bersalaman. “Ipink anak baik, Pak. Semua sayang sama dia,” sahut saya. Ayahanda @vindhyaaa semakin terisak dan saya melangkah menjauh, tak cukup bernyali untuk menemani lebih jauh kepedihan seorang bapak yang kehilangan putrinya. . . “Ini pasti teman traveler juga ya,” sambut sang ibunda saat menyambut salam saya. Ibunda yang selama prosesi pemakaman menatap jasad anaknya ditimbun tanah dengan tatapan menerawang. . . Di sekitar saya air mata tumpah ruah dari para pelayat. Sesekali terdengar tawa saat membicarakan polah Ipink semasih hidup. Ah, mengapa kami harus berkumpul dalam sebuah pemakaman begini. . . Selamat istirahat Ibu Penyu. Semoga kita diperkenankan berjumpa lagi dalam keadaan baik di sebelah sana. Sisakan cerita buat kami yang di sini nanti ya. Kami butuh senyum dan tawamu, tapi surga nampaknya ingin juga menikmatinya. Baik-baik di sana ya. Titip doa buat hati-hati patah hari ini ke Tuhan..

A post shared by Nita Sellya – Gusti (@nitasellya) on

//platform.instagram.com/en_US/embeds.js

They say no parent should bury their children. But then again, life happens.

//platform.instagram.com/en_US/embeds.js

Saat mendapat kabar duka soal mereka, pas banget saya lagi denger lagu ini. Sedihnya makin pol-polan.

PS: Berita tentang kematian Ipink dan Sobar, sahabatnya, dan siapa mereka bagi pariwisata terutama di wilayah Flores, bisa dibaca di sini.

Patah hati di Ramadan hari pertama (bagian 1)

Pagi ini hati saya dua kali patah. Puasa hari pertama dan dihiasi air mata. Patah hati pertama adalah saat saya menyadari hari ini adalah peringatan 11 tahun gempa Jogjakarta 2006. What, 11 years ago already? Saya masih ingat detilnya seperti baru setahun lalu terjadi.

27 Mei 2006 jam 05.45 saya terbangun dengan malas di Hotel Sahid Raya Jogjakarta. Saya baru masuk kamar jam 01.30 dan tidur sekitar jam 02.00. Pagi itu harus bangun pagi-pagi karena agenda perjalanan masih banyak dan dimulai segera setelah sarapan. Saya baru saja meraih ponsel saya untuk menghubungi keluarga di rumah saat saya mendengar suara gemuruh.

Hal pertama yang saya pikirkan, “Merapi!” Karena beberapa hari sebelum kedatangan saya ke Yogyakarta, Gunung Merapi sedang batuk lumayan parah. Gemuruh disusul segera dengan guncangan yang tanpa basa-basi. Televisi di meja kamar bergeser dan bruk! jatuh. Saya membeku. Kawan sekamar saya sudah berteriak menyebut nama Tuhan sambil menangis. Tidak lama kemudian saya melihat gatis tipis retakan muncul di tembok di depan saya. Saya menatap langit-langit kamar sambil berpikir, “Jadi hari ini saya mati?”

Suara gemuruh terasa muncul dari mana-mana dan guncangan belum juga mereda. Saya berusaha bangun dengan sempoyongan. Perjalanan dari kasur ke pintu kamar hotel terasa sangat jauh dan sulit. Setengah perjalanan saya menuju pintu, guncangan dan gemuruh mereda. Di lorong hotel terdengar banyak teriakan doa dan panik.

 

//platform.twitter.com/widgets.js
Segera setelah guncangan selesai, saya kembali ke kamar, masuk ke toilet. Lah ngapain? Pakai beha, lah. Tidur mana enak kalau pakai beha yes, jadi semalem saya copot dulu, pakai daster, dan sebelum keluar kamar baru saya pakai lagi.

Aaanyway. Di halaman hotel sudah berkumpul para tamu. Ada yang berpakaian lengkap, ada yang cuma handukan, ada yang menangis, ada yang bengong, ada yang berdoa. Yang saya salut, pihak hotel dengan cepat menyiapkan teh manis hangat dan mengeluarkan bermacam roti untuk dibagikan ke tamu. Mengurangi shock.

Kami baru berkumpul di halaman hotel mungkin selama 30 menit ketika terdengar teriakan-teriakan dari jalan raya, “AIIR! AIIR! TSUNAMII! TSUNAMIII!

 

//platform.twitter.com/widgets.js
Saya langsung terduduk lemas. 26 Desember 2004 terjadi gempa hebat yang disusul oleh tsunami di Banda Aceh, saya menyaksikan kedahsyatannya melalui televisi. Dan hari ini nampaknya saya akan merasakannya langsung.

Kepanikan pecah. Beberapa orang memanjat atap bus dan pohon, sepasang lelaki dan perempuan jongkok berpelukan sambil menangis, seorang bapak langsung menarik anak dan istrinya memasuki mobil mereka dan bersiap pergi.

Saya? Pasrah. Duduk di parkiran sambil menyalakan rokok dengan gemetar. Udah sih gak bisa berenang, tsunami pula. Mau ngelawannya gimana?

Dan di sini saya menyaksikan kesigapan pihak hotel Sahid Raya Jogjakarta dalam menenangkan tamu. “Tidak ada air, tidak ada tsunami, aman semua!” teriakan para staff hotel bergema di antara kepanikan. Butuh waktu cukup lama untuk bisa meyakinkan kami, terutama karena di jalan raya terlihat orang-orang berlarian panik.

Tour leader rombongan saya menanyakan, apakah tour mau dilanjutkan atau pulang? Kami semua memilih pulang. Perjalanan keluar dari Jogjakarta tidak mudah. Jalanan dipenuhi manusia dan kendaraan. Di sana lah saya mulai mendapat “teaser” hasil gempa tadi. Bangunan runtuh, banyak motor lalu lalang membawa korban berdarah-darah. Saya menutup gorden jendela bus. Hati saya sakit. Saya mau pulang.

Sinyal telepon mati sama sekali, tak peduli mau sebagus apa providernya. Kami pulang dalam diam dan doa. Tidak ada suara lain selain isak tangis dan dengungan doa.

Sampai di Cilacap baru kami berhenti untuk istirahat dan makan malam. Menyaksikan berita televisi dan sms bertubi-tubi yang masuk (sinyal baru ada lagi), kami ternganga. Ratusan (saat itu masih dalam angka ratusan) korban jiwa, entah berala yang kehilangan tempat tinggal dan orang-orang yang mereka cintai. Terbersit dalam pikiran saya, “kami nyaris saja jadi sekadar angka.”

Hingga 2 tahun ke depannya, saya masih terlonjak kaget setiap mendengar suara gemuruh sekecil apapun, merasakan guncangan sepelan apapun. Selama 2 tahun ke depannya saya bersikukuh meletakkan sebuah tas bepergian di sebelah kasur saya di rumah, berisi pakaian, obat, air minum, dan makanan.

Pagi ini, hati saya patah mengingat kejadian tersebut. Mengingat isak tangis supir kantor saya yang istri dan ketiga anaknya (termasuk anaknya yang baru berusia sebulan) tewas tertimbun reruntuhan gempa. Mengingat betapa kecilnya saya sebagai manusia saat berhadapan dengan alam. Mengingat lebih dari 3.000 nyawa yang melayang hari itu.

//platform.twitter.com/widgets.js

(bersambung)

Semarang Menggelora di Semarang Night Carnival 2017

Saya suka banget sama festival. Keriaannya, kemegahannya, keramaiannya, kehebohannya. Seru. Apalagi kalau nontonnya sama teman-teman yang seru juga. Makanya langsung semangat saat dapat kabar bahwa awal bulan Mei 2017 kemarin saya dan belasan blogger lainnya diajak oleh Badan Promosi Pariwisata Kota Semarang (BP2KS) menyaksikan Semarang Night Carnival, dalam rangka perayaan ulang tahun kota Semarang yang ke 470. Wew sudah tua juga ya Semarang ini.

Semarang Night Carnival 2017 adalah SNC yang ke 6, yang pertamanya diadakan tahun 2011 dan langsung menyedot banyak pengunjung dari berbagai kota bahkan mancanegara. Sebagian kecil keriaannya bisa dilihat di sini:

Tahun ini Semarang Night Carnival mengusung tema “Paras Semarang 2017”. Dimulai dari titik nol kilometer Kota Semarang, melewati Lawang Sewu, dan berakhir di Balaikota Semarang. Sejak awal kemeriahannya sudah terasa. Dimulai dari berbagai lagu yang diputar sebagai teman menunggu mulainya karnaval (heeey bikin joget!), kemeriahan hiasan panggung utama, dan wajah-wajah antusias para penonton.

Semarang Night Carnival dibuka oleh Canka Lokananta marching band kebanggan Korps Taruna Akademi Militer Magelang. Testosterone galore! Saya yang tadinya mulai ngantuk karena nunggu acara yang rada ngaret mulainya, langsung byur seger dikasih pemandangan dedek-dedek gaagh ganteng main marching band. Apalagi yang pakai baju loreng bersayap dengan penutup kepala berbentuk kepala macan. Sebutannya adalah “Macan Lembah Tidar”. Mereka meliuk-liuk menabuh drum dengan kekuatan penuh nyaris tanpa terlihat lelah. Dan tau gak sih, konon penutup kepala tersebut ada yang berasal dari… kepala macan beneran yang diawetkan. Tapi yang kayak gini biasanya dipakai buat acara super khusus, misalnya tampil di Istana Negara. Selain itu penutup kepala yang dipakai adalah kepala macan artifisial. Tetep aja, macan. Gahar.

Semarang Night Carnival 2017

Salah satu Macan Lembah Tidar memanfaatkan jeda beberapa detik untuk beristirahat sejenak. Sini dek, teteh pijetin *hilang fokus*

para prajurit pun ikut serta memeriahkan acara. #semarangnightcarnival2017 #snc2017

A post shared by Rezky Tirta Aditya (@rezkyimage) on

//platform.instagram.com/en_US/embeds.js

//platform.instagram.com/en_US/embeds.js

Selain penampilan dedek-dedek gagah ini, Semarang Night Carnival 2017 (SNC 2017) juga dimeriahkan oleh penampilan si cantik burung blekok. Bukan, bukan burung beneran. Melainkan penampil memakai kostum yang mencerminkan burung blekok.

//platform.instagram.com/en_US/embeds.js

Semarang Night Carnival 2017

Megahnya kostum burung blekok

Semarang Night Carnival 2017

Kostumnya dikasih lampu jadi pas di tempat yang agak gelap, dia kinclong sekali <3

Semarang Night Carnival 2017

Cantik sekali ya :’)

Selain itu ada beberapa kostum lain yang tak kalah megah dan cantiknya.

Semarang Night Carnival 2017

Kostum kembang sepatu

Semarang Night Carnival 2017

Kostum kuliner. Liat ada potongan gambar ikan di situ. Itu ceritanya bandeng presto yang khas Semarang itu 😀

Semarang Night Carnival 2017

Semarang Night Carnival 2017

Semarang Night Carnival 2017

Semarang Night Carnival 2017

Btw, kostum-kostum ini beratnya bisa mencapai 15 kilogram, dan mereka kenakan seraya berjalan kaki sejauh kurang lebih 1,3 kilometer. Saya bawa beras 10 kilo dari minimarket dekat rumah yang jaraknya sepertiganya aja minta bantuan suami (emang saya pemalas aja sih).

Di Semarang Night Carnival 2017 ini semua penonton tumpah ruah campur aduk bersama-sama tanpa ada pembedaan (kecuali pembedaan tempat duduk VIP, rombongan kami di situ duduknya *penting banget Nit*) sama sekali. Mengingatkan saya akan Indonesia dan keberagamannya 🙂 Apa perlu diadakan festival meriah setiap bulan supaya kita punya kepentingan bersama dan tetap ingat bahwa “Saya Indonesia”, tanpa pembedaan berdasakan faktor apapun ya?

Rombongan blogger #famtripblogger2017 #SNC2017

Buat yang pengin liat lebih jelas kemeriahan Semarang Night Carnival 2017, bisa nonton di video di bawah ini:

Atau di blog rekan-rekan seperjalanan saya kemarin (saya copy paste caption dan linknya dari blognya Zia Ulhaq *salim* 😀

Daeng Ipul Terkadang Lupa Umur, Rere Kuch Hota Hai, Lenny Indonesia Banget, Tari Tak Suka Menari, Titi Parah1ta Yang Entah Mengapa Harus Pakai Angka Satu, Mbak Prima Malu-Malu Tapi Mau Ehm, Richo Tukang Ngancem, Gus Wahid Penikmat Tidur Kesiangan, Timothy Ketumbar Miri Jahe, Oline Yang Suka Kebaca Online, Dewi Yang Datang Sama Suaminya, Dimas Suyatno Yang Kok Dipanggil Yatno Dan Ternyata Suaminya Dewi, Wira Pengagum Si Rambut Panjang, Pungky Yang Bangga Berlabel Blogger Desa, Aryan Dramakingqueen, dan Koh Sinyo Penggelar Konser Ngorok.

Photo credit: dokumentasi pribadi, dan Koh Jhon (yang bagus-bagus).